Sherly Tjoanda Laos, Dari Pendamping Benny Laos hingga Menjadi Gubernur Perempuan Pertama Maluku Utara

0
1789955441450-1

TERNATE — Perjalanan Sherly Tjoanda Laos menuju kursi Gubernur Maluku Utara tidak terlepas dari perjalanan panjang keluarga, pendidikan, dunia usaha, kegiatan sosial, hingga peristiwa duka yang mengubah arah hidupnya.

Sherly Tjoanda lahir di Ambon pada 12 Agustus 1982. Ia kemudian menempuh pendidikan di sejumlah kota di Indonesia sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Kristen Petra Surabaya dengan mengambil bidang International Business Management.

Setelah itu, Sherly melanjutkan pendidikan ke Belanda melalui program yang berkaitan dengan Inholland University. Sejumlah sumber mencatatnya sebagai program double degree yang diselesaikan pada 2004.

Latar belakang pendidikan di bidang bisnis tersebut kemudian menjadi salah satu bekal Sherly dalam menjalani aktivitas profesional dan dunia usaha bersama keluarganya.

Menikah dengan Benny Laos

Sherly menikah dengan Benny Laos pada 28 Mei 2005. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai tiga anak.

Benny Laos dikenal sebagai pengusaha dan politisi yang kemudian menjabat sebagai Bupati Pulau Morotai periode 2017–2022.

Ketika Benny memimpin Pulau Morotai, Sherly juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia antara lain terlibat dalam kegiatan TP PKK serta aktivitas sosial melalui Yayasan Bela Peduli.

Aktivitas tersebut membuat Sherly tidak sepenuhnya asing dengan kehidupan masyarakat Maluku Utara sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke dunia politik.

Tragedi Speedboat Mengubah Jalan Hidup

Pada 12 Oktober 2024, tragedi kecelakaan speedboat Bela 72 di Kabupaten Pulau Taliabu mengubah kehidupan keluarga Sherly.

Benny Laos, yang saat itu merupakan calon gubernur Maluku Utara, meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Sherly yang juga berada di lokasi menjadi salah satu korban yang kemudian menjalani perawatan.

Kepergian Benny kemudian membuka babak baru dalam perjalanan politik Sherly.

Sherly akhirnya dicalonkan sebagai pengganti Benny dalam Pilkada Maluku Utara 2024. Dalam proses tersebut, ia melanjutkan perjuangan politik yang sebelumnya dijalankan mendiang suaminya.

Dari Duka ke Panggung Politik

Perjalanan Sherly menuju pemerintahan provinsi berlangsung relatif cepat.

Setelah melalui proses pencalonan dan Pilkada 2024, Sherly Tjoanda bersama Sarbin Sehe kemudian dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara pada 20 Februari 2025.

Pelantikan tersebut sekaligus mencatat sejarah baru karena Sherly menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara.

Sejak saat itu, perempuan yang sebelumnya dikenal sebagai istri mendiang Benny Laos tersebut memiliki tanggung jawab baru sebagai kepala daerah.

Membawa Program Pemerintahan

Sebagai gubernur, Sherly mulai menjalankan agenda pemerintahan di berbagai sektor.

Salah satunya adalah pendidikan. Pada Mei 2025, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyatakan menyiapkan anggaran sekitar Rp61 miliar untuk renovasi 64 fasilitas sekolah menengah atas setelah dilakukan pergeseran anggaran. Program tersebut disampaikan Sherly saat peluncuran Sistem Penerimaan Murid Baru di Ternate.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Sherly juga menempatkan tata kelola keuangan daerah sebagai salah satu perhatian.

Pada 2026, Pemerintah Provinsi Maluku Utara kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan untuk laporan keuangan tahun anggaran 2025. Pemerintah provinsi menyebut capaian tersebut menjadi yang pertama setelah sebelumnya memperoleh opini WDP selama 2022–2024.

Perjalanan yang Tidak Biasa

Kisah Sherly Tjoanda Laos memperlihatkan perjalanan dari dunia pendidikan dan usaha, kemudian aktif dalam kegiatan sosial dan mendampingi aktivitas politik suaminya, hingga akhirnya masuk langsung ke arena politik setelah tragedi yang merenggut nyawa Benny Laos.

Posisinya sebagai gubernur juga membuat perjalanan pribadinya menjadi bagian dari perhatian publik.

Namun, jabatan gubernur membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar meneruskan perjalanan politik keluarga. Sherly kini harus menjalankan pemerintahan, mengelola anggaran daerah, menjawab kebutuhan masyarakat, serta memastikan program pembangunan Maluku Utara berjalan sesuai aturan dan kepentingan publik.

Bagi masyarakat Maluku Utara, perjalanan Sherly Tjoanda kini memasuki fase yang berbeda.

Ia bukan lagi hanya dikenal sebagai istri mendiang Benny Laos.

Sejak 20 Februari 2025, Sherly berdiri dengan mandatnya sendiri sebagai Gubernur Maluku Utara, sekaligus mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin provinsi tersebut.

Perjalanan dari seorang ibu dan pendamping keluarga menuju pucuk pemerintahan provinsi itu menjadi bagian penting dari dinamika politik Maluku Utara dalam beberapa tahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *