Dari Ruang Tamu Jadi Bisnis Besar, Kisah Kahar Tjandra Membangun Betadine di Indonesia
JAKARTA — Betadine menjadi salah satu merek produk kesehatan yang telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Produk antiseptik ini telah lama hadir di berbagai rumah sebagai bagian dari perlengkapan pertolongan pertama ketika mengalami luka ringan atau membutuhkan cairan antiseptik.
Namun, di balik kuatnya nama Betadine di Indonesia, terdapat perjalanan panjang yang bermula dari sebuah apotek sederhana dan keberanian seorang dokter bernama Kahar Tjandra melihat peluang di tengah persoalan akses kesehatan masyarakat.
SEBELUM MEMBANGUN BISNIS FARMASI
Sebelum terjun lebih jauh ke dunia bisnis farmasi, Kahar Tjandra telah memiliki karier yang mapan sebagai dokter.
Sejak 1964, ia menjalani profesi sebagai dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekaligus mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Karier tersebut sebenarnya sudah memberikan jalur profesional yang jelas. Namun, dalam menjalankan profesinya, Kahar melihat masih banyak masyarakat yang membutuhkan obat dan produk kesehatan, sementara akses terhadap produk yang sesuai belum selalu mudah.
Dari pengalaman tersebut muncul pemikiran bahwa kontribusi di bidang kesehatan tidak hanya dapat dilakukan melalui ruang praktik dokter.
Ada cara lain untuk membantu masyarakat, yakni menyediakan produk kesehatan yang lebih mudah dijangkau.
APOTEK DIMULAI DARI RUANG TAMU
Pada 1967, Kahar bersama istrinya yang memiliki latar belakang pendidikan farmasi mendirikan Apotek Mahakam.
Yang menarik, bisnis tersebut tidak dimulai dari gedung besar atau perusahaan dengan modal raksasa.
Apotek Mahakam justru bermula dari ruang tamu rumah Kahar di kawasan Jalan Mahakam, Jakarta.
Tim yang mengelolanya saat itu juga masih relatif kecil, sekitar 10 orang. Sebagian karyawan bahkan masih harus belajar memahami bagaimana menjalankan bisnis farmasi.
Meski sederhana, apotek tersebut menjadi tempat penting bagi Kahar untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.
Dari aktivitas sehari-hari di apotek, ia dapat melihat produk kesehatan yang banyak dicari masyarakat, perilaku konsumen dalam memilih obat, serta berbagai persoalan yang dihadapi industri kesehatan.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting untuk mengembangkan bisnis ke tahap berikutnya.
MENGAMBIL ALIH PERUSAHAAN YANG HAMPIR BANGKRUT
Sepuluh tahun setelah mendirikan Apotek Mahakam, Kahar mengambil keputusan yang jauh lebih berisiko.
Pada 1977, ia mengambil alih PT Daya Muda Agung, perusahaan farmasi yang saat itu berada dalam kondisi hampir bangkrut.
Keputusan tersebut bukan perkara sederhana. Perusahaan membutuhkan pembenahan pengelolaan sekaligus upaya untuk mengembalikan kinerja bisnis.
PT Daya Muda Agung ketika itu memiliki lisensi pemasaran Betadine di Indonesia.
Betadine sendiri merupakan merek antiseptik yang dikembangkan secara global oleh Mundipharma.
Dengan pengalaman sebagai dokter sekaligus pengelola apotek, Kahar mulai membenahi perusahaan tersebut.
Perlahan, perusahaan menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
DARI DISTRIBUSI MENUJU PRODUKSI LOKAL
Langkah penting berikutnya terjadi pada 1980.
Pada tahun tersebut berdiri PT Mahakam Beta Farma yang kemudian menjadi perusahaan yang memproduksi Betadine secara lokal di Indonesia.
Langkah ini menjadi tonggak penting karena bisnis Betadine di Indonesia tidak lagi hanya berada pada tahap pemasaran dan distribusi, tetapi mulai memiliki kemampuan produksi sendiri.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana bisnis berkembang secara bertahap.
Kahar tidak langsung membangun industri farmasi besar. Ia memulai dari memahami kebutuhan konsumen melalui apotek, kemudian mengelola perusahaan, melakukan pembenahan dan akhirnya membangun kemampuan produksi.
Setiap tahapan memberikan pengalaman yang menjadi fondasi bagi perkembangan bisnis berikutnya.
BETADINE MENJADI MEREK YANG DEKAT DENGAN MASYARAKAT
Seiring berjalannya waktu, Betadine semakin dikenal masyarakat Indonesia.
Produk tersebut tidak hanya tersedia di apotek, tetapi juga menjadi bagian dari perlengkapan kesehatan di banyak rumah.
Kedekatan dengan masyarakat turut dibangun melalui berbagai kegiatan kesehatan, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan Palang Merah Remaja di lingkungan sekolah.
Hal tersebut membuat banyak generasi mengenal Betadine sejak usia muda.
Kekuatan merek kemudian semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian masyarakat bahkan menggunakan nama Betadine ketika menyebut cairan antiseptik secara umum, meskipun sebenarnya terdapat berbagai merek lain yang juga tersedia di pasaran.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana sebuah produk dapat berkembang dari sekadar barang yang dijual menjadi bagian dari ingatan masyarakat.
TERUS MENGEMBANGKAN PRODUK DAN STANDAR KUALITAS
Seiring perkembangan bisnis, Mahakam Beta Farma juga memperluas lini produk Betadine.
Produk yang tersedia tidak hanya berupa cairan antiseptik untuk luka, tetapi juga berkembang ke berbagai produk seperti obat kumur, sabun cair dan produk kebersihan lainnya.
Di sisi produksi, perusahaan juga mengembangkan standar untuk menjaga kualitas produk.
Dalam industri kesehatan, kepercayaan konsumen merupakan aset yang sangat penting. Produk kesehatan tidak hanya dinilai dari promosi, tetapi juga dari kualitas, keamanan, konsistensi produksi dan pengalaman masyarakat ketika menggunakannya.
Karena itu, penerapan standar produksi dan sertifikasi seperti Good Manufacturing Practices (GMP) serta ISO 9001 menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas.
PERUBAHAN KERJA SAMA PADA 2016
Perjalanan bisnis Betadine di Indonesia kemudian memasuki babak baru pada 2016.
Setelah lebih dari tiga dekade mengelola perkembangan Betadine di Indonesia, terjadi perubahan dalam kerja sama bisnis sehingga hak pemasaran Betadine kembali berada di bawah Mundipharma sebagai pemegang merek global.
Sementara itu, produksi Betadine tetap dipercayakan kepada Mahakam Beta Farma.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan produksi dan pengalaman panjang perusahaan di Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam rantai bisnis Betadine.
DARI KEGELISAHAN MENJADI PELUANG
Kisah perjalanan Kahar Tjandra menunjukkan bahwa bisnis besar tidak selalu lahir dari rencana besar yang langsung sempurna sejak awal.
Semuanya bisa bermula dari kemampuan melihat persoalan sederhana di sekitar.
Kahar awalnya adalah seorang dokter yang melihat masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh produk kesehatan. Dari kegelisahan tersebut kemudian muncul gagasan untuk membangun apotek.
Apotek itu bermula dari ruang tamu.
Dari sana berkembang menjadi bisnis farmasi, kemudian masuk ke produksi dan akhirnya menjadi bagian dari perjalanan panjang salah satu merek kesehatan yang sangat dikenal masyarakat Indonesia.
Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa pengalaman profesional dapat menjadi modal untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar.
Kahar tidak harus meninggalkan pengalaman sebagai dokter untuk masuk ke dunia bisnis. Justru pengalaman melihat kebutuhan pasien menjadi salah satu dasar dalam membangun usaha.
Pada akhirnya, peluang besar terkadang tersembunyi di balik persoalan sederhana yang terlihat setiap hari.
Sebuah pertanyaan mengenai bagaimana membantu lebih banyak orang dapat menjadi awal dari perjalanan bisnis yang panjang dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
