Letjen TNI Kunto Arief Wibowo dan Cara Berbeda Menangani Karhutla Kalbar: Bukan Sekadar Memadamkan Api, tetapi Menyelami Akar Masalah
KALIMANTAN BARAT — Ada cara berbeda dalam melihat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Api memang harus dipadamkan, tetapi persoalan tidak selalu selesai ketika asap menghilang dan bara berhasil dikendalikan.
Bagi Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, penanganan karhutla membutuhkan pendekatan yang lebih dalam: memahami kondisi tanah, karakter lahan gambut, lingkungan sekitar, kebutuhan masyarakat, hingga bagaimana mencegah kebakaran kembali terjadi.
Pendekatan tersebut terlihat ketika Kunto bersama Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito turun langsung ke Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (4/9/2026), untuk menerapkan Bios 44 sebagai bagian dari upaya mitigasi karhutla.
Tidak Berhenti Ketika Api Padam
Kalimat sederhana tetapi penting dalam melihat persoalan karhutla adalah:
Memadamkan api menyelesaikan gejala. Mencegah api kembali membutuhkan pemahaman terhadap sumber masalah.
Pendekatan itulah yang tercermin dalam langkah TNI di kawasan gambut Kubu Raya.
Bios 44 diterapkan dengan tujuan membantu membuat kondisi tanah dan gambut lebih lembap serta mengurangi rongga oksigen di lapisan tanah yang dapat menjadi salah satu faktor pendukung munculnya bara di bawah permukaan.
Dengan demikian, perhatian tidak hanya diarahkan kepada api yang terlihat dari permukaan, tetapi juga kondisi lahan yang berada di bawahnya.
Inilah yang membuat penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan mobil pemadam, personel, patroli, atau operasi udara.
Ketika karakter lahannya adalah gambut, persoalannya jauh lebih kompleks.
Api dapat menjalar atau bertahan di dalam lapisan tanah dan menimbulkan tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Kalbar Membutuhkan Strategi Jangka Panjang
Urgensi pendekatan tersebut semakin jelas jika melihat skala persoalan karhutla di Kalimantan Barat.
Kementerian Kehutanan mencatat Kalbar masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla. Pada 4 September 2026, pemerintah melaporkan sebanyak 818 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi secara nasional.
Sebelumnya, data Kementerian Kehutanan yang dikutip detikKalimantan menunjukkan luas areal terbakar di Kalimantan Barat sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai lebih dari 28 ribu hektare.
Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan persoalan sesaat.
Ia merupakan persoalan ekologis yang membutuhkan strategi berlapis.
Pemadaman tetap diperlukan.
Tetapi setelah api padam, pekerjaan belum selesai.
Tanah harus dipulihkan.
Kondisi gambut harus dijaga.
Masyarakat terdampak harus diperhatikan.
Dan penyebab kebakaran harus terus dicari agar kejadian serupa tidak berulang.
Menyelami Persoalan, Bukan Sekadar Memadamkan Api
Pendekatan Letjen Kunto Arief Wibowo memperlihatkan gagasan penting dalam penanganan bencana: jangan hanya berlari mengejar akibat, tetapi cari penyebabnya.
Jika api muncul karena kondisi lahan yang terlalu kering, maka pengelolaan kelembapan menjadi bagian dari solusi.
Jika persoalannya berkaitan dengan tata kelola lahan, maka tata kelola harus diperbaiki.
Jika masyarakat menghadapi kesulitan air ketika kemarau panjang, maka kebutuhan dasar tersebut juga harus menjadi bagian dari respons.
Artinya, karhutla tidak berdiri sendiri.
Ia bersinggungan dengan lingkungan, tata kelola lahan, kondisi sosial masyarakat, cuaca, kesiapsiagaan, hingga kebijakan pemerintah.
Pendekatan seperti inilah yang membuat penanganan karhutla membutuhkan kerja lintas sektor.
TNI Tidak Hanya Berhadapan dengan Api
Operasi penanganan karhutla di Kalbar saat ini melibatkan banyak unsur.
Pemerintah pusat dan daerah, BNPB, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan bekerja dalam satu sistem penanganan.
Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa operasi darat menjadi salah satu fokus utama, terutama untuk menghadapi kebakaran di kawasan gambut. BNPB menyebut dari estimasi 802,17 hektare lahan terbakar yang ditangani dalam operasi tersebut, Satgas Darat telah memadamkan sekitar 429,90 hektare pada 4 September 2026.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi dampak kemarau berupa keterbatasan air bersih di sejumlah wilayah Kalbar. TNI bahkan mengerahkan kendaraan water treatment untuk membantu masyarakat memperoleh air bersih.
Ini menunjukkan bahwa krisis akibat kemarau tidak hanya berbentuk api.
Ada persoalan air.
Ada persoalan kesehatan dan kualitas udara.
Ada persoalan lingkungan.
Dan ada persoalan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Kunto Arief Wibowo dan Filosofi Menyelesaikan Masalah Sampai ke Akarnya
Dari pendekatan tersebut, sosok Letjen TNI Kunto Arief Wibowo dapat dilihat bukan semata dalam konteks seorang komandan yang datang untuk melihat penanganan karhutla.
Yang lebih menarik adalah cara berpikirnya dalam menghadapi persoalan.
Masalah tidak cukup disentuh di permukaan.
Harus dilihat bagaimana masalah itu muncul, apa yang membuatnya terus berulang, dan apa yang dapat dilakukan agar siklus tersebut berhenti.
Dalam konteks karhutla, pendekatan itu berarti tidak hanya bertanya:
“Di mana apinya?”
Tetapi juga:
“Mengapa lahan ini mudah terbakar?”
“Apa yang terjadi di dalam tanah?”
“Bagaimana mencegahnya kembali terbakar?”
“Apa yang harus dilakukan setelah api padam?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa penanganan karhutla dari sekadar respons darurat menuju upaya mitigasi dan pemulihan.
Tantangan Terbesar Adalah Mencegah Api Kembali
Memadamkan kebakaran merupakan pekerjaan yang sangat penting.
Namun ukuran keberhasilan yang lebih besar adalah ketika kawasan yang pernah terbakar tidak kembali menjadi titik api.
Karena itu, pencegahan harus mendapatkan porsi yang sama seriusnya dengan pemadaman.
Langkah penerapan Bios 44 di lahan gambut Kubu Raya merupakan salah satu contoh pendekatan preventif yang sedang diterapkan TNI. Pada saat yang sama, operasi darat, pemantauan hotspot, penguatan kesiapsiagaan, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat tetap diperlukan.
Sebab karhutla tidak bisa dikalahkan hanya dengan satu metode.
Ia membutuhkan kombinasi teknologi, personel, ilmu pengetahuan, pengawasan, pengelolaan lahan, dan partisipasi masyarakat.
Api Bisa Dipadamkan Hari Ini, tetapi Akar Masalah Harus Diselesaikan
Pada akhirnya, pesan terpenting dari pendekatan tersebut adalah bahwa penyelesaian masalah tidak boleh berhenti pada apa yang terlihat.
Api adalah sesuatu yang terlihat.
Tetapi kondisi tanah, tata kelola lahan, kekeringan, perilaku manusia, dan faktor lingkungan merupakan bagian dari persoalan yang berada di baliknya.
Karena itu, ketika Letjen TNI Kunto Arief Wibowo turun langsung menangani persoalan karhutla, pendekatan yang dibangun menunjukkan satu prinsip:
jangan hanya memadamkan api—pahami mengapa api muncul dan bagaimana memastikan ia tidak kembali.
Sebab kemenangan sesungguhnya dalam menghadapi karhutla bukan ketika asap berhenti hari ini.
Kemenangan adalah ketika esok hari masyarakat tidak lagi harus berlari mengejar api yang sama.
Dan untuk mencapai itu, masalah memang harus diselami sampai jauh—hingga ke akarnya.
