Gaya Seragam Petinggi Polri Ikut Berubah? Era Jokowi-Listyo Sigit dan Kapolri Baru Jadi Sorotan
JAKARTA – Pergantian kepemimpinan di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tidak hanya menarik perhatian dari sisi kebijakan dan arah institusi. Perubahan gaya penampilan sejumlah pejabat tinggi kepolisian juga menjadi bahan pengamatan publik.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah cara sejumlah petinggi Polri mengenakan seragam dinas. Pada periode pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), ketika Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menjabat Kapolri, tidak jarang terlihat penampilan pejabat kepolisian dengan baju seragam dikeluarkan dari celana.
Gaya tersebut memberikan kesan lebih santai dibandingkan penampilan formal yang selama ini identik dengan aparat kepolisian.
Sebagian masyarakat bahkan menggambarkannya dengan istilah Jawa, yakni klowor, untuk menyebut penampilan yang terkesan kurang rapi atau tidak terlalu formal.
Namun, apakah gaya tersebut merupakan bagian dari perubahan ketentuan berpakaian, kebiasaan personal, atau sekadar pilihan penampilan masing-masing pejabat? Hal ini tentu memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Kini, seiring pergantian kepemimpinan di tubuh Polri, muncul pengamatan berbeda. Sejumlah penampilan pejabat kepolisian terlihat kembali menonjolkan kesan formal, dengan seragam yang dikenakan lebih rapi dan baju dimasukkan ke dalam celana.
Perubahan visual tersebut kemudian memunculkan pertanyaan menarik: apakah ada perubahan standar penampilan, penegasan kembali kedisiplinan, atau hanya perbedaan kebiasaan di antara para pemimpin?
Gaya Pemimpin dan Budaya Organisasi
Dalam sebuah institusi besar seperti Polri, kepemimpinan tidak hanya tercermin melalui kebijakan, keputusan strategis, dan instruksi kedinasan. Keteladanan dalam hal sederhana juga dapat membentuk persepsi mengenai budaya organisasi.
Cara berpakaian memang bukan satu-satunya ukuran profesionalisme seorang pejabat. Namun, kerapian dan kepatuhan terhadap ketentuan seragam merupakan bagian dari disiplin serta identitas institusi.
Karena itu, menarik untuk melihat apakah perubahan penampilan yang menjadi perhatian publik tersebut juga diikuti penguatan disiplin dalam aspek lainnya.
Tentu saja, tidak tepat apabila perubahan gaya berpakaian langsung dianggap sebagai bukti perubahan kebijakan atau standar resmi Polri tanpa adanya keterangan institusional.
Polri Membutuhkan Lebih dari Sekadar Penampilan Rapi
Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap perubahan kepemimpinan membawa dampak yang lebih substansial bagi institusi kepolisian.
Kerapian seragam harus berjalan seiring dengan peningkatan integritas, profesionalisme, transparansi, dan keberanian menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Polri tidak cukup hanya terlihat rapi di hadapan kamera atau dalam kegiatan seremonial. Wibawa institusi justru harus tercermin melalui perilaku aparat dalam melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat.
Sebab, seragam boleh berubah gaya, tetapi tanggung jawab kepada rakyat tidak boleh berubah.
Pertanyaannya, apakah perubahan penampilan petinggi Polri ini sekadar perbedaan selera kepemimpinan atau menjadi bagian dari upaya membangun kembali budaya disiplin di tubuh kepolisian?
Publik tentu berharap perubahan yang terlihat dari luar juga diikuti perubahan nyata di dalam institusi.
