KDM Sedang Menawarkan “Islam yang Membumi”
Oleh: Adrian | Perdana.Asia
Ada satu benang merah yang cukup kuat dari pidato KDM di forum KAHMI: Islam jangan berhenti sebagai bahasa langit. Ia harus turun menjadi bahasa bumi. Menurut saya, ini menarik karena KDM bukan sedang mengatakan nilai-nilai Islam harus ditinggalkan demi mengikuti zaman. Justru sebaliknya, nilai-nilai itu harus diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata agar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pidato KDM di acara tersebut saya anggap juga sebagai bantahan KDM yang dianggap sekuler oleh sebagian Islam Politik.
Ia bahkan mengkritik cara berpikir HMI yang menurutnya terlalu sering menggunakan bahasa akademik. Bahasa yang terdengar hebat di ruang seminar belum tentu dipahami oleh masyarakat di kampung. KDM menyebutnya dengan sangat sederhana: “HMI tidak bisa ngomong jeung Mak Icih.”
Nah, di situlah gagasan tentang “Islam yang membumi” mulai terlihat. Islam tidak cukup berhenti sebagai doktrin, diskusi, atau gagasan yang berputar di kalangan intelektual. Ia harus melahirkan kesadaran, perilaku, dan karya yang bisa dirasakan langsung oleh manusia.
Dalam pidatonya, KDM bahkan menyusun semacam rantai: insan akademik → pencipta → karya → pengabdian → lillah. Orang berilmu jangan berhenti menjadi orang berilmu. Kalau sudah memiliki ilmu, harus mampu menciptakan sesuatu yang berguna, entah itu sistem pendidikan, teknologi, energi, arsitektur, karya seni, maupun gagasan baru.
Tetapi karya pun belum selesai. Menurut KDM, semuanya harus “lillah”, diabdikan kepada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. Di titik inilah ilmu dan karya tidak lagi sekadar menjadi alat mencari posisi, jabatan, atau gelar, tetapi menjadi bagian dari pengabdian.
Yang juga menarik adalah cara KDM menghubungkan Islam dengan identitas Nusantara. Ia berbicara tentang tanah, air, udara, dan matahari, lalu mengaitkannya dengan berbagai konsep kebudayaan seperti Tri Hita Karana, sangkan paraning dumadi, tritangtu di buana, hingga papat kalima pancer. Pesannya kurang lebih sederhana: jangan sampai kita bicara pembangunan dan kemajuan, tetapi kehilangan hubungan dengan lingkungan, masyarakat, dan akar kebudayaan sendiri.
Kalau disederhanakan, KDM sedang menawarkan cara membaca Islam yang tidak berhenti di atas mimbar. Islam harus masuk ke desa, birokrasi, pendidikan, teknologi, tata kelola lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Dan yang tidak kalah penting, nilai-nilai itu harus bisa dipahami oleh orang biasa.
Sebab persoalan kita sebenarnya bukan kekurangan orang pintar. Kita justru sering memiliki terlalu banyak orang pintar yang sibuk berbicara satu sama lain, sementara masyarakat di luar lingkaran mereka tidak selalu mengerti apa yang sedang dibicarakan. Ilmu akhirnya berputar di dalam ruangan, sementara persoalan masyarakat tetap berada di luar pintu.
Maka muncullah istilah “bahasa bumi”. Bahasa yang sederhana, tetapi tidak kehilangan nilai. Bahasa yang dekat dengan masyarakat, tetapi tidak kehilangan gagasan. Bukan menyederhanakan Islam, melainkan membuat nilai-nilai yang besar itu bisa dipahami dan dijalankan dalam kehidupan yang nyata.
Dan mungkin karena itu pula KDM memilih menjadi “Haji Udin”. Bukan untuk meninggalkan dunia intelektual, melainkan membawa gagasan yang lahir dari dunia intelektual itu turun ke tempat di mana masyarakat benar-benar hidup dan menghadapi persoalan.
Karena pada akhirnya, agama yang hanya terdengar indah di ruang diskusi belum tentu menjadi peradaban. Peradaban lahir ketika nilai berubah menjadi kesadaran, kesadaran berubah menjadi tindakan, dan tindakan meninggalkan karya.
