“Sebanyak Apa Pun Salib yang Kalian Tancapkan, yang Kalian Lihat Tetap Bulan Sabit”: Jejak Sejarah Islam dan Luka Perang Bosnia

0
1788458137753

SARAYEVO — Ungkapan yang dinisbatkan kepada mantan Presiden Bosnia dan Herzegovina, Alija Izetbegović (1925–2003), tentang salib yang ditancapkan di puncak gunung dan bulan sabit yang tetap terlihat di langit, kerap dipahami sebagai metafora mengenai ketahanan identitas Islam di kawasan Balkan.

“Sebanyak apa pun salib yang kalian tancapkan di puncak gunung, setiap kali kalian menatap ke langit, yang akan kalian lihat tetaplah bulan sabit.”

Namun, atribusi kutipan tersebut kepada Izetbegović perlu ditempatkan secara hati-hati. Tanpa sumber primer yang dapat diverifikasi, kalimat itu lebih tepat disebut sebagai ungkapan yang dinisbatkan kepada Izetbegović, bukan dikutip sebagai pernyataan autentik yang telah terkonfirmasi.

Di luar persoalan atribusi tersebut, sejarah Balkan memang menyimpan catatan panjang mengenai perubahan kekuasaan, perpindahan penduduk, konflik etnis, serta perubahan lanskap keagamaan yang berlangsung selama berabad-abad.

Dari Kekaisaran Utsmaniyah hingga Perubahan Balkan

Kehadiran Islam di Balkan berkembang secara signifikan selama periode kekuasaan Kekaisaran Utsmaniyah. Masjid, madrasah, pasar, jembatan, dan berbagai bangunan wakaf menjadi bagian dari lanskap kota-kota di kawasan tersebut.

Ketika kekuasaan Utsmaniyah mengalami kemunduran sejak akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20, berbagai wilayah Balkan mengalami perang, perubahan perbatasan, migrasi penduduk, serta perubahan struktur politik.

Dalam proses tersebut, komunitas Muslim di sejumlah wilayah mengalami pengusiran, perpindahan paksa, maupun tekanan politik. Namun, kondisi di setiap wilayah berbeda sehingga sejarah Yunani, Serbia, Montenegro, Bulgaria, Bosnia, dan wilayah Balkan lainnya tidak dapat disederhanakan menjadi satu pola yang sama.

Karena itu, narasi mengenai penghancuran bangunan Islam pada masa kemunduran Utsmaniyah perlu ditempatkan dalam konteks sejarah masing-masing wilayah, bukan semata-mata sebagai satu rangkaian konflik agama antara Islam dan Kristen.

Perang Bosnia dan Penghancuran Masjid

Luka sejarah yang paling terdokumentasi mengenai penghancuran simbol-simbol keagamaan terjadi selama Perang Bosnia dan Herzegovina pada 1992–1995.

Sejumlah penelitian dan dokumen internasional mencatat bahwa bangunan keagamaan menjadi sasaran dalam konflik tersebut. Mahkamah Internasional mencatat bahwa dari sekitar 1.706 masjid yang ada di Bosnia sebelum perang, sedikitnya 985 mengalami kerusakan atau kehancuran akibat serangan pasukan Serbia Bosnia pada periode 1991–1995.

Data lain yang dihimpun oleh peneliti sejarah arsitektur András Riedlmayer mencatat bahwa secara keseluruhan 1.880 bangunan keagamaan atau properti Islam mengalami kerusakan maupun kehancuran selama perang, termasuk 527 bangunan yang dihancurkan. Angka tersebut mencakup masjid, masjid lingkungan, sekolah Al-Qur’an, kompleks sufi, makam atau tempat ziarah, serta bangunan wakaf.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mencatat bahwa sejumlah besar bangunan milik komunitas Muslim, Ortodoks Serbia, dan Katolik Roma rusak atau hancur selama perang, dalam banyak kasus berkaitan dengan upaya intimidasi etnis. Di wilayah Republika Srpska, laporan tersebut mencatat 618 masjid dan 129 gereja mengalami kehancuran.

Penghancuran itu bukan sekadar persoalan bangunan.

Masjid di Bosnia merupakan bagian dari sejarah, identitas komunitas, serta warisan budaya yang telah berkembang selama berabad-abad. Karena itu, ketika sebuah masjid dihancurkan, yang hilang bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari lanskap sejarah masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Pengadilan dan berbagai penelitian mengenai konflik Bosnia juga mendokumentasikan penghancuran situs-situs keagamaan sebagai bagian dari kekerasan yang lebih luas terhadap masyarakat sipil dan upaya pembersihan etnis.

Dari Reruntuhan Menjadi Simbol Ketahanan

Bagi masyarakat Bosnia, pemulihan masjid setelah perang kemudian menjadi salah satu simbol penting dari proses pemulihan kehidupan sosial dan budaya.

Sejumlah masjid bersejarah yang dihancurkan selama perang dibangun kembali. Ferhadija Mosque di Banja Luka, misalnya, menjadi salah satu simbol rekonstruksi warisan Islam Bosnia setelah mengalami kehancuran selama perang.

Pada 2026, penelitian baru dari Institute for Research of Crimes against Humanity and International Law di University of Sarajevo kembali mendokumentasikan skala kerusakan masjid di kawasan Bosanska Krajina. Penelitian tersebut menemukan bahwa dari 248 masjid yang berdiri di kawasan itu pada 1992, sebanyak 208 atau sekitar 83,7 persen mengalami kehancuran atau kerusakan selama perang.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Bosnia tidak dapat dilepaskan dari persoalan penghancuran warisan budaya dan keagamaan.

Tetapi sejarah juga menunjukkan sesuatu yang lain: bangunan dapat dihancurkan, sementara identitas sebuah masyarakat tidak selalu ikut hilang.

Di titik inilah metafora bulan sabit memperoleh maknanya.

Salib dan bulan sabit dalam ungkapan tersebut dapat dibaca bukan sebagai ajakan untuk mempertentangkan umat Kristen dan Muslim, melainkan sebagai simbol perebutan identitas dan ingatan dalam sejarah Balkan.

Bosnia sendiri pada dasarnya memiliki sejarah masyarakat yang multietnis dan multireligius. Karena itu, tragedi perang Bosnia justru memperlihatkan betapa berbahayanya ketika identitas agama dan etnis dijadikan instrumen politik untuk menyingkirkan kelompok lain.

Pada akhirnya, warisan Bosnia bukan hanya tentang masjid yang pernah dihancurkan atau bangunan yang kemudian dibangun kembali. Ia juga merupakan pengingat bahwa keberagaman dapat bertahan melewati perang, sementara upaya menghapus sejarah melalui kekerasan justru meninggalkan jejak yang semakin sulit dilupakan.

Bulan sabit yang disebut dalam ungkapan tersebut, dengan demikian, dapat dimaknai sebagai metafora tentang ingatan, keberlangsungan identitas, dan kemampuan sebuah masyarakat untuk bangkit dari kehancuran.

Dan sejarah Bosnia memberikan pelajaran penting: menghancurkan sebuah bangunan mungkin membutuhkan waktu singkat, tetapi menghapus ingatan sebuah masyarakat jauh lebih sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *