Dedi Mulyadi Jawab Sebutan “Gubernur Konten”: Ada Jalan Jelek Saya Kontenin, Besoknya Dibangun
BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi sebutan “gubernur konten” yang belakangan ditujukan kepadanya. Dedi mengakui bahwa dirinya memang kerap membuat konten dari berbagai persoalan yang ditemuinya ketika turun ke lapangan.
Dalam sebuah pidato, Dedi menyebut dirinya tidak mempersoalkan julukan tersebut. Ia justru menjelaskan bahwa konten yang dibuatnya digunakan untuk menunjukkan persoalan nyata sekaligus mendorong penyelesaiannya.
“Mungkin orang banyak yang bertanya, heh gubernur konten,” ujar Dedi. Ia kemudian menjawab, “Emang iya, kerjanya tiap hari ngonten, benar.”
Konten untuk Mengangkat Persoalan di Lapangan
Dedi menjelaskan, berbagai persoalan yang ia temui selama menjalankan aktivitas pemerintahan kerap didokumentasikan dan disampaikan kepada publik melalui konten.
Menurutnya, konten tersebut tidak sekadar dibuat untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga menjadi cara untuk menunjukkan kondisi yang membutuhkan penanganan pemerintah.
“Ada jalan jelek saya kontenin. Besoknya dibangun sekian ratus kilometer. Ada rumah jelek saya kontenin. Besoknya saya bangun rumah rakyat miskin. Ada sekolah jelek saya khawatirin. Besoknya saya bangun sekolah di seluruh Jawa Barat,” kata Dedi.
Ia menilai penyampaian persoalan secara terbuka dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi di lapangan sekaligus mendorong adanya tindakan.
Dedi Bedakan Peran Pribadi dan Jabatan
Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga menjelaskan perbedaan antara dirinya sebagai individu dengan posisinya sebagai gubernur.
Menurutnya, ketika menggunakan kapasitas pribadi, dirinya memiliki kebebasan untuk membantu masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
“Dedi Mulyadi secara pribadi boleh memberi,” ujarnya.
Dedi kemudian menyampaikan bahwa kebutuhan rumah tangganya relatif sederhana karena sejumlah kebutuhan pokok disebut sudah tersedia.
“Jadi setiap ketemu mahasiswa, ketemu siapa, saya support secara pribadi,” kata Dedi.
Konten dan Pelayanan Publik
Pernyataan Dedi tersebut memperlihatkan pendekatan yang ia gunakan dalam menyampaikan berbagai persoalan sosial dan pembangunan kepada masyarakat.
Melalui media sosial, persoalan yang ditemui di lapangan dapat menjadi perhatian publik dan kemudian dikaitkan dengan langkah penanganan pemerintah.
Namun, pada akhirnya, efektivitas kebijakan tetap diukur dari sejauh mana pembangunan dan pelayanan publik benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pernyataan Dedi mengenai julukan “gubernur konten” pun kembali menjadi perhatian, terutama karena ia mengaitkan aktivitas membuat konten dengan persoalan infrastruktur, pendidikan, kemiskinan, dan kebutuhan masyarakat Jawa Barat.
