Estafet Rais Aam NU dari Masa ke Masa: Dari KH Hasyim Asy’ari hingga KH Miftachul Akhyar

0
1788170786530

SOROTAN PUBLIK — Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dipisahkan dari kiprah para ulama yang mengemban amanah sebagai pimpinan tertinggi Syuriyah. Dalam perjalanan panjang jam’iyah, posisi Rais Aam menjadi salah satu simbol kepemimpinan keulamaan yang memiliki peran penting dalam menjaga arah moral, keagamaan, dan tradisi NU.

Sejarah kepemimpinan tersebut kembali menjadi perhatian setelah Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 30 Agustus 2026. Melalui mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA), KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Estafet Kepemimpinan Dimulai dari KH Hasyim Asy’ari

Perjalanan kepemimpinan tertinggi NU bermula dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari. Pendiri NU tersebut menjadi satu-satunya tokoh yang menggunakan gelar Rais Akbar, yang menandai posisi khusus dalam sejarah organisasi.

Setelah wafatnya KH Hasyim Asy’ari pada 1947, estafet kepemimpinan diteruskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Ia dikenal sebagai salah satu penggerak utama NU dan turut mengawal organisasi melalui masa revolusi kemerdekaan hingga memasuki periode awal Orde Baru.

Selanjutnya, KH Bisri Syansuri dipercaya memimpin Syuriyah NU pada 1971–1980. Sosok ulama ahli fikih tersebut dikenal memiliki perhatian kuat terhadap penerapan hukum Islam serta pendidikan keagamaan.

Memasuki dekade 1980-an, kepemimpinan Syuriyah NU berlanjut kepada KH Ali Maksum pada 1981–1984. Salah satu periode penting pada masa tersebut adalah penguatan kembali semangat Khittah NU 1926.

Setelah itu, KH Ahmad Shiddiq memimpin pada 1984–1991. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan NU, termasuk dalam perumusan pemikiran yang memperkuat penerimaan Pancasila sebagai asas organisasi.

Dari KH Ilyas Ruhiat hingga KH Sahal Mahfudh

Pada 1991–1992, Prof. KH Ali Yafie sempat menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara Rais Aam. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh KH Ilyas Ruhiat dari Cipasung pada 1992–1999.

KH Ilyas Ruhiat memimpin NU dalam periode yang penuh dinamika, termasuk menjelang perubahan besar politik Indonesia pada akhir 1990-an.

Memasuki era Reformasi, posisi Rais Aam diemban KH Sahal Mahfudh sejak 1999 hingga 2014. Ulama asal Kajen, Pati, tersebut dikenal luas melalui gagasan fikih sosial yang berupaya menjadikan khazanah keislaman sebagai landasan untuk menjawab persoalan sosial kemasyarakatan.

Setelah KH Sahal Mahfudh wafat pada 2014, KH Mustofa Bisri menjalankan amanah sebagai Pejabat Rais Aam pada 2014–2015. Selanjutnya, KH Ma’ruf Amin dipercaya menjadi Rais Aam pada 2015–2018 sebelum kemudian memasuki panggung pemerintahan nasional.

KH Miftachul Akhyar Kembali Dipercaya

KH Miftachul Akhyar mulai menjalankan amanah sebagai Pejabat Rais Aam pada 2018. Pada 2021, ia kemudian dipercaya sebagai Rais Aam definitif.

Kini, Muktamar ke-35 NU kembali mencatat namanya dalam sejarah perjalanan organisasi. Melalui musyawarah mufakat sembilan kiai sepuh anggota AHWA, KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmah 2026–2031.

Ia akan mendampingi KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang dipercaya sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Estafet kepemimpinan para Rais Aam tersebut memperlihatkan panjangnya perjalanan NU dalam menjaga kesinambungan tradisi keulamaan sekaligus merespons perubahan zaman.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya, amanah kepemimpinan NU tidak hanya berbicara mengenai struktur organisasi, tetapi juga tentang ilmu, keteladanan, pengabdian, dan tanggung jawab menjaga kehidupan umat.

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi jam’iyah, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, serta melanjutkan kontribusi NU bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Semoga para masyayikh yang telah mendahului senantiasa mendapat rahmat Allah SWT dan seluruh ulama yang masih mengemban amanah diberikan kesehatan, kekuatan, serta keberkahan dalam menjalankan khidmah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *