Kisah Gus Dur dan Santri Nakal di Tambakberas: Hendak Dikeluarkan, Justru Dipindahkan ke Ndalem Kiai

0
1789525092916-1

JOMBANG – Ada sebuah kisah yang menggambarkan cara pandang pendidikan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terhadap manusia. Ketika masih muda dan membantu mengurus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Gus Dur pernah menghadapi seorang santri yang dikenal sangat nakal.

Santri tersebut berkali-kali melakukan pelanggaran hingga membuat Gus Dur yang saat itu ikut membantu urusan keamanan pesantren merasa geregetan.

Namun, ketika bukti pelanggaran akhirnya ditemukan dan Gus Dur membawa persoalan tersebut kepada KH Abdul Fattah Hasyim, keputusan yang diberikan justru berada di luar dugaan.

Alih-alih sekadar mengeluarkan santri tersebut dari lingkungan pesantren, Kiai Fattah meminta agar santri itu dipindahkan ke ndalem, rumah beliau sendiri.

Kisah tersebut dituturkan kembali dalam sejumlah ceramah dan kisah tentang kehidupan Gus Dur dan KH Abdul Fattah Hasyim. Salah satu versi kisahnya juga disampaikan KH Anwar Zahid.

Dalam cerita tersebut, Gus Dur pada masa mudanya pernah mendapat kesempatan membantu Kiai Fattah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Salah satu tanggung jawabnya berkaitan dengan keamanan pondok dan penanganan santri yang melanggar aturan.

Pada masa itu, pelanggaran terhadap tata tertib pesantren dapat dikenai takzir atau hukuman pendidikan sesuai tingkat kesalahannya.

Salah satu santri kemudian menjadi perhatian Gus Dur karena berulang kali melakukan pelanggaran.

Bahkan, pernah terjadi kulit bedug masjid pesantren hilang sedikit demi sedikit hingga akhirnya berlubang.

Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui bahwa santri tersebut mengambil kulit bedug.

Gus Dur kemudian menanyakan alasannya.

Ketika ditanya apakah kulit bedug tersebut dijual untuk mendapatkan uang, santri itu akhirnya menjelaskan bahwa kulit tersebut justru digunakan sebagai bahan makanan.

Kulit bedug itu digoreng dan dijadikan lauk.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa di balik sebuah pelanggaran terkadang terdapat keadaan yang belum diketahui oleh orang lain.

Namun persoalan tidak berhenti di sana.

Santri tersebut kembali melakukan berbagai pelanggaran. Dalam kisah yang dituturkan, ia bahkan dicurigai masuk ke lingkungan pondok putri dan melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Gus Dur dan pengurus keamanan kemudian melakukan pemeriksaan terhadap barang-barang milik santri tersebut.

Di dalam lemarinya ditemukan sebuah pakaian dalam perempuan yang disebut berasal dari kompleks pondok putri.

Bagi Gus Dur dan para pengurus, temuan tersebut dianggap sebagai bukti yang cukup untuk membawa perkara tersebut kepada Kiai Fattah.

Para pengurus kemudian bermusyawarah dan menyimpulkan bahwa santri itu layak dikeluarkan dari pesantren.

Gus Dur pun membawa persoalan tersebut ke ndalem Kiai Fattah.

Namun respons Kiai Fattah justru membuat Gus Dur terkejut.

Dalam kisah tersebut, Kiai Fattah mempertanyakan mengapa yang dilaporkan justru santri yang masih nakal.

Menurut pesan moral yang terkandung dalam kisah itu, orang tua mengirim anak ke pesantren bukan karena anak tersebut sudah sempurna.

Mereka menitipkan anak kepada kiai agar mendapatkan pendidikan, bimbingan dan perbaikan.

Jika seorang santri belum berhasil menjadi baik, maka tugas pendidikan belum selesai.

Karena itu, ketika Gus Dur menyampaikan bahwa hasil musyawarah pengurus adalah mengeluarkan santri tersebut, Kiai Fattah tidak serta-merta menolak keputusan itu.

Santri tersebut boleh keluar dari pondok.

Tetapi ia tidak dipulangkan begitu saja.

Kiai Fattah justru meminta agar santri tersebut tinggal di ndalem.

Keputusan itu tampak tidak biasa.

Santri yang dianggap paling bermasalah justru ditempatkan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari sang kiai.

Namun di situlah inti pendidikan yang ingin ditunjukkan dalam kisah tersebut.

Dengan tinggal di ndalem, santri itu menjadi lebih dekat dengan kehidupan Kiai Fattah.

Ia menyaksikan secara langsung aktivitas sang kiai, mengikuti kegiatan keagamaan dan mendapatkan berbagai tugas yang membuatnya semakin terlibat dalam proses belajar.

Ia membantu menyiapkan kitab, mengikuti pengajian dan berada dalam lingkungan yang lebih dekat dengan sang guru.

Perlahan, menurut kisah tersebut, perilakunya berubah.

Santri yang sebelumnya sering melakukan pelanggaran mulai lebih rajin mengikuti kegiatan pesantren.

Ia juga mulai belajar membaca kitab dan mendapatkan pengalaman langsung dari kehidupan seorang kiai.

Kisah itu kemudian memiliki akhir yang tidak pernah dibayangkan Gus Dur ketika pertama kali membawa persoalan tersebut kepada Kiai Fattah.

Santri yang dahulu dikenal nakal itu disebut kemudian berubah dan pada akhirnya menjadi seorang kiai yang memiliki banyak santri.

Bahkan dalam kisah tersebut, Gus Dur dan santri itu kembali bertemu ketika keduanya sudah dewasa.

Gus Dur masih mengingat kenakalan masa lalu sahabatnya tersebut.

Pendidikan Bukan Sekadar Menghukum

Pesan paling kuat dari kisah ini bukanlah mengenai kenakalan seorang santri.

Pesannya justru berada pada cara seorang pendidik melihat manusia.

Gus Dur datang dengan logika pengurus keamanan.

Ada pelanggaran, ada bukti, ada aturan dan ada konsekuensi.

Sementara Kiai Fattah melihat persoalan dari sudut pandang seorang pendidik.

Bagi seorang pendidik, hukuman bukan selalu tujuan akhir.

Tujuan akhirnya adalah perubahan.

Seseorang yang melakukan kesalahan tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun kesalahan tidak selalu berarti bahwa masa depan seseorang juga harus berakhir.

Dalam kisah tersebut, Kiai Fattah seolah menunjukkan bahwa mengeluarkan seseorang dari lingkungan pendidikan belum tentu menyelesaikan persoalan.

Ada kalanya seseorang justru membutuhkan lingkungan yang lebih dekat, perhatian yang lebih besar dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Prinsip tersebut menjadi pesan penting dalam pendidikan: manusia tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan kesalahan yang pernah dilakukan.

Seseorang yang hari ini dianggap paling bermasalah belum tentu akan selamanya menjadi orang yang bermasalah.

Ia masih memiliki kemungkinan untuk berubah.

Melihat Manusia dari Kemungkinan Baiknya

Kisah Gus Dur dan santri tersebut juga memberikan refleksi bagi kehidupan masyarakat hari ini.

Tidak sedikit orang yang mudah memberikan label kepada seseorang berdasarkan masa lalunya.

Sekali melakukan kesalahan, seseorang dianggap akan selalu menjadi orang yang salah.

Sekali gagal, dianggap tidak akan pernah berhasil.

Padahal manusia memiliki kemampuan untuk belajar, berubah dan memperbaiki diri.

Kiai Fattah, melalui kisah tersebut, memberikan sebuah cara pandang yang berbeda.

Mendidik manusia bukan hanya tentang menghentikan kesalahan, tetapi juga tentang membuka jalan agar manusia mampu berubah.

Itulah sebabnya keputusan untuk memindahkan santri tersebut ke ndalem menjadi bagian paling kuat dari cerita.

Ia tidak dibiarkan begitu saja.

Ia tetap diberikan batas dan konsekuensi, tetapi sekaligus diberi ruang untuk memperbaiki dirinya.

Dari seorang santri yang dahulu membuat Gus Dur geregetan, menurut kisah yang dituturkan, ia kemudian tumbuh menjadi seorang kiai.

Jika kisah ini direnungkan, pelajarannya sederhana tetapi mendalam:

Jangan buru-buru menentukan masa depan seseorang hanya berdasarkan kesalahan masa lalunya.

Tegas terhadap kesalahan tetap diperlukan.

Tetapi memberi kesempatan untuk berubah juga merupakan bagian dari kebijaksanaan.

Gus Dur yang ketika muda belajar mengurus keamanan pesantren mendapatkan sebuah pelajaran yang jauh lebih besar: bahwa memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar melihat pelanggarannya.

Dan Kiai Fattah menunjukkan bahwa terkadang pendidikan terbaik bukanlah menjauhkan orang yang bermasalah, melainkan mendekatkannya kepada lingkungan yang dapat mengubah kehidupannya.

Semoga Allah SWT merahmati KH Abdul Fattah Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid, serta memberikan kita kemampuan untuk mengambil hikmah dari kisah tersebut.

Al-Fatihah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *