Mengapa Pezeshkian, Qalibaf dan Araghchi Tidak Disingkirkan? Ketika Iran Justru Memiliki Cadangan Pemimpin
SOROTAN PUBLIK – Di tengah konflik Amerika Serikat–Iran yang terus memanas, muncul satu pertanyaan strategis: jika Washington dan Tel Aviv benar-benar ingin melumpuhkan struktur kekuasaan Iran, mengapa sejumlah figur penting seperti Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tetap menjadi bagian dari ruang politik dan diplomasi?
Jawabannya tidak sesederhana soal perang atau damai.
Laporan yang dikutip ABC dari Reuters menyebut bahwa Israel sebelumnya memiliki koordinat Qalibaf dan Araghchi. Namun, sumber Pakistan yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Amerika Serikat meminta Israel tidak menyingkirkan keduanya karena jika mereka ikut terbunuh, tidak akan ada lagi pihak yang dapat diajak bernegosiasi.
Di titik inilah paradoks perang Iran terlihat.
Di satu sisi, Presiden Donald Trump menggunakan tekanan militer dan ekonomi yang sangat keras terhadap Tehran. Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada September 2026, Trump bahkan mengancam Iran dengan kehancuran apabila tidak tercapai kesepakatan. Pada saat yang sama, Trump juga mengatakan kesepakatan diplomatik masih mungkin dicapai.
Artinya, menghancurkan kemampuan lawan berperang tidak otomatis berarti menghilangkan seluruh ruang negosiasi.
Justru dalam konflik berkepanjangan, keberadaan figur yang masih mempunyai kewenangan politik dan saluran diplomatik dapat menjadi salah satu instrumen untuk mencegah perang berubah menjadi konflik tanpa jalan keluar.
Iran sendiri masih memperlihatkan pola yang sama. Pada September 2026, Tehran kembali menyampaikan proposal melalui mediator untuk membuka kembali jalur perundingan dan menyelesaikan konflik. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan proposal tersebut menawarkan peta jalan tujuh hari untuk mengakhiri konflik dan mengatur kembali persoalan Selat Hormuz.
Tetapi ada persoalan yang jauh lebih besar.
Apakah figur-figur tersebut benar-benar akan menerima seluruh tuntutan Washington?
Belum tentu.
Bahkan Pezeshkian pada 26 September 2026 mengatakan Iran sudah tidak mempercayai perundingan dengan Amerika Serikat setelah pengalaman sebelumnya, ketika perundingan disusul serangan dan sanksi. Namun, pada saat yang sama, Tehran masih membuka jalur komunikasi melalui Qatar dan Pakistan.
Dengan demikian, negosiasi tidak otomatis berarti Iran menyerah. Negosiasi dapat pula menjadi arena untuk mempertahankan kepentingan masing-masing pihak.
Di sinilah muncul sebuah analisis strategis yang menarik: membunuh seluruh figur yang masih mempunyai kapasitas diplomatik bisa saja justru mempersempit pilihan politik yang tersedia bagi lawan.
Iran memiliki struktur kekuasaan yang tidak bergantung pada satu atau dua orang saja. Pergantian kepemimpinan setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada Februari 2026 menjadi contoh paling nyata.
Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik. Tidak lama kemudian, Majelis Ahli Iran memilih putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru.
Peristiwa itu memberikan pelajaran penting dalam membaca politik Iran.
Pergantian seorang pemimpin tidak otomatis berarti perubahan arah negara.
Bahkan Reuters melaporkan bahwa naiknya Mojtaba Khamenei memperlihatkan bahwa kelompok garis keras tetap mempunyai posisi kuat dalam struktur kekuasaan Iran.
Karena itu, asumsi bahwa menghilangkan figur tertentu akan otomatis membuat Iran lebih mudah dikendalikan perlu dipertanyakan.
Sebaliknya, jika figur yang masih membuka ruang diplomasi disingkirkan, terdapat kemungkinan ruang bagi kelompok yang lebih keras untuk memperoleh pengaruh lebih besar.
Laporan Institute for the Study of War juga menggambarkan adanya perbedaan pendekatan di antara kelompok-kelompok elite Iran. Pezeshkian, Qalibaf dan Araghchi disebut berada dalam kelompok yang lebih mendukung kompromi atau konsesi dibanding faksi yang lebih menolak konsesi. Namun, lembaga tersebut juga menekankan bahwa kemampuan ketiganya mengubah kebijakan Iran terbatas.
Ini membuat posisi ketiganya menjadi menarik secara strategis.
Mereka bukan berarti memiliki kekuasaan tanpa batas.
Mereka juga bukan berarti akan menerima seluruh tuntutan Amerika Serikat.
Namun, mereka mempunyai fungsi politik dan diplomatik yang dapat menjadi kanal komunikasi ketika perang membutuhkan jalan keluar.
Dengan kata lain, mempertahankan seseorang di meja perundingan tidak sama dengan mempercayainya.
Begitu pula membuka negosiasi tidak sama dengan menyerah.
Dan ancaman perang tidak selalu berarti seluruh pintu diplomasi harus ditutup.
Iran dan “senjata” yang tidak mudah dihancurkan
Ada satu persoalan lain yang sering luput dalam membaca konflik Iran: kemampuan regenerasi elite politik dan keamanan.
Iran bukan negara yang hanya memiliki satu figur untuk menjalankan negara. Ketika Ali Khamenei terbunuh, sistem politik Iran tetap berjalan dan segera menghasilkan pengganti.
Mojtaba Khamenei bahkan sebelumnya telah disebut Donald Trump sebagai salah satu kandidat yang mungkin menggantikan ayahnya. Axios melaporkan bahwa Trump pada 5 Maret 2026 mengatakan dirinya perlu terlibat dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya dan menyebut Mojtaba sebagai kandidat yang paling mungkin, sekaligus menyatakan keberatan terhadap kemungkinan tersebut.
Sehari kemudian, perkembangan politik Iran membuktikan bahwa pergantian kepemimpinan memang dapat berlangsung dengan cepat.
Pelajaran strategisnya jelas: menghilangkan seorang pemimpin tidak otomatis menghilangkan sistem yang melahirkannya.
Dalam perang modern, struktur organisasi, kaderisasi, jaringan kekuasaan, institusi keamanan, kemampuan militer dan legitimasi politik dapat menjadi jauh lebih menentukan daripada keberadaan satu individu.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “siapa yang dibunuh”, tetapi juga:
siapa yang akan muncul setelahnya?
Dan apakah sosok pengganti itu akan membuka ruang diplomasi yang lebih luas atau justru mempersempitnya?
Qalibaf dan pesan yang lebih besar
Pernyataan Qalibaf dalam konteks perundingan juga memperlihatkan bahwa Tehran tidak memandang diplomasi sebagai proses satu arah.
Pada Juni 2026, Qalibaf mengatakan delegasi Iran meninggalkan perundingan di Swiss setelah adanya ancaman dari Trump.
Ini menunjukkan bahwa bahkan figur yang menjadi bagian dari proses negosiasi tetap membawa garis merah politik Tehran.
Jadi, keberadaan Qalibaf, Pezeshkian atau Araghchi di meja perundingan tidak dapat dibaca sebagai tanda bahwa Iran siap menerima seluruh tuntutan Washington.
Mereka tetap membawa kepentingan negara mereka sendiri.
Di sinilah perang dan diplomasi bertemu.
Sebuah negara dapat berperang sekaligus bernegosiasi.
Dapat mengancam sekaligus membuka jalur komunikasi.
Dapat menolak tekanan sekaligus mencari jalan keluar dari tekanan ekonomi dan militer.
Karena itu, konflik Iran–Amerika Serikat tidak cukup dibaca dengan logika sederhana bahwa satu pihak ingin menghancurkan dan pihak lainnya hanya ingin menyerah.
Realitasnya jauh lebih rumit.
Jika memang ada alasan strategis untuk mempertahankan sejumlah figur Iran sebagai kanal komunikasi, maka persoalannya bukan apakah mereka akan menuruti seluruh tuntutan Trump. Persoalannya adalah apakah masih tersedia figur yang dapat berbicara ketika kedua pihak menyadari bahwa perang tanpa batas memiliki biaya yang terlalu besar.
Dan justru di situlah paradoks terbesar konflik ini berada.
Kadang-kadang, orang yang masih bisa diajak berunding bukanlah orang yang paling lunak.
Ia bisa saja tetap keras.
Tetapi selama ia masih mau duduk di meja perundingan, pintu menuju penyelesaian belum sepenuhnya tertutup.
Sementara itu, semakin banyak kanal politik yang dihancurkan, semakin sedikit pula pilihan yang tersisa selain eskalasi.
Perang dapat menghancurkan manusia dan infrastruktur. Tetapi menghancurkan satu figur tidak selalu berarti menghancurkan sistem yang berada di belakangnya.
Dalam kasus Iran, perkembangan sejak tewasnya Ali Khamenei menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan memang menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan dalam membaca masa depan konflik.
Dan pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan hanya siapa yang mampu memenangkan satu putaran perang, tetapi siapa yang masih mempunyai jalan untuk menghentikannya.
