Harga Bensin AS Kembali Tembus US$4 per Galon, Konflik Iran dan Selat Hormuz Picu Lonjakan

0
IMG-20260722-WA0045

Harga rata-rata bensin di Amerika Serikat kembali menembus angka psikologis US$4 per galon pada Senin (20/7), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gencatan senjata antara Washington dan Teheran runtuh dan konflik militer kembali memanas.

Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin jenis Regular mencapai US$4,003 per galon, meningkat dari sekitar US$3,87 pada pekan sebelumnya. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal Juni dan menghentikan tren penurunan harga yang sempat berlangsung setelah tercapainya kesepakatan pada pertengahan Juni.

Kenaikan harga bahan bakar tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena jalur perairan strategis tersebut dalam kondisi normal menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama permusuhan Amerika Serikat di kawasan masih berlangsung. Gangguan tersebut berdampak terhadap lalu lintas kapal tanker, yang dilaporkan mengalami penurunan tajam.

Situasi semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan ancaman blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan ekspor minyak Arab Saudi melalui kawasan Selat Bab el-Mandeb. Perkembangan tersebut membuka risiko tambahan terhadap jalur distribusi energi global yang menghubungkan kawasan Timur Tengah dengan pasar internasional.

Kenaikan harga bensin di Amerika Serikat juga berlangsung seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent sempat berada di sekitar US$91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$84 per barel.

Tekanan terhadap harga energi menjadi semakin terasa bagi konsumen Amerika. Harga bensin eceran nasional dilaporkan telah meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan level sebelum eskalasi konflik. Pada Mei, harga rata-rata bensin bahkan sempat mencapai sekitar US$4,50 per galon sebelum kembali menurun setelah adanya perkembangan diplomatik.

Perbedaan harga antarnegara bagian juga cukup besar. California tetap menjadi salah satu wilayah dengan harga bensin tertinggi, sementara Washington dan Hawaii juga mencatat harga di atas US$5 per galon. Sebaliknya, sejumlah negara bagian di kawasan Midwest mencatat harga yang lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.

Kenaikan harga tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi persediaan bahan bakar di Amerika Serikat. Persediaan bensin yang berada di bawah rata-rata historis menambah tekanan terhadap pasar, terutama ketika risiko gangguan pasokan minyak global meningkat.

Lonjakan harga energi kini menjadi isu ekonomi sekaligus politik yang sensitif bagi pemerintahan Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November. Kenaikan harga bensin secara langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga dan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Sejumlah konsumen mulai mengeluhkan kenaikan biaya pengisian bahan bakar. Bagi masyarakat yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari, kenaikan harga bensin dapat memberikan dampak langsung terhadap anggaran rumah tangga.

Tekanan terhadap pasar energi global juga tidak hanya berasal dari konflik di Timur Tengah. Berkurangnya kapasitas pengolahan minyak Rusia akibat serangan terhadap infrastruktur energi turut menjadi faktor yang diperhatikan pasar.

Berbagai faktor tersebut telah mendorong harga minyak mentah bergerak lebih tinggi setelah gagalnya upaya gencatan senjata. Pasar kini menghadapi risiko geopolitik yang lebih kompleks karena gangguan pada sejumlah jalur perdagangan energi dapat memberikan dampak berantai terhadap harga minyak dan bahan bakar.

Analis memperkirakan harga energi akan tetap menjadi perhatian utama pasar dalam waktu dekat. Setiap eskalasi baru berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan memperbesar tekanan inflasi.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan inflasi dapat menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Dengan ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz dan risiko gangguan di kawasan Laut Merah yang masih membayangi, harga bensin di Amerika Serikat berpotensi tetap berada pada level tinggi. Perkembangan tersebut tidak hanya menjadi persoalan ekonomi bagi konsumen, tetapi juga dapat menjadi tantangan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *