Spanyol Peringatkan Migran agar Tak Coba Masuk Ceuta: “Petualangan yang Gagal”
CEUTA — Pemerintah Spanyol memperingatkan para migran agar tidak mencoba memasuki wilayah Ceuta secara ilegal di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi penyeberangan massal dari Maroko.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menyampaikan peringatan tersebut saat mengunjungi Ceuta pada Selasa (11/8). Ia meminta masyarakat di Maroko maupun wilayah lain di Afrika tidak mempertaruhkan keselamatan dengan mengikuti seruan penyeberangan ilegal yang beredar di media sosial.
“Jangan pertaruhkan nyawa Anda dalam petualangan yang gagal,” ujar Albares. Ia juga memperingatkan masyarakat agar tidak mempercayai informasi palsu mengenai kemungkinan memperoleh izin tinggal atau suaka setelah memasuki Ceuta secara ilegal.
Peringatan tersebut muncul menjelang Sabtu (15/8), yang disebut-sebut sebagai waktu seruan penyeberangan massal berikutnya. Pemerintah Spanyol meningkatkan kesiapsiagaan aparat keamanan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kembali arus migran dalam jumlah besar.
Keamanan Ceuta Diperketat
Otoritas Spanyol meningkatkan pengamanan di Ceuta dan Melilla menjelang potensi penyeberangan massal. Militer dilaporkan membatalkan cuti personel yang ditempatkan di Ceuta mulai Kamis, sementara Garda Sipil menangguhkan sejumlah cuti dan izin baru bagi personel yang bertugas di kedua eksklave Spanyol di Afrika Utara.
Langkah tersebut dilakukan setelah gelombang kedatangan besar pada 30 dan 31 Juli. Berdasarkan angka resmi yang dikutip pemerintah Spanyol, sekitar 72.000 orang memasuki Ceuta dari wilayah Maroko dalam peristiwa yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelumnya, Menteri Kebijakan Teritorial Angel Victor Torres sempat menyebut angka sekitar 80.000 orang. Namun, sumber pemerintah kemudian memberikan klarifikasi kepada kantor berita EFE bahwa angka resmi yang digunakan adalah sekitar 72.000 orang.
Sebagian besar pendatang telah kembali ke Maroko. Namun, Presiden Ceuta Juan Jesus Vivas mengatakan sekitar 10.000 orang masih berada dalam situasi tidak teratur. Sebagian di antaranya disebut tinggal di jalanan maupun lokasi penampungan darurat.
Spanyol Perkuat Koordinasi dengan Maroko
Pemerintah Spanyol menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah Maroko untuk menangani situasi tersebut, termasuk mempercepat proses pemulangan orang-orang yang masuk secara tidak teratur.
Albares mengatakan pemerintah Maroko telah menunjukkan kesediaan untuk menerima kembali warga yang memasuki wilayah Spanyol secara ilegal. Menurutnya, menghilangkan anggapan bahwa penyeberangan ilegal dapat memberikan keuntungan berupa izin tinggal atau status suaka merupakan bagian penting dari upaya mencegah kejadian serupa.
“Setiap orang terakhir yang masuk Spanyol secara ilegal akan kembali ke Maroko,” kata Albares.
Presiden Ceuta Juan Jesus Vivas juga mendukung pendekatan tersebut. Menurutnya, pencegahan akan lebih efektif apabila tidak ada anggapan bahwa kedatangan secara ilegal ke Ceuta dapat menjadi jalan untuk memperoleh dokumen kependudukan maupun akses suaka.
Situasi Ceuta Jadi Perhatian Eropa
Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko. Letaknya menjadikan wilayah tersebut salah satu titik yang menjadi perhatian dalam persoalan migrasi menuju Uni Eropa.
Albares juga menyoroti keputusan Italia memperketat kontrol terhadap pelancong yang datang dari Spanyol. Ia menilai Uni Eropa perlu menunjukkan solidaritas yang lebih besar dalam menghadapi persoalan migrasi dan tekanan yang dihadapi wilayah-wilayah perbatasan seperti Ceuta.
Pemerintah Spanyol kini memusatkan perhatian pada pengamanan perbatasan, koordinasi dengan Maroko, serta penanganan para migran yang masih berada di Ceuta.
Situasi menjelang 15 Agustus menjadi perhatian karena seruan penyeberangan massal yang beredar di media sosial berpotensi memicu kembali arus kedatangan dalam jumlah besar. Pemerintah Spanyol mengimbau masyarakat agar tidak mempercayai informasi yang tidak terverifikasi dan tidak mempertaruhkan keselamatan dengan mencoba memasuki wilayah Spanyol secara ilegal.
