IFRC Desak Bantuan Internasional untuk Sudan, Krisis Kemanusiaan Semakin Memburuk
JAKARTA – Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies/IFRC) kembali menyerukan peningkatan bantuan internasional bagi Sudan yang kini menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Memasuki tahun keempat konflik bersenjata, jutaan warga Sudan masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan dengan akses terbatas terhadap pangan, layanan kesehatan, air bersih, dan tempat tinggal.
IFRC menyebut kebutuhan kemanusiaan terus meningkat, sementara dukungan pendanaan dari komunitas internasional masih jauh dari target yang dibutuhkan.
Lebih dari 33 Juta Orang Membutuhkan Bantuan
Data IFRC menunjukkan lebih dari 33 juta penduduk Sudan saat ini membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak. Konflik yang telah berlangsung lebih dari 1.200 hari menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur, layanan publik, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Jutaan keluarga kehilangan mata pencaharian dan terpaksa hidup di pengungsian dengan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Situasi tersebut diperburuk oleh merebaknya wabah kolera, meningkatnya angka malnutrisi, serta banjir musiman yang memperparah kondisi masyarakat di berbagai wilayah.
Jutaan Warga Mengungsi
Konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) telah menewaskan puluhan ribu orang.
Lebih dari 9 juta warga dilaporkan mengungsi di dalam negeri, sementara sekitar 4,5 juta lainnya melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Chad, Mesir, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Republik Afrika Tengah.
Gelombang pengungsi tersebut turut memberikan tekanan besar terhadap kapasitas negara-negara penerima yang juga menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan sosial.
Sistem Kesehatan Nyaris Lumpuh
IFRC mengungkapkan lebih dari 80 persen fasilitas kesehatan di wilayah terdampak konflik tidak lagi beroperasi secara normal.
Kelaparan telah dikonfirmasi di sejumlah wilayah, termasuk El Fasher, sementara penyebaran kolera terus meningkat dengan lebih dari 120.000 kasus dan lebih dari 3.000 korban meninggal dunia.
Kondisi tersebut mencerminkan semakin rapuhnya sistem kesehatan, sanitasi, dan layanan publik di Sudan.
Pendanaan Baru Terpenuhi 35 Persen
IFRC menyatakan dana darurat yang tersedia saat ini baru memenuhi sekitar 35 persen dari total kebutuhan kemanusiaan.
Keterbatasan pendanaan menghambat distribusi bantuan pangan, layanan kesehatan, air bersih, tempat penampungan sementara, hingga dukungan psikososial bagi jutaan korban konflik.
Palang Merah Sudan bersama IFRC mengerahkan sekitar 75.000 relawan yang tersebar di seluruh wilayah negara untuk memberikan bantuan kepada masyarakat meski harus bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya.
Selama konflik berlangsung, sedikitnya 22 relawan Palang Merah Sudan dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Dunia Diminta Tingkatkan Solidaritas
IFRC menegaskan bahwa krisis di Sudan tidak boleh terus menjadi bencana kemanusiaan yang terabaikan oleh dunia internasional.
Organisasi tersebut mengajak pemerintah, lembaga donor, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat global untuk meningkatkan dukungan pendanaan serta memperkuat bantuan kemanusiaan bagi jutaan warga yang masih terdampak konflik.
Selain bantuan darurat, IFRC juga menilai penyelesaian politik yang damai menjadi langkah penting untuk mengakhiri konflik berkepanjangan serta membuka jalan bagi proses pemulihan dan pembangunan kembali Sudan di masa mendatang.
