FAO Tingkatkan Kesiapsiagaan Banjir di Somalia Antisipasi Ancaman El Nino 2026
SOMALIA – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) meningkatkan langkah-langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir besar di Somalia yang diperkirakan dipicu oleh fenomena El Nino pada musim hujan Deyr 2026. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi dampak bencana terhadap jutaan warga yang hidup di wilayah paling rentan terhadap perubahan iklim.
Dalam pernyataannya, FAO menyebutkan terdapat probabilitas lebih dari 90 persen bahwa fenomena El Nino akan berkembang mulai pertengahan 2026 dan menguat selama musim hujan Deyr pada Oktober hingga Desember. Kondisi tersebut diperkirakan memicu curah hujan ekstrem, meluapnya sungai, serta banjir besar di berbagai wilayah Somalia.
Lebih dari 274 Ribu Warga Terancam Banjir
FAO memperingatkan sedikitnya 274.000 penduduk yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Shabelle berada dalam ancaman langsung apabila banjir besar benar-benar terjadi.
Selain Sungai Shabelle, kawasan sepanjang Sungai Juba juga diperkirakan mengalami peningkatan debit air yang signifikan. Oleh karena itu, FAO bersama pemerintah Somalia dan berbagai mitra kemanusiaan mulai menjalankan langkah mitigasi sebelum musim hujan tiba.
Berbagai kegiatan yang dilakukan meliputi peningkatan sistem prakiraan cuaca, penguatan sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, hingga pembersihan saluran air dan Bendung Gerak Sabuun untuk memperlancar aliran sungai.
Puluhan Ribu Keluarga Terima Bantuan Tunai
Sebagai bagian dari strategi antisipatif, FAO menyiapkan bantuan tunai berbasis prakiraan cuaca (forecast-based financing) bagi hampir 38.000 warga paling rentan.
Bantuan tersebut diharapkan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus mempersiapkan proses evakuasi sebelum banjir melanda.
Secara keseluruhan, kegiatan mitigasi diperkirakan memberikan manfaat kepada sekitar 269.000 jiwa melalui pengurangan risiko banjir dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Somalia Masih Hadapi Krisis Pangan
FAO menegaskan Somalia masih menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Negara tersebut terus mengalami siklus kekeringan dan banjir yang datang silih berganti sehingga memperburuk kondisi ketahanan pangan.
Diperkirakan sekitar enam juta penduduk Somalia akan menghadapi kerawanan pangan akut pada periode April hingga Juni, termasuk sekitar 1,9 juta jiwa yang berada pada kondisi darurat pangan.
Situasi tersebut diperparah oleh konflik berkepanjangan, lemahnya perekonomian, keterbatasan akses bantuan kemanusiaan, hingga meningkatnya harga bahan bakar dunia yang ikut mendorong kenaikan biaya transportasi dan distribusi pangan.
FAO Dorong Persiapan Sejak Dini
FAO menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dimulai jauh sebelum musim hujan tiba. Organisasi tersebut merekomendasikan pembaruan rencana penanggulangan banjir, pemeriksaan tanggul di sepanjang Sungai Juba dan Shabelle, penyiapan lokasi evakuasi, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
FAO juga mengingatkan pentingnya dukungan pendanaan internasional agar program kemanusiaan dapat terus berjalan hingga 2027. Menurut organisasi tersebut, investasi dalam langkah antisipatif jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi.
Kolaborasi pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana serta melindungi jutaan warga Somalia dari dampak El Nino yang diperkirakan semakin kuat pada akhir 2026.
