Drone Elang Poltekad TNI AD Dilirik untuk Kebutuhan Pertahanan, Rencana Pengadaan 10 Unit

0
1788099341832

JAKARTA — Sorotan Publik — TNI Angkatan Darat (TNI AD) menunjukkan perhatian terhadap pengembangan Drone Elang yang dirancang oleh Politeknik Angkatan Darat (Poltekad). Wahana udara tanpa awak tersebut menjadi salah satu inovasi teknologi pertahanan yang dikembangkan melalui lingkungan pendidikan dan penelitian militer.

Pengembangan Drone Elang menarik perhatian karena konsep desainnya mengambil inspirasi dari burung elang. Berbeda dari drone multirotor konvensional, wahana ini dikembangkan dengan pendekatan yang menyesuaikan bentuk dan mekanisme terbang burung.

Inovasi tersebut pada awalnya berkaitan dengan pembelajaran teknologi unmanned aerial vehicle (UAV), sebelum kemudian diarahkan untuk memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas dalam mendukung kebutuhan pertahanan, khususnya pengamatan dari udara.

Dikembangkan Poltekad dengan Konsep Biomimetik

Pengembangan Drone Elang dilakukan oleh Kolonel Arh Nur Rachman bersama tim di lingkungan Poltekad.

Konsep yang digunakan mengadopsi pendekatan biomimetik, yakni mengambil inspirasi dari karakteristik alam untuk menghasilkan rancangan teknologi. Dalam hal ini, bentuk dan mekanisme gerak burung elang menjadi inspirasi dalam pengembangan wahana tanpa awak tersebut.

Pengembangan dilakukan secara bertahap melalui proses pengujian untuk mendapatkan kemampuan terbang dan sistem kendali yang stabil.

Penggunaan material ringan serta rancangan mekanis yang disesuaikan dengan konsep tersebut juga menjadi bagian dari proses pengembangan. Pada tahap awal, biaya pengembangan disebut relatif rendah jika dibandingkan dengan platform UAV militer berukuran besar.

Ditampilkan dalam Kegiatan Litbanghan TNI AD

Perkembangan Drone Elang kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah ditampilkan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan pertahanan (Litbanghan) TNI AD pada Januari 2026.

Inovasi tersebut diperkenalkan di hadapan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Dalam kesempatan tersebut muncul arahan agar Drone Elang direncanakan untuk pengadaan sebanyak 10 unit.

Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai rencana pengadaan, bukan sebagai bukti bahwa 10 unit telah selesai diproduksi dan seluruhnya telah digunakan secara operasional oleh satuan TNI AD.

Tahapan berikutnya tetap memerlukan proses evaluasi, pengujian, serta penyesuaian terhadap kebutuhan pengguna sebelum sebuah platform dapat diandalkan untuk menjalankan tugas di lapangan.

Potensi untuk Mendukung Pengamatan Udara

Jika pengembangannya terus berlanjut, Drone Elang berpotensi menjadi salah satu alternatif wahana udara tanpa awak untuk mendukung kebutuhan pengamatan.

Keberhasilan teknologi tersebut nantinya tidak hanya ditentukan oleh desain yang menyerupai burung, tetapi juga oleh kemampuan terbang, stabilitas kendali, daya tahan sistem, kualitas sensor atau kamera, jangkauan operasi, serta keandalan ketika menghadapi kondisi lapangan.

Perkembangan Drone Elang juga memperlihatkan bahwa inovasi teknologi UAV tidak hanya dapat lahir dari industri pertahanan berskala besar. Lingkungan pendidikan dan penelitian militer juga memiliki peluang untuk menghasilkan teknologi yang kemudian dapat diarahkan kepada kebutuhan operasional.

Bagi TNI AD, proses tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong inovasi teknologi pertahanan sekaligus mengembangkan kemampuan sumber daya manusia di lingkungan militer.

Ke depan, perkembangan Drone Elang menarik untuk dicermati, terutama sejauh mana prototipe yang lahir dari lingkungan Poltekad tersebut mampu melewati berbagai tahapan pengujian hingga benar-benar memenuhi kebutuhan operasional satuan pengguna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *