Dulu Dikritik Balik Teddy, Kini Dino Patti Djalal Justru Menyemangatinya: “Tetap Semangat Jalankan Tugas”
Ada ironi menarik di balik polemik yang belakangan menerpa Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Beberapa bulan lalu, Teddy dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal sempat berada di posisi berseberangan dalam perdebatan publik mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dino ketika itu mengkritik frekuensi perjalanan luar negeri Presiden yang dinilainya terlalu sering. Kritik tersebut kemudian mendapat respons balik dari Teddy. Dalam perdebatan itu, Teddy juga sempat menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan.
Perdebatan keduanya sempat menjadi perhatian publik.
Namun waktu ternyata mengubah situasi.
Ketika Teddy kini justru menghadapi gelombang kritik publik, Dino memilih mengambil sikap berbeda: bukan menambah tekanan, melainkan memberikan dukungan.
Dino Hubungi Teddy dan Beri Semangat
Dino Patti Djalal disebut telah menghubungi Teddy secara langsung setelah polemik mengenai gestur Teddy saat mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia.
Dino menyampaikan dukungan agar Teddy tetap bersemangat menjalankan tugasnya sebagai Sekretaris Kabinet.
Ia juga berharap Teddy terus bekerja dengan baik di tengah sorotan publik.
Sikap tersebut menjadi menarik karena datang dari sosok yang sebelumnya pernah berhadapan langsung dengan Teddy dalam perdebatan mengenai kebijakan luar negeri Presiden.
Dino tidak harus mencabut kritiknya di masa lalu untuk menunjukkan empati pada Teddy hari ini.
Di sinilah perbedaan antara kritik terhadap kebijakan dan serangan terhadap pribadi menjadi penting.
Polemik Pulpen Teddy di Hadapan Putin
Sebelumnya, Teddy menjadi sorotan setelah rekaman sidang pleno Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di Vladivostok beredar luas.
Dalam rekaman tersebut, Teddy terlihat memainkan pulpen ketika duduk di belakang Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan resmi bersama Presiden Vladimir Putin dan jajaran pejabat Rusia.
Gestur tersebut kemudian menuai kritik dari sebagian masyarakat.
Sebagian warganet menilai sikap tersebut kurang tepat dalam forum kenegaraan yang melibatkan kepala negara. Ada pula yang mengaitkannya dengan persoalan etika protokoler dan penghormatan terhadap forum diplomatik.
Namun, penilaian terhadap sebuah gestur tetap perlu ditempatkan dalam konteks yang proporsional. Rekaman singkat tidak selalu mampu menggambarkan keseluruhan situasi di dalam sebuah forum resmi.
Yang pasti, peristiwa tersebut telah menjadi konsumsi publik dan memunculkan perdebatan mengenai bagaimana pejabat yang mendampingi kepala negara seharusnya menjaga sikap dalam forum internasional.
Ketika Kritik Berubah Menjadi Dukungan
Konteks kunjungan Prabowo ke Rusia sendiri bukan perkara sederhana.
Kehadiran Presiden Indonesia di Vladivostok dalam rangka Eastern Economic Forum merupakan bagian dari agenda hubungan bilateral dan kerja sama strategis Indonesia-Rusia.
Dalam forum internasional seperti itu, perilaku, bahasa tubuh, protokol, hingga posisi setiap pejabat memang dapat menjadi perhatian publik.
Karena itu, kritik terhadap Teddy sah muncul sepanjang disampaikan secara proporsional dan berbasis fakta.
Tetapi di tengah derasnya kritik tersebut, pilihan Dino Patti Djalal untuk menghubungi Teddy dan memberikan semangat menghadirkan cerita lain.
Dua orang yang pernah berseberangan dalam perdebatan ternyata tidak harus menjadi musuh selamanya.
Dino bisa tetap memiliki pandangan kritis terhadap perjalanan luar negeri Presiden atau kebijakan pemerintah, sementara pada saat yang sama tetap memberikan dukungan moral kepada seseorang yang sedang berada di bawah sorotan.
Ini bukan sekadar cerita tentang Teddy dan Dino.
Ini adalah pengingat bahwa dalam ruang publik, perbedaan pendapat tidak harus berujung pada permusuhan.
Hari ini kita mungkin berdebat. Besok, ketika orang yang pernah berseberangan dengan kita sedang menghadapi tekanan, kita masih bisa memilih untuk memberikan semangat.
Sebab kritik seharusnya memperbaiki, bukan menghancurkan.
Dan dukungan tidak selalu berarti membenarkan.
Dino mengkritik ketika merasa perlu mengkritik. Namun ketika Teddy sedang dihujani kritik, Dino memilih tidak ikut menendang.
Mungkin justru di situlah kedewasaan dalam kehidupan publik menemukan maknanya.
Berbeda pandangan boleh. Berbeda sikap boleh. Tetapi jangan kehilangan rasa kemanusiaan.
Rakyat berhak tahu. Rakyat cerdas. Rakyat berdaulat.
