TAK TERPILIH BUKAN BERARTI SELESAI, BUYA SAID AQIL SIROJ TETAP JADI KEKUATAN NU

0
1788173958222

JOMBANG — Kontestasi kepemimpinan dalam sebuah organisasi tidak pernah menjadi ukuran tunggal untuk menilai pengabdian seorang ulama. Demikian pula dengan KH Said Aqil Siroj. Jika dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) beliau tidak mendapatkan amanah sebagai Rais Aam PBNU, hal tersebut tidak serta-merta menghapus jasa, pemikiran, pengalaman, dan pengaruh yang telah diberikan kepada Nahdlatul Ulama selama bertahun-tahun.

Jabatan memiliki masa. Kepemimpinan dalam sebuah forum dapat berganti. Namun, ilmu, keteladanan, pengalaman, dan kontribusi seorang ulama merupakan bagian dari perjalanan panjang organisasi yang tidak selesai hanya karena sebuah keputusan muktamar.

KH Said Aqil Siroj merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan NU modern. Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode turut mewarnai perjalanan organisasi dalam menghadapi berbagai dinamika nasional maupun internasional.

Said Aqil dan Perjalanan Panjang NU

Di tengah perubahan zaman, NU membutuhkan figur-figur yang memiliki kedalaman keilmuan sekaligus pengalaman dalam membaca persoalan bangsa. Dalam konteks tersebut, Said Aqil memiliki rekam jejak panjang sebagai ulama dan intelektual NU.

Salah satu kekuatan Said Aqil adalah keberaniannya menyampaikan pandangan mengenai persoalan keagamaan, kebangsaan, pendidikan, hingga hubungan Islam dan kehidupan sosial.

Bagi banyak warga Nahdliyin, sosoknya tidak hanya dipandang sebagai mantan Ketua Umum PBNU, tetapi juga sebagai salah satu figur yang memberikan warna terhadap diskursus keislaman dan kebangsaan di Indonesia.

Perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Justru dari perbedaan tersebut dapat lahir gagasan dan pemikiran yang memperkaya perjalanan organisasi.

Karena itu, apabila mandat Muktamar ke-35 NU akhirnya diberikan kepada figur lain, ruang pengabdian Said Aqil tetap terbuka luas.

NU Tetap Membutuhkan Ulama dan Pemikir

NU merupakan organisasi besar yang membutuhkan banyak kekuatan sekaligus. Tidak mungkin seluruh energi organisasi hanya bertumpu pada satu jabatan atau satu figur.

Ketua umum memiliki tanggung jawab organisatoris. Rais Aam memiliki tanggung jawab keulamaan. Sementara para ulama, intelektual, kiai, akademisi, dan kader di berbagai tingkatan memiliki ruang pengabdian masing-masing.

Dalam konteks itulah, pengalaman Said Aqil tetap memiliki arti penting.

NU membutuhkan ulama yang mampu menjaga tradisi keilmuan, memahami perkembangan zaman, serta berani memberikan pandangan ketika umat menghadapi persoalan yang kompleks.

Bagi warga Nahdliyin, perbedaan pilihan dalam muktamar seharusnya tidak berubah menjadi permusuhan. Setelah proses pemilihan selesai, seluruh kekuatan harus kembali diarahkan untuk membesarkan jam’iyah dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ilmu Tidak Mengenal Masa Jabatan

Kebesaran seorang ulama tidak semestinya diukur dari apakah ia sedang memegang jabatan atau tidak.

Kursi kepemimpinan dapat berpindah. Struktur organisasi dapat berubah. Tetapi ilmu yang telah diajarkan kepada murid, pemikiran yang telah diwariskan, serta keteladanan yang telah diberikan akan terus hidup dalam perjalanan generasi berikutnya.

Pesan tentang pentingnya ilmu dan pendidikan juga menjadi relevan bagi generasi muda Nahdliyin di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial.

NU ke depan tidak hanya membutuhkan jumlah warga yang besar, tetapi juga membutuhkan generasi yang berilmu, matang dalam berpikir, memahami tradisi keulamaan, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Karena itu, siapa pun yang mendapatkan amanah dalam Muktamar ke-35 harus mendapatkan dukungan untuk menjalankan tugasnya. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh NU yang tidak terpilih tetap memiliki tempat penting untuk memberikan nasihat, kritik, pemikiran, dan pengabdian.

Pada akhirnya, kemenangan dalam sebuah forum bukanlah akhir dari perjalanan. Begitu pula kekalahan bukan berarti seseorang kehilangan makna dalam sejarah organisasi.

Kursi boleh berpindah tangan, tetapi ilmu dan keteladanan tidak mengenal masa jabatan.

Bagi KH Said Aqil Siroj, perjalanan pengabdian kepada umat dan NU masih jauh dari selesai.

Justru setelah kontestasi berakhir, pengalaman dan pemikiran para ulama senior dapat menjadi kekuatan penting untuk membantu NU menghadapi tantangan masa depan.

Semoga KH Said Aqil Siroj senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, dan kekuatan untuk terus memberikan ilmu, nasihat, serta pencerahan kepada umat dan warga Nahdliyin.

Tak terpilih bukan berarti selesai. Sebab pengabdian seorang ulama tidak pernah berhenti hanya karena sebuah jabatan berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *