PM Thailand Anutin Tiba di Jakarta, Kadin Teken 2 MoU dan Bidik Perdagangan Indonesia-Thailand Mendekati US$30 Miliar
JAKARTA — Kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Jakarta pada awal Agustus 2026 membuka babak baru penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Thailand. Setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, agenda bilateral berlanjut ke dunia usaha dengan lahirnya dua nota kesepahaman (MoU) antara pelaku bisnis kedua negara.
Anutin tiba di Jakarta pada Senin (3/8/2026) dan diterima Presiden Prabowo di Istana Merdeka. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis, termasuk penguatan kemitraan Indonesia-Thailand serta target peningkatan perdagangan bilateral menjadi US$20 miliar pada 2030.
Keesokan harinya, Selasa (4/8/2026), momentum kerja sama berlanjut melalui Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan dunia usaha Indonesia dan Thailand untuk membahas peluang perdagangan, investasi, rantai pasok, ekonomi hijau hingga sektor-sektor strategis lainnya.
KADIN TEKEN DUA MOU STRATEGIS
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menempatkan forum bisnis tersebut sebagai momentum untuk menerjemahkan hubungan politik kedua negara menjadi kerja sama ekonomi yang lebih konkret.
Dua MoU menjadi salah satu hasil penting forum tersebut.
MoU pertama berkaitan dengan kerja sama kelembagaan antara Kadin Indonesia dengan mitra kamar dagang Thailand. Kesepakatan ini diharapkan menjadi kanal komunikasi yang lebih terstruktur bagi pelaku usaha kedua negara dalam mencari peluang perdagangan dan investasi.
MoU kedua berfokus pada pasar karbon, sektor yang semakin strategis seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan proyek rendah emisi dan transisi menuju ekonomi hijau.
Kerja sama tersebut membuka peluang mobilisasi investasi ke berbagai proyek rendah karbon sekaligus memperkuat posisi Indonesia dan Thailand dalam perkembangan ekonomi hijau di kawasan Asia Tenggara.
PERDAGANGAN SUDAH US$17,5-18 MILIAR
Dari sisi perdagangan, hubungan ekonomi Indonesia dan Thailand sebenarnya telah memiliki basis yang cukup besar.
Nilai perdagangan bilateral saat ini berada di kisaran US$17,5 miliar hingga US$18 miliar.
Pemerintah kedua negara kemudian menetapkan sasaran peningkatan perdagangan menjadi US$20 miliar pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari agenda penguatan hubungan ekonomi kedua negara dalam beberapa tahun ke depan.
Namun dari perspektif dunia usaha, angka tersebut masih dinilai dapat ditingkatkan.
Anindya melihat peluang perdagangan bilateral dapat berkembang lebih jauh dan bahkan mendekati US$30 miliar pada 2030 apabila berbagai kesepakatan yang telah dibuat benar-benar diterjemahkan menjadi transaksi, investasi, dan penguatan rantai pasok.
Dengan kata lain, angka US$30 miliar merupakan ambisi dunia usaha yang lebih tinggi dibandingkan target resmi pemerintah sebesar US$20 miliar.
DUA EKONOMI BESAR ASEAN
Indonesia dan Thailand merupakan dua kekuatan ekonomi utama di ASEAN. Dengan jumlah penduduk gabungan yang sangat besar dan kapasitas ekonomi yang signifikan, kedua negara memiliki basis pasar yang luas untuk memperkuat perdagangan dan investasi.
Anindya menilai hubungan Indonesia-Thailand memiliki fondasi historis yang panjang. Namun potensi tersebut dinilai masih belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Kedekatan geografis, posisi strategis di ASEAN, serta karakter ekonomi yang saling melengkapi seharusnya dapat menjadi modal untuk memperbesar arus barang, jasa, investasi dan teknologi.
Karena itu, kunjungan Anutin ke Jakarta dipandang sebagai momentum untuk mengubah hubungan bilateral yang selama ini relatif stabil menjadi kemitraan ekonomi yang lebih agresif dan terukur.
PASAR KARBON HINGGA KETAHANAN PANGAN
Agenda kerja sama tidak berhenti pada perdagangan barang.
Forum bisnis Indonesia-Thailand juga membahas peluang di sejumlah sektor strategis, termasuk ketahanan pangan, investasi industri, rantai pasok produk halal, jasa keuangan, pariwisata serta ekonomi berkelanjutan.
Kehadiran Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi sekaligus Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, turut memperkuat perhatian terhadap isu investasi hijau dan transisi energi.
Kerja sama pasar karbon menjadi salah satu sektor yang berpotensi berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk proyek rendah emisi di kawasan.
MOMENTUM BARU HUBUNGAN INDONESIA-THAILAND
Kunjungan Anutin bukan sekadar agenda diplomatik. Pertemuan dengan Prabowo dan forum bisnis yang mempertemukan dunia usaha kedua negara menunjukkan adanya upaya membawa hubungan Indonesia-Thailand ke tingkat yang lebih konkret.
Pemerintah menetapkan target perdagangan US$20 miliar pada 2030. Sementara itu, Kadin melihat ruang yang lebih besar dengan ambisi perdagangan mendekati US$30 miliar.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana kesepakatan tersebut benar-benar menghasilkan proyek, investasi, ekspor, pembukaan pasar dan penciptaan lapangan kerja.
Jika momentum ini mampu dijaga, Indonesia dan Thailand tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga dapat membangun salah satu poros perdagangan dan investasi paling penting di kawasan ASEAN.
Bagi Indonesia, peluang tersebut terbuka pada berbagai sektor mulai dari pangan, manufaktur dan industri halal hingga ekonomi hijau dan pasar karbon.
Kunjungan Anutin ke Jakarta dengan demikian menjadi lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan. Ia menjadi momentum untuk menguji seberapa jauh dua ekonomi besar ASEAN mampu mengubah kedekatan diplomatik menjadi kekuatan ekonomi nyata.
