Modal Secarik Kertas, Mentan Amran Langsung Respons Permintaan Petani dan Peternak: Jagung 500 Hektare hingga Pasokan 90 Ton

0
1793931359988

SOROTAN PUBLIK, BLITAR – Respons cepat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terhadap aspirasi petani dan peternak menjadi perhatian dalam dialog bersama masyarakat pertanian di Blitar, Jawa Timur, Kamis (5/11/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Amran langsung menginstruksikan sejumlah tindak lanjut, mulai dari rencana pengembangan jagung seluas 500 hektare hingga permintaan penyaluran jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk koperasi peternak di Magetan dan Lamongan.

Menariknya, sejumlah permintaan tersebut dicatat langsung di atas secarik kertas untuk kemudian dikoordinasikan kepada jajaran terkait.

Petani Siap Kembangkan Jagung 500 Hektare

Salah satu aspirasi disampaikan Nur Syamsudin, peternak asal Blitar yang mengembangkan usaha di Kalimantan Tengah. Ia menyatakan kesanggupannya mengembangkan lahan jagung bersama petani setempat dengan luas mencapai 500 hektare.

Ketika ditanya mengenai kapasitas pengembangan lahan, Nur menjawab singkat, “Kalau 500 hektare mampulah.”

Mendengar komitmen tersebut, Mentan Amran meminta agar rencana pengembangan lahan segera dicatat dan dikoordinasikan dengan jajaran Kementerian Pertanian.

Amran menjelaskan, pemerintah ingin membangun ekosistem yang menghubungkan petani jagung dan peternak melalui koperasi. Dalam skema tersebut, petani dapat memperoleh dukungan benih, pompa air, serta alat dan mesin pertanian sesuai kemampuan anggaran negara.

“Petani jagung dengan peternak satu kesatuan membentuk koperasi. Diberikan benih gratis dari pemerintah, setelah tumbuh juga pompa dengan alsintan, sesuai kemampuan APBN kita,” jelas Amran.

Koperasi Diperkuat, Hasil Panen Diupayakan Terserap

Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga berupaya memberikan kepastian pasar bagi hasil panen petani.

Melalui skema yang disampaikan Amran, hasil produksi jagung dapat diserap koperasi. Apabila terdapat kelebihan produksi, pemerintah melalui Perum Bulog dapat melakukan pembelian untuk disimpan sebagai cadangan.

Cadangan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan peternak ketika pasokan jagung mengalami keterbatasan.

“Setelah dibeli, ada berlebih lagi produksinya, itu dibeli oleh pemerintah, Bulog. Tetapi koperasi itu yang menitip, itu yang bisa mengambil kembali pada bulan September, Oktober, November, Desember,” katanya.

Skema ini diarahkan untuk menghubungkan kepentingan petani sebagai produsen dengan peternak sebagai pengguna jagung untuk kebutuhan pakan.

Mentan Instruksikan Penyaluran 50 Ton Jagung untuk Koperasi di Magetan

Respons cepat juga terlihat ketika perwakilan Koperasi Koderma di Magetan menyampaikan kebutuhan jagung SPHP sebanyak 50 ton.

Mendengar permintaan tersebut, Amran langsung meminta jajaran terkait agar kebutuhan koperasi segera ditindaklanjuti.

“Magetan ya, Mas? Ini koperasi apa namanya, Koderma. Layani 50 ton jagung hari ini,” tegasnya.

Instruksi tersebut menjadi bagian dari upaya memperlancar akses peternak terhadap pasokan jagung yang dibutuhkan untuk keberlangsungan usaha.

Keluhan Peternak Lamongan, 40 Ton Jagung Diminta Segera Disalurkan

Aspirasi berikutnya datang dari Suparto, peternak asal Lamongan. Ia mengeluhkan belum tersedianya jagung SPHP tahap ketiga meskipun koperasinya telah memperoleh alokasi.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Amran meminta agar kebutuhan sebanyak 40 ton segera ditindaklanjuti melalui Bulog Bojonegoro.

“Empat puluh ton, Pak,” ujar Suparto ketika menyampaikan jumlah kebutuhan jagungnya.

Permintaan tersebut kemudian dicatat dan diarahkan untuk dikoordinasikan dengan jajaran Bulog.

Suparto pun menyampaikan terima kasih atas respons Mentan terhadap persoalan pasokan jagung yang dihadapi koperasi peternak.

Bukan Sekadar Mendengar Aspirasi, tetapi Membangun Sistem

Dalam dialog tersebut, Amran menegaskan bahwa pemerintah ingin menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan yang dihadapi petani dan peternak.

Menurutnya, peningkatan produksi jagung harus berjalan seiring dengan kepastian penyerapan hasil panen dan ketersediaan bahan baku pakan bagi peternak.

“Ini kita bangun sistem baru, ekosistem baru. Petani jagung dengan peternak satu kesatuan membentuk koperasi,” ujar Amran.

Pendekatan tersebut menempatkan koperasi sebagai penghubung antara produksi pertanian, penyerapan hasil panen, penyimpanan cadangan, dan kebutuhan peternakan.

Jika berjalan sesuai rencana, pola ini diharapkan dapat mengurangi persoalan ketidakpastian pasar bagi petani sekaligus membantu peternak memperoleh pasokan jagung secara lebih terjamin.

Namun, tindak lanjut di lapangan tetap menjadi hal penting untuk diperhatikan, mulai dari realisasi pengembangan lahan 500 hektare hingga penyaluran jagung SPHP yang diminta koperasi di Magetan dan Lamongan.

Petani dan Peternak Menunggu Realisasi

Langkah cepat dalam menerima aspirasi tentu menjadi bagian penting dari pelayanan pemerintah. Akan tetapi, keberhasilan kebijakan pada akhirnya ditentukan oleh realisasi dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pengembangan jagung, dukungan sarana produksi, penguatan koperasi, serta keterlibatan Bulog perlu berjalan secara terukur dan transparan.

Bagi petani, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan benih dan alat pertanian, tetapi juga kepastian bahwa hasil panen dapat terserap dengan harga yang layak.

Sementara bagi peternak, ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Karena itu, masyarakat kini menantikan pelaksanaan instruksi tersebut agar respons yang disampaikan dalam dialog benar-benar berubah menjadi manfaat nyata bagi petani dan peternak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *