Ketika Keuntungan Harus Dilepas: Prinsip Bani Maulana Mulia tentang Bisnis, Integritas, dan Harga Sebuah Peluang

0
1789516177095-1

JAKARTA – Ada prinsip bisnis yang terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya bisa menjadi keputusan yang sangat mahal: ketika sebuah peluang hanya dapat diraih melalui kolusi, sogokan, uang pelicin, atau cara-cara yang tidak benar, peluang tersebut lebih baik dilepas.

Bukan karena keuntungan tidak penting. Justru karena perusahaan harus mampu membedakan antara keuntungan yang sehat dan keuntungan yang sejak awal membawa persoalan.

Prinsip semacam itu menjadi menarik ketika dikaitkan dengan Bani Maulana Mulia, Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk. Dalam cara pandang tersebut, tidak setiap kesempatan yang menghasilkan uang otomatis merupakan peluang bisnis yang layak diperjuangkan.

Ada batas yang harus dijaga ketika keuntungan mulai menuntut sesuatu yang seharusnya tidak dikorbankan: integritas.

Hal tersebut menjadi semakin relevan karena Samudera Indonesia bergerak dalam industri pelayaran dan logistik yang berhadapan dengan kontrak besar, pelabuhan, perdagangan, perizinan, serta jaringan bisnis lintas negara.

Dalam lingkungan seperti itu, persaingan tidak hanya menyangkut harga dan kualitas layanan. Ada target, kepentingan bisnis, tuntutan kecepatan, serta berbagai proses administratif yang harus dilalui.

Ketika sebuah proyek besar berada di depan mata, godaan untuk mencari jalan pintas tentu dapat muncul. Namun justru dalam situasi seperti itulah prinsip perusahaan diuji.

Pertanyaannya bukan hanya berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh, tetapi juga bagaimana keuntungan tersebut diperoleh.

Warisan Nilai dari Generasi Pendiri

Cara pandang mengenai bisnis dan integritas tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah Samudera Indonesia.

Kelompok usaha ini memiliki akar sejarah sejak awal 1950-an ketika Soedarpo Sastrosatomo mendirikan NVPD Soedarpo Corporation pada Oktober 1952.

Perusahaan tersebut bergerak dalam perdagangan, impor, dan distribusi, sebelum kemudian berkembang ke bidang keagenan kapal, bongkar muat, dan pergudangan.

Pada 13 November 1964, perkembangan berbagai usaha tersebut menjadi dasar berdirinya PT Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia”.

Dengan demikian, perjalanan Samudera Indonesia sebagai perusahaan telah melewati enam dekade, sementara jika akar usahanya sejak awal 1950-an ikut dihitung, sejarah kelompok usaha tersebut telah berlangsung lebih dari tujuh dekade.

Perjalanan sepanjang itu tentu tidak dibangun hanya oleh satu prinsip. Strategi, investasi, kemampuan membaca perubahan zaman, operasional, sumber daya manusia, jaringan, dan kemampuan melewati berbagai siklus ekonomi turut menentukan keberlangsungan perusahaan.

Namun ada satu nilai yang tetap relevan untuk dibicarakan: bagaimana sebuah perusahaan memandang keuntungan dan cara memperolehnya.

Bukan Anti Keuntungan

Menjaga integritas bukan berarti menolak keuntungan.

Perusahaan tetap harus menghasilkan laba untuk membayar karyawan, membeli dan merawat armada, melakukan investasi, mengembangkan jaringan, menghadapi perubahan pasar, serta menjaga keberlanjutan usaha.

Persoalannya bukan uang yang dihasilkan.

Persoalannya adalah cara mendapatkan uang tersebut.

Sebuah kontrak dapat menjanjikan omzet besar. Sebuah proyek dapat terlihat sangat menguntungkan. Namun apabila di baliknya terdapat tuntutan kolusi, suap, atau uang pelicin, maka keuntungan tersebut membawa risiko yang jauh lebih besar daripada angka yang tercantum dalam kontrak.

Ada biaya yang tidak selalu terlihat dalam laporan keuangan.

Berapa harga sebuah reputasi ketika rusak?

Berapa nilai kepercayaan mitra ketika hilang?

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki budaya perusahaan ketika praktik jalan belakang sudah dianggap normal?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi penting dalam tata kelola perusahaan jangka panjang.

Kompromi Kecil Bisa Menjadi Kebiasaan

Praktik yang bermasalah sering kali tidak dimulai dari perkara besar.

Awalnya bisa berupa satu pengecualian agar urusan lebih cepat selesai. Kemudian dilakukan kembali karena ingin memenangkan proyek. Setelah itu muncul pembenaran bahwa pesaing juga melakukan hal yang sama.

Sedikit demi sedikit, sesuatu yang semula dianggap tidak dapat diterima berubah menjadi kebiasaan.

Bahkan istilahnya bisa dibuat terdengar lebih ringan: uang rokok, uang koordinasi, biaya percepatan, uang terima kasih, atau berbagai istilah lain.

Namun pergantian istilah tidak otomatis mengubah substansi. Jika pembayaran tersebut dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan secara tidak semestinya, persoalan tata kelolanya tetap ada.

Ketika praktik semacam itu dibiarkan berulang, masalahnya tidak lagi sebatas perilaku individu.

Ia dapat berubah menjadi persoalan budaya organisasi.

Karyawan akhirnya dapat belajar bahwa aturan masih bisa dinegosiasikan selama target tercapai. Orang yang mampu mencari jalan belakang bahkan berisiko dianggap lebih berguna daripada mereka yang memilih mengikuti prosedur.

Perusahaan mungkin masih terlihat sehat dari luar. Pendapatan tetap masuk, proyek bertambah, dan target tercapai.

Namun fondasi tata kelolanya dapat mengalami persoalan.

Menolak Peluang Bukan Selalu Berarti Rugi

Karena itu, keputusan untuk menolak sebuah peluang tidak selalu berarti perusahaan sedang kehilangan kesempatan.

Dalam perspektif jangka panjang, keputusan tersebut dapat berarti perusahaan sedang mempertahankan sesuatu yang nilainya lebih besar daripada pendapatan satu proyek.

Reputasi tetap terjaga.

Kepercayaan mitra tidak rusak.

Karyawan memahami batas yang harus dihormati.

Manajemen memiliki ruang untuk mengambil keputusan tanpa terbebani praktik yang berpotensi menimbulkan masalah hukum dan reputasi.

Samudera Indonesia sendiri memiliki kebijakan antikorupsi dan antisuap dalam tata kelolanya, termasuk larangan terhadap pemberian atau penerimaan yang bertujuan memperoleh keuntungan secara tidak semestinya. Perusahaan juga telah menerapkan sistem manajemen anti-penyuapan ISO 37001.

Dengan demikian, gagasan mengenai integritas tidak hanya berada pada tingkat prinsip, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme tata kelola perusahaan.

Integritas Diuji Ketika Ada Uang Besar

Hampir semua perusahaan dapat berbicara tentang integritas ketika situasinya nyaman.

Kata-kata seperti kejujuran, profesionalisme, tanggung jawab, dan tata kelola yang baik mudah dimasukkan ke dalam profil perusahaan.

Ujian sesungguhnya datang ketika prinsip tersebut berhadapan dengan uang dalam jumlah besar.

Ketika kontrak besar berpotensi hilang.

Ketika target perusahaan terancam tidak tercapai.

Ketika pesaing terlihat lebih cepat karena menggunakan cara yang berbeda.

Dalam kondisi seperti itu, keputusan untuk tetap berada dalam koridor aturan menjadi jauh lebih sulit.

Prinsip yang hanya dipertahankan ketika tidak ada risiko belum benar-benar mendapatkan ujian.

Sebaliknya, ketika perusahaan mampu mengatakan tidak terhadap keuntungan yang diperoleh melalui cara yang tidak benar, di situlah prinsip tersebut mendapatkan maknanya.

Samudera Indonesia Tetap Bertumbuh

Menariknya, mempertahankan batas integritas tidak berarti sebuah perusahaan harus berhenti berkembang.

Samudera Indonesia kini memiliki bisnis yang mencakup pelayaran, logistik, pelabuhan, dan berbagai layanan dalam rantai pasok.

Perusahaan juga terus melakukan ekspansi dan investasi untuk memperkuat kapasitas bisnisnya.

Kinerja perusahaan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu prinsip integritas. Pertumbuhan bisnis merupakan hasil dari banyak faktor, mulai dari strategi, kondisi pasar, operasional, investasi, jaringan, teknologi, hingga kualitas sumber daya manusia.

Namun perjalanan panjang perusahaan tersebut memberikan konteks penting: menjaga batas etika tidak identik dengan berhenti mengejar pertumbuhan.

Justru keduanya dapat berjalan bersama ketika keuntungan ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan.

Warisan Bisnis Bukan Hanya Aset

Bagi perusahaan yang telah melewati beberapa generasi, warisan bisnis bukan hanya saham, kapal, gedung, jaringan, dan nama besar.

Ada pula nilai yang diwariskan.

Generasi berikutnya dapat menerima aset yang dibangun oleh pendahulunya. Tetapi keberlanjutan perusahaan juga bergantung pada apakah generasi tersebut mampu menjaga kepercayaan yang menyertai aset tersebut.

Sebab sebuah perusahaan dapat kehilangan reputasi jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk membangunnya.

Karena itu, kemampuan mengambil peluang memang penting dalam dunia bisnis. Tetapi kemampuan mengetahui kapan sebuah peluang harus dilepas juga merupakan bagian dari kepemimpinan.

Sebuah peluang yang hanya dapat diperoleh melalui sogokan mungkin terlihat menguntungkan pada hari ini.

Namun perusahaan yang berpikir puluhan tahun ke depan perlu menghitung harga yang lebih luas: risiko hukum, reputasi, kepercayaan, budaya organisasi, dan keberlanjutan usaha.

Pada akhirnya, prinsip tersebut membawa satu pelajaran sederhana.

Bisnis yang sehat bukanlah bisnis yang mengambil semua kesempatan yang datang. Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mampu membedakan mana peluang yang layak diperjuangkan dan mana yang harus berani ditinggalkan.

Sebab ada keuntungan yang tercatat dalam laporan keuangan.

Tetapi ada pula nilai yang tidak mudah dihitung: nama baik, kepercayaan, integritas, dan warisan perusahaan untuk generasi berikutnya.

Catatan: Artikel ini merupakan ulasan mengenai prinsip bisnis, integritas, dan tata kelola berdasarkan materi yang diberikan. Pernyataan mengenai sikap atau pandangan personal Bani Maulana Mulia sebaiknya dicantumkan bersama sumber wawancara, pidato, atau dokumen asli apabila artikel dipublikasikan sebagai laporan faktual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *