Mahasiswa KKN UGM Ciptakan “Bungintimbe WaterSafe”, Alat Pendeteksi Banjir Real-Time di Morowali Utara

0
1788170605131

SOROTAN PUBLIK — Tim mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan inovasi yang ditujukan untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan lingkungan. Kali ini, inovasi tersebut berupa alat pendeteksi banjir bernama “Bungintimbe WaterSafe” yang dipasang di Desa Bungintimbe, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Alat tersebut dikembangkan oleh Muhammad Nadhir Al Ghifari, mahasiswa S1 Teknik Fisika UGM yang tergabung dalam Tim KKN UGM Saba Mortara 2025.

Pemasangan Bungintimbe WaterSafe dilakukan pada 3 Agustus 2025 dengan melibatkan rekan satu tim serta perangkat desa setempat.

Berawal dari Kondisi Banjir Tahunan

Ide pembuatan alat pendeteksi banjir tersebut berawal dari hasil observasi terhadap kondisi masyarakat di Desa Bungintimbe.

Nadhir menemukan bahwa sejumlah warga, khususnya masyarakat di Dusun 3, menjadi kelompok yang cukup terdampak ketika banjir tahunan terjadi di Sungai La.

Kondisi tersebut mendorongnya untuk mengembangkan sistem yang dapat membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai perubahan ketinggian air secara lebih cepat.

“Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan, diketahui banyak warga khususnya di Dusun 3 Desa Bungintimbe yang terdampak paling parah atas banjir tahunan yang terjadi Sungai La,” ujar Nadhir dalam wawancara pada 8 Agustus.

Pantau Ketinggian Air Setiap Lima Menit

Bungintimbe WaterSafe dirancang menggunakan sensor untuk memantau ketinggian air sungai secara berkala.

Sistem tersebut melakukan pengukuran setiap lima menit. Teknologi gelombang ultrasonik digunakan untuk membantu mengukur jarak permukaan air dari sensor sehingga perubahan ketinggian air dapat dipantau.

Data hasil pengukuran kemudian dikirimkan ke database yang terhubung dengan dashboard berbasis website.

Dengan sistem tersebut, informasi mengenai kondisi ketinggian air dapat dipantau melalui dashboard yang dapat diakses masyarakat.

Sistem Peringatan untuk Warga

Salah satu fitur penting dari Bungintimbe WaterSafe adalah sistem peringatan berdasarkan ketinggian air.

Ketika permukaan air Sungai La mencapai ketinggian 180 sentimeter, sistem akan memberikan status “waspada”.

Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan awal bagi masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan ketika potensi banjir mulai meningkat.

“Sistem ini memungkinkan pemantauan kondisi air Sungai La secara real-time tanpa harus menugaskan petugas khusus untuk melakukan pengecekan manual setiap saat,” jelas Nadhir.

Teknologi Sederhana untuk Kebutuhan Masyarakat

Kehadiran Bungintimbe WaterSafe menunjukkan bagaimana pengetahuan mahasiswa dapat diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah.

Pemanfaatan sensor, sistem database, serta dashboard berbasis website memungkinkan pemantauan kondisi sungai dilakukan secara lebih praktis dibandingkan pemeriksaan manual secara terus-menerus.

Meski demikian, sistem peringatan dini seperti ini tetap menjadi salah satu alat bantu mitigasi. Masyarakat tetap membutuhkan informasi resmi dari pemerintah dan pihak berwenang ketika terjadi kondisi darurat.

Inovasi mahasiswa KKN-PPM UGM tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Desa Bungintimbe meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir sekaligus menjadi contoh bahwa teknologi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan lokal.

Bagi warga yang tinggal di wilayah rawan banjir, kemampuan mengetahui perubahan kondisi sungai lebih awal dapat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko dan meningkatkan keselamatan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *