Redupnya Jakarta Sentris: Ketika Daerah Mulai Menjadi Panggung Politik Nasional

0
1789143177149-1

JAKARTA — Dulu, ada semacam hukum tidak tertulis dalam politik Indonesia: jika ingin menjadi pemimpin nasional, datanglah ke Jakarta.

Jakarta adalah panggung. Jakarta adalah pusat kekuasaan. Di sanalah elite politik berkumpul, partai politik menentukan arah, media nasional membangun citra, dan para calon pemimpin berlomba mendapatkan sorotan.

Seolah-olah, sebelum dikenal Indonesia, seorang figur harus terlebih dahulu “lulus ujian Jakarta”.

Namun, zaman berubah.

Perkembangan teknologi digital dan media sosial secara perlahan mengubah cara popularitas politik dibangun. Seorang kepala daerah di pelosok Indonesia kini dapat berbicara langsung kepada jutaan masyarakat tanpa harus menunggu diundang ke studio televisi nasional.

Prestasi, kontroversi, gaya komunikasi, kebijakan, hingga aktivitas seorang pemimpin daerah dapat langsung dikonsumsi publik nasional hanya melalui layar telepon genggam.

Di sinilah muncul fenomena baru: figur daerah tidak lagi harus datang ke Jakarta untuk menjadi terkenal.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari munculnya sejumlah figur daerah yang memiliki daya tarik jauh melampaui wilayah politiknya.

Di Jawa Barat, misalnya, Dedi Mulyadi membangun popularitas yang sangat kuat melalui aktivitasnya sebagai kepala daerah sekaligus figur yang aktif berkomunikasi dengan masyarakat melalui media sosial.

Di Maluku Utara, Sherly Tjoanda juga menjadi salah satu contoh figur daerah yang memperoleh perhatian publik luas di luar basis politik lokalnya.

Tentu, masing-masing figur memiliki konteks, karakter, basis dukungan, dan perjalanan politik yang berbeda. Namun, terdapat satu kesamaan penting: popularitas mereka tidak sepenuhnya bergantung pada panggung elite Jakarta.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa monopoli Jakarta terhadap produksi popularitas politik mulai mengalami perubahan.

Dulu, media arus utama memiliki kekuatan besar dalam menentukan siapa yang dikenal publik.

Kini, masyarakat dapat ikut menentukan siapa yang ingin mereka lihat, dengar, ikuti, dan percaya.

Dulu, popularitas politik banyak dibangun dari gedung-gedung pusat kekuasaan.

Sekarang, popularitas dapat lahir dari jalan desa, pasar, sekolah, kantor pelayanan publik, rumah warga, bahkan dari aktivitas seorang pemimpin yang direkam menggunakan telepon genggam.

Jakarta belum kehilangan kekuasaan. Tetapi Jakarta mulai kehilangan monopoli atas perhatian publik.

Ini dua hal yang berbeda.

Jakarta tetap memiliki posisi strategis sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis, media, dan jaringan elite nasional. Namun, untuk menjadi figur politik yang diperhitungkan secara nasional, seseorang tidak lagi mutlak harus membangun seluruh kariernya dari Jakarta.

Inilah yang dapat disebut sebagai “redupnya Jakarta Sentris.”

Bukan berarti Jakarta menjadi tidak penting. Justru sebaliknya, Jakarta tetap penting.

Yang mulai berubah adalah pola hubungan antara pusat dan daerah dalam membentuk popularitas serta kekuatan politik.

Selama puluhan tahun, Indonesia membangun desentralisasi dan otonomi daerah. Namun, dalam imajinasi politik nasional, cara pandang yang sentralistik masih sangat kuat.

Kita masih sering berpikir bahwa pemimpin nasional harus lahir dari lingkaran elite nasional, memiliki akses kuat ke pusat kekuasaan, atau terlebih dahulu memperoleh legitimasi dari panggung politik Jakarta.

Padahal, masyarakat di daerah memiliki pengalaman politiknya sendiri.

Mereka melihat secara langsung siapa yang bekerja.

Mereka merasakan siapa yang hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Mereka mengetahui siapa yang hanya berbicara dan siapa yang benar-benar turun ke lapangan.

Dan kini pengalaman lokal tersebut dapat dipublikasikan kepada seluruh Indonesia dalam hitungan detik.

Inilah era ketika daerah dapat menjadi panggung nasional.

Bukan tidak mungkin, ke depan semakin banyak kepala daerah maupun tokoh lokal yang memiliki popularitas nasional sebelum mereka menjadi bagian penting dari elite Jakarta.

Perubahan ini pada dasarnya dapat menjadi perkembangan positif bagi demokrasi, sepanjang popularitas digital tetap diimbangi dengan rekam jejak, kapasitas, integritas, dan kinerja nyata.

Sebab, demokrasi tidak seharusnya hanya memberikan ruang kepada mereka yang memiliki akses terhadap pusat kekuasaan.

Indonesia bukan hanya Jakarta.

Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Bali, dan ribuan daerah lainnya.

Jika selama ini jalan menuju panggung politik nasional seolah hanya memiliki satu pintu bernama Jakarta, era digital sedang membuka banyak pintu baru.

Pertanyaannya pun perlahan berubah.

Bukan lagi semata-mata, “Siapa yang paling dikenal di Jakarta?”

Melainkan:

“Siapa yang paling dipercaya rakyat Indonesia?”

Mungkin inilah salah satu perubahan penting dalam politik Indonesia hari ini.

Jakarta masih menjadi pusat kekuasaan. Tetapi daerah mulai menjadi pusat perhatian.

Dan ketika pusat perhatian mulai menyebar, peta politik nasional pun berpotensi ikut berubah.

Pada akhirnya, seorang pemimpin Indonesia tidak seharusnya hanya lahir dari hegemoni ibu kota.

Ia bisa lahir dari mana saja.

Dari kota besar maupun desa.

Dari pusat pemerintahan maupun wilayah yang selama ini hanya menjadi penonton dalam politik nasional.

Ketika rakyat daerah mampu membawa figur mereka ke panggung nasional tanpa harus terlebih dahulu memperoleh legitimasi dari lingkaran elite Jakarta, maka sebuah era politik sedang mengalami perubahan.

Era Jakarta Sentris mungkin belum berakhir, tetapi tanda-tanda keredupannya mulai terlihat.

Sebab, Indonesia semakin menyadari satu hal sederhana:

Indonesia jauh lebih besar daripada Jakarta.

#RedupnyaJakartaSentris #PolitikIndonesia #PolitikDaerah #IndonesiaBukanJakarta #SuaraDaerah #PemimpinDaerah #KDM #SherlyTjoanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *