Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen pada Semester I 2026, Tertinggi dalam 13 Tahun

0
1787044099856-1

JAKARTA — Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026. Di tengah tekanan harga energi akibat konflik geopolitik, tingginya suku bunga global, tekanan nilai tukar, serta disrupsi perdagangan, ekonomi nasional tetap mampu mencatat pertumbuhan yang kuat.

Presiden Prabowo Subianto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen, sekaligus menjadi pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dan Nota Keuangan pada Sidang Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

“Ekonomi kita pada semester pertama tahun ini tumbuh tertinggi dalam 13 tahun terakhir,” kata Prabowo.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026 tumbuh 5,45 persen. Menurut Prabowo, capaian tersebut didukung oleh permintaan domestik yang tetap solid, sementara tingkat inflasi berada pada kisaran 2,5 persen.

Berdasarkan data yang dipaparkan, pertumbuhan ekonomi semester I Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tercatat sebesar 5,17 persen pada 2014, 4,70 persen pada 2015, 5,04 persen pada 2016, 5,01 persen pada 2017, dan 5,17 persen pada 2018.

Pada 2019, ekonomi tumbuh 5,06 persen. Memasuki 2020, perekonomian Indonesia mengalami kontraksi 1,26 persen akibat dampak pandemi. Pertumbuhan kemudian kembali positif sebesar 3,10 persen pada 2021, 5,23 persen pada 2022, 5,11 persen pada 2023, 5,08 persen pada 2024, dan 4,99 persen pada 2025.

Capaian 5,45 persen pada semester I 2026 menjadi angka tertinggi dalam rentang tersebut.

Pendapatan Negara Tumbuh 21,3 Persen

Selain pertumbuhan ekonomi, Prabowo menyoroti kinerja APBN hingga akhir Juni 2026. Menurutnya, APBN tetap bekerja secara optimal untuk mendukung perekonomian sekaligus menjaga stabilitas fiskal.

“Yang lebih penting APBN kita bekerja optimal. Hingga akhir Juni 2026, pendapatan negara tumbuh tinggi 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini peningkatan yang cukup signifikan,” ujar Prabowo.

Pertumbuhan pendapatan negara tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kapasitas fiskal pemerintah di tengah dinamika ekonomi global.

Sementara itu, belanja negara tumbuh sebesar 18,2 persen. Pemerintah mengarahkan belanja tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat pelayanan publik, serta menggerakkan roda perekonomian.

Defisit APBN Tetap Terkendali

Di tengah peningkatan belanja negara, pemerintah tetap menjaga defisit APBN pada tingkat yang terkendali. Hingga akhir Juni 2026, defisit APBN tercatat sebesar 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Prabowo menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan untuk membantu masyarakat dapat berjalan beriringan dengan disiplin fiskal.

“Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91 persen terhadap PDB,” katanya.

Presiden menegaskan pemerintah tidak harus memilih antara meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kesehatan APBN. Menurutnya, kedua agenda tersebut dapat dijalankan secara bersamaan melalui pengelolaan fiskal yang hati-hati.

“Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan kedua-duanya,” tegas Prabowo.

Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen pada semester I 2026 menjadi modal bagi pemerintah untuk menjaga momentum perekonomian pada paruh kedua tahun ini.

Namun, berbagai tantangan global masih perlu diantisipasi, mulai dari dinamika geopolitik, harga energi dan komoditas, kondisi pasar keuangan global, hingga perkembangan perdagangan internasional.

Pemerintah diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi semakin dirasakan masyarakat secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *