Israel dan Maroko Tingkatkan Hubungan Diplomatik, Kedutaan dan Penerbangan Langsung Kembali Dibuka

0
1789955245158-1-1

DUNIA — Israel dan Maroko sepakat meningkatkan hubungan diplomatik mereka ke tingkat yang lebih tinggi dengan membuka kedutaan dan menunjuk duta besar di masing-masing negara. Kesepakatan tersebut diumumkan pada Rabu, 16 September 2026, di tengah perang dan krisis kemanusiaan yang masih menjadi perhatian internasional terkait Palestina.

Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar dan Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita di New York. Pertemuan tersebut difasilitasi Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz.

Peningkatan hubungan tersebut mencakup pengubahan misi diplomatik kedua negara menjadi kedutaan, disertai rencana penunjukan duta besar. Israel dan Maroko juga sepakat memperluas hubungan penerbangan, termasuk menghidupkan kembali penerbangan langsung yang dioperasikan maskapai kedua negara.

Di bidang ekonomi, kedua pemerintah menyatakan akan melanjutkan pembahasan kerja sama perdagangan dan investasi. Dua kesepakatan mengenai perlindungan investasi serta pencegahan pajak berganda ditargetkan dapat diselesaikan pada akhir 2026.

Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari normalisasi hubungan Israel-Maroko yang dimulai pada 2020 melalui kesepakatan yang didukung Amerika Serikat.

Bagian dari Perkembangan Abraham Accords

Normalisasi hubungan Israel dan Maroko merupakan bagian dari rangkaian Abraham Accords, yaitu inisiatif diplomatik yang dimulai pada 2020 untuk menormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab.

Maroko sebelumnya menyepakati normalisasi dengan Israel pada Desember 2020. Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump juga mengakui klaim kedaulatan Maroko atas Sahara Barat.

Hubungan kedua negara kemudian berkembang melalui kerja sama diplomatik, penerbangan, ekonomi, budaya dan berbagai bidang lainnya.

Kesepakatan terbaru pada September 2026 menandai langkah lanjutan karena kedua negara kini bergerak menuju hubungan diplomatik dengan kedutaan dan duta besar penuh.

Al Jazeera melaporkan bahwa pengumuman tersebut muncul sehari setelah peringatan enam tahun Abraham Accords. Amerika Serikat menyatakan hubungan diplomatik penuh dan damai antara Maroko dan Israel dipandang sebagai kepentingan bersama kedua negara.

Berlangsung di Tengah Krisis Palestina

Momentum peningkatan hubungan Israel-Maroko mendapat perhatian karena berlangsung ketika isu Palestina masih menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam politik Timur Tengah.

Sejak perang Gaza berlangsung, hubungan negara-negara Arab dengan Israel menghadapi tekanan politik dan opini publik yang kuat. Sejumlah kelompok dan organisasi yang mendukung Palestina selama bertahun-tahun menolak proses normalisasi dengan Israel, dengan alasan bahwa hubungan diplomatik tidak seharusnya berkembang tanpa penyelesaian persoalan pendudukan dan hak-hak rakyat Palestina.

Penolakan terhadap normalisasi tersebut bukan hal baru. Ketika kesepakatan Israel-Maroko diumumkan pada 2020, sejumlah pejabat Palestina dan Hamas juga mengecam langkah tersebut.

Di Maroko sendiri, penolakan terhadap normalisasi tetap muncul. Al Jazeera mencatat bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan atau PJD kembali menegaskan penolakannya terhadap normalisasi dan kerja sama dengan Israel setelah pengumuman peningkatan hubungan pada September 2026.

Diplomasi Berjalan, Persoalan Palestina Tetap Menjadi Perdebatan

Peningkatan hubungan diplomatik tidak otomatis mengakhiri perbedaan pandangan mengenai Palestina.

Maroko sebelumnya tetap menyatakan dukungan terhadap penyelesaian dua negara dalam konflik Israel-Palestina. Dalam perkembangan hubungan bilateral sebelumnya, Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita juga pernah menyerukan penyelesaian politik berdasarkan prinsip dua negara.

Karena itu, perkembangan terbaru dapat dilihat dari dua sisi.

Di satu sisi, Israel dan Maroko memperluas hubungan diplomatik, penerbangan, perdagangan dan investasi. Di sisi lain, isu Palestina tetap menjadi faktor penting dalam perdebatan mengenai normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab dan Muslim.

Perbedaan antara hubungan antarnegara dan penyelesaian konflik Palestina juga perlu diperhatikan. Sebuah kesepakatan diplomatik dapat memperkuat hubungan bilateral dua negara, tetapi tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan politik dan kemanusiaan yang lebih luas di kawasan.

Amerika Serikat Tetap Memiliki Peran

Amerika Serikat memiliki peran penting dalam proses normalisasi Israel-Maroko sejak 2020.

Dalam perkembangan terbaru, pertemuan Menteri Luar Negeri Israel dan Maroko di New York difasilitasi Mike Waltz sebagai Duta Besar AS untuk PBB. Washington juga menyatakan dukungannya terhadap peningkatan hubungan diplomatik tersebut.

Peran Amerika Serikat menunjukkan bahwa hubungan Israel-Maroko tidak hanya memiliki dimensi bilateral, tetapi juga terkait dengan strategi diplomatik Washington di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Bukan Sekadar Membuka Kedutaan

Pembukaan kedutaan dan penunjukan duta besar memiliki konsekuensi diplomatik yang lebih luas dibandingkan keberadaan kantor penghubung.

Kedutaan memungkinkan kedua negara memiliki representasi diplomatik penuh dan menjadi saluran resmi untuk menangani hubungan politik, ekonomi, konsuler serta kerja sama bilateral.

Pada saat yang sama, rencana mengaktifkan kembali penerbangan langsung dapat memperkuat hubungan masyarakat, pariwisata dan aktivitas ekonomi kedua negara.

Bagi Israel dan Maroko, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa proses normalisasi yang dimulai pada 2020 terus bergerak menuju hubungan yang lebih terstruktur.

Namun, bagi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, langkah tersebut tetap akan dibaca dalam konteks yang lebih luas—termasuk perang Gaza, persoalan Palestina, posisi negara-negara Arab serta perdebatan mengenai normalisasi hubungan dengan Israel.

Pada akhirnya, peningkatan hubungan Israel-Maroko merupakan fakta diplomatik yang telah diumumkan kedua negara dan Amerika Serikat. Tetapi dampak politiknya terhadap isu Palestina masih menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas di kawasan.

Yang jelas, pada September 2026, hubungan Israel dan Maroko memasuki fase baru: kedutaan, duta besar, penerbangan langsung dan agenda ekonomi menjadi bagian dari langkah berikutnya dalam proses normalisasi yang dimulai enam tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *