Google Diselidiki Polisi Finlandia, 330 Hektare Hutan Dibuka untuk Proyek Pusat Data AI
FINLANDIA – Rencana pembangunan pusat data milik Google di Muhos, Finlandia utara, kini menghadapi penyelidikan pidana terkait dugaan pelanggaran lingkungan. Polisi melalui Departemen Polisi Oulu mulai menyelidiki aktivitas perusahaan Tuike Finland Oy, anak perusahaan Google, setelah muncul dugaan pembukaan hutan dan pekerjaan drainase sebelum seluruh persyaratan lingkungan diselesaikan.
Kasus ini menjadi sorotan karena proyek tersebut merupakan bagian dari investasi besar Google senilai sekitar 13 miliar euro atau setara 15 miliar dolar AS untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Finlandia.
Menurut informasi otoritas, sekitar 330 hektare kawasan hutan di Muhos telah dibuka untuk persiapan pembangunan pusat data. Aktivitas tersebut mencakup penebangan pohon, pengeringan lahan, serta pekerjaan pengaturan saluran air.
Persoalan muncul karena penilaian dampak lingkungan atau Environmental Impact Assessment (EIA), yang dikenal di Finlandia dengan istilah YVA, belum diselesaikan sebelum pekerjaan tersebut berlangsung.
Regulasi Finlandia mewajibkan penilaian dampak lingkungan untuk proyek penghilangan hutan permanen dalam skala tertentu. Dalam kasus Muhos, otoritas menilai prosedur lingkungan yang diwajibkan belum tuntas ketika pekerjaan persiapan dilakukan.
Aktivis lingkungan memperkirakan sekitar 250.000 pohon telah ditebang di kawasan tersebut. Namun, angka itu merupakan perkiraan kelompok aktivis dan bukan hasil penghitungan resmi pemerintah.
Polisi Selidiki Dugaan Kerusakan Lingkungan
Departemen Polisi Oulu mengumumkan dimulainya penyelidikan pada 29 Oktober 2026. Penanganan perkara berawal dari permintaan otoritas pengawas Finlandia serta laporan lain yang berkaitan dengan aktivitas di lokasi proyek.
Penyelidikan saat ini berfokus pada dugaan kerusakan lingkungan, termasuk kemungkinan pelanggaran terhadap ketentuan Water Act atau undang-undang pengelolaan sumber daya air Finlandia.
Polisi menyebut terdapat indikasi awal mengenai ketidakjelasan dan kekurangan dalam sistem drainase serta pengelolaan air di lokasi pembangunan pusat data.
Aspek tersebut menjadi perhatian karena pekerjaan penggalian dan pengaturan aliran air berpotensi menimbulkan dampak terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Penyelidikan masih berada pada tahap awal. Kepolisian menargetkan dapat memberikan perkembangan informasi pada Desember 2026, sementara proses pemeriksaan secara keseluruhan diperkirakan berlanjut hingga 2027.
Apabila pelanggaran terbukti melalui proses hukum, perusahaan berpotensi menghadapi sanksi berupa denda korporasi. Namun, hingga kini belum ada putusan pengadilan yang menyatakan Tuike Finland atau Google bersalah.
Otoritas Perintahkan Pekerjaan Dihentikan
Sebelumnya, pada awal Oktober 2026, Finnish Supervisory Agency (LVV) memerintahkan penghentian pekerjaan persiapan yang berpotensi mengubah kondisi lingkungan di lokasi proyek Muhos dan kawasan Kajaani-Otanmäki.
Perintah tersebut berlaku sampai prosedur penilaian dampak lingkungan yang diwajibkan diselesaikan.
Pekerjaan yang menjadi perhatian mencakup penebangan pohon, pengupasan lapisan tanah, pembangunan jalan proyek, pembuatan area penyimpanan, serta perubahan saluran drainase.
Google kemudian menyatakan telah menghentikan pekerjaan persiapan di kedua lokasi tersebut sesuai arahan otoritas.
Google Minta Maaf dan Siap Bekerja Sama
Menanggapi polemik tersebut, Google melalui Country Manager Finlandia, Antti Järvinen, menyampaikan permintaan maaf atas persoalan yang muncul.
Perusahaan menyatakan bahwa pekerjaan sebelumnya dilakukan berdasarkan pemahaman terbaik mereka terhadap ketentuan hukum yang berlaku saat itu. Google juga menegaskan akan bekerja sama dengan aparat dan otoritas terkait selama proses penyelidikan berlangsung.
Google sebelumnya menyampaikan bahwa aktivitas penebangan yang dilakukan telah mengikuti ketentuan Forest Act atau undang-undang kehutanan Finlandia.
Meski demikian, klaim perusahaan tersebut tidak serta-merta menyelesaikan persoalan mengenai kewajiban penilaian dampak lingkungan maupun dugaan kekurangan dalam pengelolaan air yang kini sedang diperiksa.
Ekspansi AI Berhadapan dengan Perlindungan Lingkungan
Kasus di Muhos memperlihatkan tantangan yang dihadapi negara-negara ketika menarik investasi besar untuk membangun infrastruktur digital dan pusat data.
Di satu sisi, fasilitas pusat data menjadi bagian penting dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Infrastruktur tersebut membutuhkan kawasan yang luas, pasokan listrik besar, sistem pendinginan, serta pengelolaan sumber daya air.
Di sisi lain, pembangunan berskala besar tetap harus memperhatikan kelestarian hutan, keanekaragaman hayati, dan keselamatan lingkungan.
Finlandia kini menghadapi pertanyaan penting mengenai bagaimana investasi teknologi berskala besar dapat berjalan tanpa mengabaikan aturan perlindungan lingkungan.
Penyelidikan terhadap proyek Google di Muhos akan menjadi salah satu ujian bagi penerapan regulasi lingkungan di negara tersebut.
Kasus ini sekaligus mengingatkan bahwa besarnya investasi dan kemajuan teknologi tidak menghapus kewajiban perusahaan untuk mematuhi hukum serta menjaga kelestarian lingkungan.
