Jelang Muktamar NU 1984, Kiai As’ad Syamsul Arifin Disebut Tolak Tawaran Kekuasaan: “Saya Malu Sama Rasulullah SAW”
JAKARTA — Sorotan Publik — Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 pada 1984, sosok Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin kembali dikenang melalui kisah mengenai sikapnya terhadap tawaran kekuasaan.
Salah satu ungkapan yang beredar dan dikaitkan dengan Kiai As’ad menyebutkan bahwa dirinya tidak tergiur dengan kekuasaan maupun kemewahan. Bahkan, terdapat kisah bahwa ia meminta seseorang menyampaikan pesan kepada Presiden Soeharto mengenai rumahnya yang dinilai sudah cukup bagus.
“Sampaikan pada Pak Harto, rumah saya ini sudah terlalu bagus, saya malu sama Rasulullah SAW.”
Kutipan tersebut kerap dibagikan sebagai gambaran mengenai kesederhanaan dan sikap batin Kiai As’ad dalam memandang kekuasaan.
Namun, kutipan populer semacam ini perlu ditempatkan sebagai kisah atau riwayat yang beredar apabila tidak disertai dokumen atau sumber primer yang dapat diverifikasi secara independen.
Kiai As’ad dan Muktamar NU 1984
Kiai As’ad Syamsul Arifin merupakan salah satu ulama penting dalam sejarah NU. Namanya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pemikiran dan perjalanan organisasi tersebut, terutama pada periode menjelang Muktamar NU 1984.
Muktamar tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan NU. Pada periode itu, NU mengambil keputusan bersejarah untuk kembali ke Khittah 1926, yang menegaskan NU kembali pada jati dirinya sebagai organisasi sosial-keagamaan.
Dalam konteks sejarah tersebut, sosok Kiai As’ad kerap dikenang sebagai ulama yang memiliki sikap kuat dalam menjaga prinsip organisasi dan kehidupan keagamaan.
Kekuasaan Bukan Tujuan Utama
Kisah mengenai penolakan terhadap tawaran kekuasaan kemudian menjadi simbol bagaimana seorang ulama memandang jabatan dan kemewahan.
Pesan yang terkandung dalam kisah tersebut bukan semata-mata tentang rumah atau jabatan, tetapi mengenai rasa cukup, kesederhanaan, dan pertanggungjawaban moral di hadapan Tuhan.
Ungkapan yang dikaitkan dengan Kiai As’ad tentang rasa malu kepada Rasulullah SAW juga sering dipahami sebagai cerminan kehati-hatian seorang ulama terhadap kenikmatan duniawi.
Bagi banyak kalangan NU, keteladanan ulama tidak hanya diukur dari kedalaman ilmu, tetapi juga dari sikap ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Warisan Keteladanan Kiai As’ad
Kiai As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990. Warisan pemikirannya tetap menjadi bagian dari sejarah panjang NU dan pesantren di Indonesia.
Kisah-kisah tentang kesederhanaan dan keteguhan sikapnya terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Terlepas dari perlu atau tidaknya setiap kutipan populer tersebut diverifikasi kembali melalui sumber sejarah yang lebih kuat, pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap menjadi refleksi penting: jabatan dan kekuasaan semestinya dipandang sebagai amanah, bukan semata-mata sebagai fasilitas untuk memperoleh kemewahan.
Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan tempat terbaik bagi Kiai As’ad Syamsul Arifin. Al-Fatihah.
