Korea Selatan dan Jepang Sepakat Perkuat Hubungan Bilateral di Tengah Ketegangan Regional

0
IMG-20260621-WA0058

SEOUL/TOKYO – Korea Selatan dan Jepang mengambil langkah penting untuk memperkuat hubungan bilateral di tengah meningkatnya dinamika keamanan kawasan Asia Timur Laut. Melalui kerja sama pertahanan, energi, dan dialog strategis yang semakin intensif, kedua negara berupaya membangun fondasi kemitraan yang lebih kuat setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan politik dan sejarah.

Perkembangan terbaru ditandai dengan pemulihan latihan pencarian dan penyelamatan bersama atau Search and Rescue Exercise (SAREX) yang kembali digelar pada 7 Juni 2026 setelah terhenti selama sembilan tahun.

Latihan tersebut berlangsung di perairan sebelah barat Kepulauan Goto, Jepang, dengan melibatkan unsur Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF) dan Angkatan Laut Republik Korea (ROKN).

Dari pihak Jepang, latihan melibatkan kapal perusak Aegis kelas Kongo, JS Kongo, serta helikopter SH-60K. Sementara Korea Selatan mengerahkan kapal pendarat tank kelas Cheon Wang Bong, ROKS Cheon Ja Bong.

Selain operasi pencarian dan penyelamatan, kedua negara juga melaksanakan latihan berbagi data taktis (LINKEX), operasi helikopter lintas kapal, dan latihan manuver bersama yang menunjukkan meningkatnya tingkat interoperabilitas militer kedua negara.

Akhiri Kebuntuan Pasca Insiden Radar

Pemulihan latihan SAREX memiliki arti penting dalam hubungan pertahanan kedua negara. Hubungan militer Jepang dan Korea Selatan sempat memburuk setelah insiden radar pada Desember 2018 yang memicu ketegangan serius antara kedua pihak.

Akibat insiden tersebut, berbagai bentuk kerja sama pertahanan praktis mengalami stagnasi selama bertahun-tahun.

Momentum pemulihan mulai terlihat sejak Dialog Shangri-La 2024 ketika kedua negara menyepakati langkah-langkah pencegahan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.

Perkembangan itu berlanjut pada pertemuan para menteri pertahanan di Yokosuka, Jepang, pada Januari 2026 yang menghasilkan kesepakatan untuk menghidupkan kembali latihan SAREX serta menggelar pertemuan rutin tahunan tingkat menteri pertahanan.

Kedua negara juga sepakat menjajaki kerja sama baru di bidang kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, teknologi pertahanan modern, dan pengembangan sektor antariksa.

Menteri Pertahanan Jepang, Koizumi Shinjiro, menyebut latihan tersebut sebagai awal dari babak baru hubungan pertahanan Jepang dan Korea Selatan.

Kerja Sama Energi Semakin Erat

Selain sektor pertahanan, hubungan ekonomi kedua negara juga menunjukkan perkembangan positif.

Dalam pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dan Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae pada Mei 2026, kedua pemimpin mencapai sejumlah kesepakatan strategis di bidang keamanan energi.

Salah satu poin penting adalah pembentukan mekanisme kerja sama yang memungkinkan kedua negara saling membantu pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) apabila terjadi gangguan pasokan di masa mendatang.

Kesepakatan tersebut dinilai penting mengingat ketidakpastian pasar energi global yang masih dipengaruhi berbagai konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok internasional.

Dorongan dari Dinamika Keamanan Kawasan

Penguatan hubungan Jepang dan Korea Selatan tidak terlepas dari perubahan lingkungan strategis di kawasan.

Program pengembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara masih menjadi perhatian utama kedua negara. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas militer dan kehadiran angkatan laut China di Laut China Timur, Laut China Selatan, serta kawasan sekitar Taiwan turut mendorong perlunya koordinasi yang lebih erat.

Meski tidak secara eksplisit menyebut China dalam berbagai dokumen resmi, kedua negara mengakui bahwa lingkungan keamanan regional semakin kompleks dan membutuhkan respons yang lebih terkoordinasi.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah ketidakpastian mengenai arah kebijakan keamanan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik pada masa mendatang.

Hambatan Sejarah Masih Membayangi

Meskipun hubungan bilateral terus membaik, tantangan besar masih tetap ada.

Sentimen publik terkait sejarah kolonial Jepang di Semenanjung Korea masih menjadi isu sensitif yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kerja sama yang lebih mendalam.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengakui bahwa sejumlah bentuk kerja sama pertahanan lanjutan, termasuk Perjanjian Akuisisi dan Layanan Silang (ACSA), memiliki manfaat strategis yang besar. Namun, penerimaan publik terhadap kebijakan tersebut masih menjadi tantangan karena faktor sejarah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Menuju Kemitraan Strategis Baru

Terlepas dari berbagai hambatan, langkah-langkah yang diambil sepanjang 2026 menunjukkan adanya kemauan politik yang kuat dari Seoul dan Tokyo untuk mempererat hubungan bilateral.

Pemulihan latihan SAREX, peningkatan dialog pertahanan, kerja sama energi, serta pembahasan teknologi masa depan menjadi fondasi penting bagi kemitraan strategis kedua negara.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan keseimbangan kekuatan di Asia Timur Laut, kerja sama antara Korea Selatan dan Jepang kini semakin dipandang sebagai kebutuhan strategis untuk menjaga stabilitas kawasan, memperkuat ketahanan ekonomi, serta menghadapi tantangan keamanan yang terus berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *