Ahok Ungkap Pernah Dibujuk Adiknya Dukung Prabowo pada Pilpres 2019, Dijanjikan Jabatan Menteri

0
1793056190088-1

JAKARTA – Politisi PDI Perjuangan, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengungkap cerita mengenai ajakan adik kandungnya, Fifi Lety Tjahaja Purnama, agar dirinya mendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Cerita tersebut disampaikan Ahok ketika berbincang dalam podcast Helmy Yahya Bicara di kanal YouTube Helmy Yahya. Dalam perbincangan itu, Ahok mengenang kembali situasi politik menjelang Pilpres 2019, termasuk ajakan yang diterimanya ketika masih menjalani masa hukuman di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Menurut penuturan Ahok, Fifi yang berprofesi sebagai pengacara saat itu menilai dukungan Ahok dan para pendukungnya, yang dikenal dengan sebutan Ahoker, berpotensi memengaruhi dinamika persaingan politik nasional.

Ahok Mengenang Ajakan Sang Adik

Ahok menceritakan bahwa adiknya pernah menyarankan agar ia memberikan dukungan kepada Prabowo apabila telah bebas dari tahanan.

Dalam kisah yang disampaikan Ahok, Fifi menilai Prabowo mengutamakan loyalitas dan membuka peluang bagi orang-orang yang menunjukkan kesetiaan kepadanya untuk memperoleh posisi strategis di pemerintahan.

Ahok kemudian menirukan perkataan adiknya tersebut.

“Jadi begitu keluar, elu mesti dukung Prabowo, lu jadi Menteri, Prabowo mengutamakan loyalis. Buat Pak Prabowo loyal nomor satu,” kata Ahok menirukan perkataan Fifi.

Pernyataan tersebut merupakan cerita Ahok mengenai percakapannya dengan sang adik. Tidak terdapat konfirmasi dalam informasi yang tersedia bahwa tawaran jabatan menteri itu merupakan janji resmi dari Prabowo Subianto.

Situasi Politik Menjelang Pilpres 2019

Pilpres 2019 mempertemukan Joko Widodo sebagai petahana dengan Prabowo Subianto sebagai penantangnya. Dalam situasi tersebut, dukungan tokoh politik dan kelompok masyarakat menjadi salah satu bagian penting dari dinamika kampanye.

Ahok diketahui sebelumnya merupakan gubernur DKI Jakarta dan memiliki basis pendukung yang dikenal sebagai Ahoker.

Ketika Fifi menyampaikan ajakannya, menurut cerita Ahok, dukungan dari kelompok tersebut dinilai berpotensi memberikan pengaruh terhadap persaingan politik antara kedua kandidat.

Namun, Ahok mengatakan dirinya tidak mengikuti saran sang adik. Ia justru memilih berpegang pada prinsip yang diwariskan ayahnya mengenai arti kesetiaan dalam persahabatan.

Prinsip Kesetiaan yang Dipegang Ahok

Ahok mengungkapkan bahwa dirinya teringat pada pesan mengenai kesetiaan setelah membaca sebuah tulisan berbahasa Inggris.

Tulisan tersebut memuat ungkapan “a friend is always loyal”, yang secara umum berarti seorang teman selalu menunjukkan kesetiaan.

Bagi Ahok, pesan itu sejalan dengan nilai yang diajarkan ayahnya, yakni tidak mengkhianati teman demi kepentingan pribadi atau peluang memperoleh jabatan.

“Pas pagi saya baca tulisan a friend is always loyal. Itu yang diajarkan bapak saya. Bahwa teman tidak boleh mengkhianati teman,” pungkas Ahok.

Pernyataan tersebut menggambarkan alasan pribadi yang dikemukakan Ahok untuk menjelaskan keputusannya tidak mengikuti saran Fifi.

Perjalanan Ahok Setelah Menjalani Hukuman

Sebagai informasi, Ahok menjalani penahanan di Mako Brimob setelah divonis dalam perkara penodaan agama pada Mei 2017. Ia kemudian bebas pada 24 Januari 2019, beberapa bulan sebelum pelaksanaan Pilpres 2019.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan politik Ahok yang kembali disinggung dalam perbincangannya bersama Helmy Yahya.

Kisah mengenai ajakan Fifi memperlihatkan bagaimana pilihan politik, hubungan keluarga, loyalitas, dan pertimbangan pribadi dapat bersinggungan dalam dinamika politik nasional.

Meski demikian, cerita mengenai ajakan mendukung Prabowo dan peluang memperoleh jabatan menteri tersebut perlu dipahami sesuai konteks penuturan Ahok, bukan sebagai bukti adanya kesepakatan resmi antara dirinya dan Prabowo Subianto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *