Debit Sungai Batanghari Menyusut, Kemarau Panjang Tingkatkan Ancaman Karhutla dan Krisis Air di Jambi

0
IMG-20260805-WA0076

JAMBI – Musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya hingga September 2026 mulai menunjukkan dampak signifikan di Provinsi Jambi. Debit Sungai Batanghari beserta sejumlah anak sungainya terus mengalami penyusutan, memunculkan kekhawatiran terhadap ancaman krisis air bersih sekaligus meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak mengingat musim kemarau diprediksi masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, ancaman kekeringan, krisis air bersih, hingga semakin sulitnya proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan akan menjadi tantangan besar bagi masyarakat,” ujar Bachyuni kepada wartawan, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, penyusutan debit air tidak hanya terjadi di Sungai Batanghari, tetapi juga melanda Sungai Batang Tembesi di Kabupaten Sarolangun. Berkurangnya ketersediaan air permukaan dikhawatirkan akan menyulitkan petugas dalam memperoleh sumber air saat melakukan pemadaman karhutla, terutama di kawasan lahan gambut yang dikenal mudah terbakar namun sulit dipadamkan.

“Semakin sedikit cadangan air, semakin berat upaya petugas dalam mengendalikan kebakaran yang terjadi di lapangan,” katanya.

Ancaman Karhutla Meningkat

BPBD menjelaskan, turunnya debit sungai turut menyebabkan penurunan tinggi muka air tanah. Kondisi tersebut membuat lahan menjadi semakin kering sehingga sangat rentan terbakar, terutama ketika terjadi cuaca panas dan angin kencang.

Situasi ini diperparah dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim kemarau tahun 2026 di Jambi diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.

Selain itu, potensi menguatnya fenomena El Nino pada periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan akan semakin memperparah kondisi kekeringan di sejumlah wilayah.

BPBD Imbau Masyarakat Hemat Air

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi melalui BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijaksana serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area lahan kering.

Selain itu, patroli darat, pemantauan titik panas (hotspot), serta edukasi kepada masyarakat terus diperkuat melalui kerja sama antara BPBD, Satgas Karhutla, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Selama musim kemarau, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kebakaran sudah meluas,” tegas Bachyuni.

Kolaborasi Jadi Kunci Pencegahan

BPBD menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi musim kemarau panjang tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat.

Warga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran lahan kepada aparat terkait agar dapat ditangani lebih cepat. Di sisi lain, penggunaan air secara hemat dan pengelolaan lahan yang bertanggung jawab diharapkan mampu mengurangi risiko kekeringan maupun bencana karhutla di Provinsi Jambi.

Dengan sinergi seluruh elemen masyarakat, pemerintah optimistis dampak musim kemarau dapat diminimalkan sehingga keselamatan masyarakat, lingkungan, dan keberlangsungan sumber daya alam tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *