Luhut Bahas Masa Depan Kerja Sama Indonesia-Tiongkok, Dorong Lapangan Kerja hingga Transfer Teknologi
Hubungan Indonesia dan Tiongkok dinilai memiliki ruang kerja sama yang semakin luas seiring menguatnya komunikasi dan rasa saling percaya antara kedua negara.
Hal tersebut disampaikan Luhut Binsar Pandjaitan setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Luhut menggambarkan hubungan kedua negara layaknya persahabatan yang semakin kuat ketika kedua pihak semakin sering bertemu dan berdialog.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas komitmen untuk menjaga keberlanjutan kerja sama strategis Indonesia dan Tiongkok.
Luhut Tekankan Kerja Sama Harus Beri Dampak Nyata
Luhut menegaskan bahwa hubungan strategis Indonesia-Tiongkok tidak boleh berhenti pada proyek-proyek besar yang hanya terlihat megah di atas kertas.
Menurutnya, kerja sama bilateral harus menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat Indonesia, terutama melalui penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, dan peningkatan taraf hidup.
Pandangan tersebut menjadi penting karena hubungan ekonomi antara kedua negara terus berkembang di berbagai sektor.
Luhut juga menyebut kerja sama antara Dewan Ekonomi Nasional dan National Development and Reform Commission (NDRC) Tiongkok akan diarahkan untuk menyusun peta jalan jangka panjang bagi sejumlah agenda strategis.
Kereta Cepat hingga Energi Hijau Kalimantan Utara
Sejumlah sektor menjadi bagian dari agenda kerja sama jangka panjang tersebut, mulai dari keberlanjutan infrastruktur seperti kereta api cepat hingga pengembangan energi hijau di Kalimantan Utara.
Indonesia juga melihat pengalaman Tiongkok dalam pengentasan kemiskinan dan revitalisasi pedesaan sebagai salah satu hal yang dapat dipelajari untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat akar rumput.
Menurut Luhut, pembangunan ekonomi tidak cukup hanya berpusat pada proyek berskala besar. Pertumbuhan juga harus mampu menciptakan manfaat yang dirasakan masyarakat secara langsung.
Peluang AI dan Transformasi Digital
Kerja sama Indonesia-Tiongkok juga berpotensi diperluas ke sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta transformasi digital, termasuk pengembangan GovTech.
Namun, Luhut menekankan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap memperhatikan kedaulatan data dan keamanan siber nasional.
Selain sektor digital, pengembangan TSTH2 untuk riset biodiversitas dan teknologi kesehatan juga disebut sebagai bagian dari peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.
Indonesia memiliki sumber daya alam, biodiversitas, populasi muda, serta pasar yang besar. Sementara itu, Tiongkok memiliki modal, teknologi, dan kapasitas industri.
Indonesia-Tiongkok dan Kekuatan Global South
Luhut melihat kombinasi berbagai keunggulan tersebut dapat menjadi modal penting bagi kerja sama dua negara yang sama-sama berada dalam kelompok Global South.
Jika dijalankan berdasarkan rasa saling percaya atau trust, kerja sama Indonesia dan Tiongkok dinilai berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara sekaligus berkontribusi terhadap kepentingan yang lebih luas.
Luhut kemudian mengutip pepatah Tiongkok, “Zhì hé zhě, bù yǐ shānhǎi wéi yuǎn”, yang dimaknai bahwa bagi mereka yang memiliki kesamaan hati dan tujuan, jarak sejauh gunung dan lautan bukanlah penghalang.
Menurut Luhut, Indonesia dan Tiongkok telah menempuh perjalanan panjang dalam membangun hubungan bilateral. Kesamaan visi dan kepentingan kedua negara diyakini masih membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di masa depan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai rencana tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi program yang terukur, menciptakan nilai tambah bagi Indonesia, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
