Dawuh KH Said Aqiel Sirodj: Islam dan Nasionalisme Bukan untuk Dipertentangkan, Keduanya Harus Berjalan Beriringan

0
1789516041562

JAKARTA – Pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai-nilai Islam dan kecintaan terhadap tanah air kembali menjadi perhatian. Dalam sebuah dawuh yang dinisbatkan kepada Prof. Dr. KH. Said ‘Aqiel Sirodj, MA., ditegaskan bahwa agama dan nasionalisme tidak semestinya ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

“Islam saja tanpa nasionalisme akan mudah terjebak pada sikap ekstrem, sedangkan nasionalisme saja tanpa landasan Islam akan kehilangan ruh dan arah.”

Pesan tersebut menggambarkan pentingnya membangun kehidupan beragama yang tetap memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Islam, dalam pesan tersebut, dipahami sebagai ajaran yang mendorong manusia untuk mencintai kebaikan, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Sementara nasionalisme mengajarkan kecintaan terhadap tanah air, menjaga persatuan, merawat kerukunan, serta menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.

Bagi seorang santri, kecintaan kepada agama dan tanah air tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan.

Agama menjadi landasan nilai, sementara nasionalisme menjadi salah satu jalan untuk mengamalkan kepedulian tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dengan landasan agama, kecintaan kepada bangsa diharapkan tidak berubah menjadi fanatisme yang membutakan. Sebaliknya, nasionalisme dapat mendorong keberagamaan agar tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi juga melahirkan kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan bangsa.

Pesan tersebut juga mengingatkan agar agama tidak dijadikan alasan untuk mudah menyalahkan, mengkafirkan, atau merasa paling benar sendiri.

Islam dipahami sebagai agama yang membawa rahmat dan mengajarkan akhlak, sehingga perbedaan semestinya dihadapi dengan ilmu, kebijaksanaan, dan adab.

Pada sisi lain, kecintaan terhadap bangsa juga tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan prinsip maupun nilai-nilai agama.

Santri Harus Memiliki Akar yang Kuat dan Pandangan yang Luas

Dalam pesan tersebut, santri digambarkan perlu memiliki akar yang kuat sekaligus pandangan yang luas.

Akidah dan ilmu agama menjadi akar. Akhlak menjadi batang. Sementara buahnya adalah kemanfaatan bagi umat, bangsa, dan negara.

Semangat tersebut sejalan dengan keteladanan para kiai dan ulama terdahulu yang berupaya membentuk pribadi Muslim yang taat sekaligus menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Mengaji dan memahami ilmu agama tidak berarti menutup mata terhadap persoalan masyarakat. Rajin beribadah juga harus berjalan bersama kepedulian sosial.

Begitu pula keteguhan memegang prinsip agama tetap dapat disertai sikap santun dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, kecintaan kepada ulama, umat, dan tanah air dapat ditempatkan dalam satu kerangka pengabdian yang saling menguatkan.

Negeri ini, menurut pesan tersebut, tidak cukup hanya dibangun dengan semangat. Bangsa membutuhkan iman yang menuntun, ilmu yang menerangi, akhlak yang menjaga, serta persatuan yang menguatkan.

Berbeda Pilihan Tidak Harus Bermusuhan

Pesan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Perbedaan pilihan tidak harus berujung permusuhan. Perbedaan pandangan tidak harus membuat seseorang saling meniadakan.

Selama berada dalam bingkai persaudaraan dan kemaslahatan, perbedaan dapat disikapi dengan ilmu dan adab.

Ukuran kemuliaan seseorang pun tidak semata-mata ditentukan oleh klaim kesalehan maupun klaim nasionalisme, tetapi oleh sejauh mana ilmu, iman, dan kecintaannya mampu memberikan manfaat kepada orang lain.

Pesan akhirnya mengajak generasi santri untuk menjadi pribadi yang berilmu tanpa merasa paling berilmu, mencintai bangsa tanpa terjebak fanatisme, serta menjalankan agama dengan tetap menjaga adab.

Islam mengajarkan rahmat bagi semesta. Dalam kehidupan berbangsa, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian, persaudaraan, keadilan, persatuan, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Catatan redaksi: Kutipan dan rangkaian uraian di atas disajikan berdasarkan materi yang diberikan. Untuk publikasi sebagai kutipan langsung dari KH Said ‘Aqiel Sirodj, sumber atau rekaman asli sebaiknya dicantumkan agar atribusinya dapat diverifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *