KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU Terlama yang Memimpin Selama 28 Tahun

0
1788000396157

Jakarta — Nama KH Idham Chalid tercatat dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu ulama dan negarawan paling berpengaruh di Indonesia. Sosok kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, itu dikenal sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan masa kepemimpinan terlama sejak Indonesia merdeka, yakni sekitar 28 tahun pada periode 1956 hingga 1984.

Menariknya, KH Idham Chalid dipercaya memimpin PBNU ketika usianya masih relatif muda, sekitar 34 tahun. Kemunculannya di pucuk kepemimpinan NU juga menjadi bagian penting dari sejarah organisasi karena menunjukkan bahwa kepemimpinan tertinggi NU tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang kedaerahan maupun garis keturunan.

Ulama dari Kalimantan yang Menjadi Tokoh Nasional

KH Idham Chalid tumbuh dalam lingkungan yang kuat dengan pendidikan agama. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pengembangan ilmu agama dan bahasa sebelum kemudian menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

Keluasan wawasan dan kemampuan berorganisasinya kemudian membawanya memasuki dunia pergerakan nasional. Pada masa perjuangan kemerdekaan, KH Idham Chalid terlibat dalam berbagai organisasi dan aktivitas politik yang berkembang di daerah asalnya.

Kemampuan diplomasi dan kepemimpinannya membuat kiprah KH Idham Chalid tidak berhenti di lingkungan NU. Ia kemudian menjadi salah satu figur penting dalam percaturan politik nasional dan dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis pemerintahan.

Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat serta Menteri Sosial ad interim.

Karier kenegaraannya semakin panjang ketika ia dipercaya menduduki posisi Ketua DPR, Ketua MPR, hingga Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kepemimpinan NU dan Prinsip Egalitarian

Selama memimpin NU, KH Idham Chalid dikenal memiliki kemampuan menjaga komunikasi dengan berbagai kelompok. Kepemimpinannya berlangsung dalam rentang sejarah Indonesia yang penuh perubahan, mulai dari masa demokrasi parlementer, Demokrasi Terpimpin, hingga Orde Baru.

Salah satu warisan penting dari pemikiran KH Idham Chalid adalah pandangan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh keturunan, melainkan oleh amal, pengabdian, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Prinsip tersebut sejalan dengan karakter egaliter yang menjadi salah satu warna penting dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Bagi KH Idham Chalid, kedudukan dan nasab bukanlah ukuran utama kemuliaan seseorang.

Kemampuan komunikasinya juga menjadi salah satu kekuatan yang mendukung kiprahnya di tingkat nasional. KH Idham Chalid dikenal memiliki kemampuan dalam sejumlah bahasa asing, antara lain Arab, Inggris, Belanda, Jepang, Jerman, dan Prancis.

Dedikasi untuk Pendidikan dan Masyarakat

Di luar aktivitas politik dan organisasi, KH Idham Chalid memberikan perhatian besar terhadap pendidikan. Ia mendorong terbukanya akses pendidikan bagi masyarakat, terutama kelompok yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Semangat tersebut antara lain diwujudkan melalui lembaga pendidikan yang dikembangkan bersama lingkungan perjuangannya, termasuk Yayasan Darul Ma’arif di Jakarta Selatan dan Darul Qur’an di Cisarua, Bogor.

Pengabdian KH Idham Chalid berlanjut hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 11 Juli 2010 dalam usia 88 tahun dan dimakamkan di kompleks Darul Qur’an.

Atas jasa dan pengabdiannya bagi bangsa dan negara, pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan KH Idham Chalid sebagai Pahlawan Nasional.

Sosoknya juga dikenang melalui pecahan uang kertas Rp5.000 yang menampilkan wajah KH Idham Chalid. Kehadiran gambar sang ulama pada uang rupiah menjadi salah satu bentuk penghormatan negara terhadap perjalanan panjang pengabdiannya.

Warisan Kepemimpinan KH Idham Chalid

Perjalanan hidup KH Idham Chalid memperlihatkan bagaimana seorang ulama dapat memainkan peran penting dalam kehidupan keagamaan, organisasi, pendidikan, sekaligus kenegaraan.

Masa kepemimpinannya yang panjang di NU menjadi bagian penting dari sejarah organisasi tersebut. Lebih dari sekadar catatan mengenai lamanya seseorang memimpin, perjalanan KH Idham Chalid menunjukkan bagaimana kemampuan berdialog, menjaga persatuan, dan membangun komunikasi lintas kelompok dapat menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan zaman.

Kisah KH Idham Chalid karena itu tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Nahdlatul Ulama, tetapi juga sejarah perjalanan politik dan kehidupan kebangsaan Indonesia.

Bagi generasi setelahnya, warisan terbesar KH Idham Chalid bukan sekadar jabatan yang pernah diembannya, melainkan keteladanan dalam menggabungkan ilmu, kepemimpinan, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen terhadap persatuan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *