Melihat Rumah KH Hasan Abdullah Sahal dari Samping, Kesederhanaan yang Menjadi Teladan di Usia 100 Tahun Gontor

0
1790086851681

PONOROGO – Sebuah potret sederhana rumah KH Hasan Abdullah Sahal dari sisi samping kembali menarik perhatian di tengah momentum satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).

Rumah tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan salah satu pimpinan Gontor yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ulama dan pendidik. Di tengah besarnya lembaga pendidikan yang dipimpinnya, kehidupan sederhana tetap menjadi bagian yang lekat dengan nilai-nilai pendidikan Gontor.

KH Hasan Abdullah Sahal merupakan salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Berdasarkan profil resmi Gontor, ia telah menjadi pimpinan pondok sejak 1985 dan saat ini memimpin PMDG bersama Drs. KH Muhammad Akrim Mariyat dan Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi.

Kesederhanaan tersebut bukan semata-mata dapat dilihat dari bangunan rumah. Dalam tradisi pendidikan Gontor, kesederhanaan memang menjadi salah satu nilai utama yang ditanamkan kepada para santri.

Gontor menjelaskan bahwa Panca Jiwa Pondok terdiri atas keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Kesederhanaan dimaknai sebagai hidup sesuai kebutuhan, wajar, dan tidak berlebihan dalam berbagai hal.

Prinsip tersebut juga pernah ditegaskan KH Hasan Abdullah Sahal dalam sebuah penyampaian yang dipublikasikan Gontor. Ia menekankan bahwa kesederhanaan tidak identik dengan kemiskinan, melainkan menjadi prinsip yang membantu seseorang bertahan dan tetap memiliki jiwa besar.

Karena itu, potret rumah KH Hasan Abdullah Sahal dari sisi samping dapat dibaca bukan sekadar sebagai gambaran tempat tinggal seorang ulama, tetapi juga sebagai bagian dari keteladanan hidup yang selaras dengan nilai pendidikan pesantren.

Pesan yang terlihat sederhana itu menjadi semakin relevan ketika Gontor memasuki usia 100 tahun.

Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada 20 September 1926 oleh tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi. Pada 2026, Gontor memperingati satu abad perjalanan pendidikannya.

Dalam momentum satu abad tersebut, Gontor tidak hanya menampilkan perjalanan sejarah lembaga, tetapi juga kembali menegaskan nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan para santri.

Pada resepsi kesyukuran 100 Tahun Gontor yang digelar September 2026, KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, melainkan menjadi pijakan untuk terus bergerak dan membangun masa depan.

Kesederhanaan menjadi salah satu pesan yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Seorang pemimpin pesantren tidak selalu harus menunjukkan kebesaran melalui kemewahan, tetapi dapat menghadirkannya melalui keteladanan, ilmu, pengabdian, dan konsistensi menjaga prinsip.

Dari rumah yang terlihat sederhana itu, tersirat sebuah pelajaran penting: ukuran kebesaran seseorang tidak selalu berada pada apa yang dimiliki dan ditampilkan, tetapi juga pada nilai yang diwariskan kepada generasi setelahnya.

Dan bagi Gontor, nilai tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan selama satu abad.

Seratus tahun Gontor bukan hanya tentang lamanya sebuah lembaga berdiri, tetapi tentang bagaimana nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah, dan pendidikan terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *