Batu Shaligram Viral Muncul Setelah Banjir Nepal, Benarkah Bukti Himalaya Pernah Berada di Dasar Laut?

0
1788152006221

Sorotan Publik — Sebuah batu berwarna gelap dengan pola spiral yang dikenal sebagai Shaligram kembali menjadi perhatian setelah foto dan video mengenai batu tersebut beredar luas di media sosial dan dikaitkan dengan banjir di Nepal.

Bentuknya yang menyerupai spiral memang menarik perhatian. Namun, di balik viralnya batu tersebut terdapat fakta geologi yang jauh lebih menarik: kawasan Himalaya memang memiliki hubungan erat dengan sejarah sebuah laut purba yang pernah memisahkan lempeng India dan Eurasia.

Shaligram dan Fosil Kehidupan Laut Purba

Shaligram, yang juga dikenal sebagai Shaligram Shila, merupakan batu yang memiliki nilai sakral dalam tradisi Hindu, khususnya dalam pemujaan terhadap Dewa Wisnu.

Secara geologi, banyak Shaligram yang ditemukan di sepanjang aliran Sungai Kali Gandaki di Nepal merupakan batu kapur yang mengandung fosil ammonite atau jejak organisme laut purba.

Fosil tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa material pembentuk kawasan Himalaya memiliki sejarah yang berkaitan dengan lingkungan laut purba.

Ammonite sendiri merupakan kelompok moluska laut yang telah punah. Cangkangnya yang berbentuk spiral dapat meninggalkan pola khas pada batu sehingga menghasilkan tampilan yang dianggap sangat unik.

Karena bentuk spiral tersebut terbentuk melalui proses alam, Shaligram kerap dianggap sebagai salah satu contoh menarik pertemuan antara sejarah geologi dan tradisi keagamaan.

Himalaya Pernah Berada di Lingkungan Laut

Jauh sebelum Himalaya menjadi pegunungan tertinggi di dunia, wilayah tersebut mengalami proses geologi yang sangat panjang.

Lempeng India bergerak ke arah utara dan bertabrakan dengan Lempeng Eurasia. Proses tumbukan tersebut berlangsung selama puluhan juta tahun dan menyebabkan lapisan batuan terangkat hingga membentuk rangkaian Pegunungan Himalaya.

Material batuan dan fosil laut yang ditemukan di kawasan Himalaya menjadi salah satu bukti penting mengenai sejarah tersebut.

Artinya, ketika seseorang menemukan fosil organisme laut di kawasan pegunungan yang sekarang menjulang ribuan meter di atas permukaan laut, hal itu bukan berarti seluruh Himalaya pernah berada dalam bentuk pegunungan di bawah laut.

Yang lebih tepat, sebagian material pembentuk wilayah tersebut berasal dari lingkungan laut purba dan kemudian mengalami pengangkatan akibat proses tektonik.

Mengapa Shaligram Begitu Istimewa?

Keistimewaan Shaligram tidak hanya berasal dari bentuk fisiknya.

Dalam tradisi Hindu, Shaligram dipandang sebagai bentuk alami yang memiliki hubungan sakral dengan Dewa Wisnu. Karena itu, batu tersebut memiliki kedudukan khusus dalam praktik keagamaan tertentu.

Sementara dari sisi ilmiah, keberadaan fosil ammonite di batu-batu Shaligram memberikan gambaran tentang perubahan bumi yang berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang.

Karena itu, viralnya Shaligram dapat menjadi pintu masuk untuk memahami dua perspektif sekaligus: nilai spiritual dalam tradisi masyarakat Nepal dan India, serta sejarah geologi Himalaya yang luar biasa.

Adapun klaim bahwa batu tertentu yang viral tersebut secara pasti berusia 140 juta tahun atau baru muncul akibat banjir perlu dibuktikan melalui identifikasi geologi terhadap spesimen dan lokasi penemuannya. Foto maupun video yang beredar di media sosial saja belum cukup untuk memastikan umur sebuah batu secara ilmiah.

Pada akhirnya, Shaligram mengingatkan kita bahwa pegunungan Himalaya menyimpan sejarah bumi yang jauh lebih tua daripada peradaban manusia.

Di balik sebuah batu hitam dengan pola spiral, tersimpan jejak kehidupan laut purba, pergerakan lempeng bumi, serta tradisi spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *