Amien Rais Soroti Pengaruh Politik Jokowi Pasca Presiden, Pernyataan Picu Perdebatan Publik
SOROTAN PUBLIK – Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, kembali melontarkan kritik keras terhadap Presiden RI ke-7 Joko Widodo terkait dinamika politik nasional pasca berakhirnya masa jabatan presiden.
Melalui kanal YouTube pribadinya yang dikutip pada Minggu (24/5/2026), Amien menyoroti apa yang disebutnya sebagai masih kuatnya pengaruh politik Jokowi dalam konstelasi nasional.
Menurutnya, terdapat upaya mempertahankan pengaruh melalui kedekatan dengan kekuatan politik tertentu, termasuk dukungan terhadap karier politik keluarga.
Dalam pernyataannya, Amien mengingatkan bahwa waktu merupakan faktor yang tidak dapat dilawan siapa pun. Ia mengaitkan pandangannya dengan nilai religius mengenai perjalanan hidup manusia dan pentingnya kesadaran terhadap proses kehidupan.
“Satu hal penting yang dilupakan Jokowi, bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini bisa melawan waktu,” ujar Amien dalam pernyataan yang kemudian ramai diperbincangkan publik.
Selain itu, Amien juga menyoroti dukungan politik terhadap keluarga Presiden. Ia menilai keterlibatan keluarga dalam arena politik nasional berpotensi memunculkan persepsi publik mengenai kuatnya pengaruh dinasti politik.
Sorotan tersebut juga diarahkan kepada Gibran Rakabuming Raka serta Bobby Nasution yang disebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengaruh politik keluarga di tingkat nasional.
Pernyataan tersebut dengan cepat memicu respons luas di ruang publik dan media sosial. Sebagian kalangan menilai kritik Amien sebagai bentuk kontrol politik dalam demokrasi yang sehat. Namun di sisi lain, ada pula yang menilai pernyataan tersebut terlalu tajam dan berpotensi bergeser ke ranah personal.
Pengamat politik menilai perdebatan mengenai pengaruh mantan pemimpin setelah tidak lagi menjabat bukanlah hal baru dalam sistem demokrasi modern. Banyak tokoh nasional maupun internasional tetap memiliki pengaruh politik, baik melalui jaringan, gagasan, maupun kedekatan dengan partai atau kelompok tertentu.
Di tengah dinamika tersebut, publik kini menyoroti satu pertanyaan besar: apakah pengaruh politik pasca kekuasaan merupakan bagian wajar dari demokrasi, atau justru menjadi awal lahirnya konsentrasi kekuatan politik baru di lingkar keluarga dan elite tertentu.
