MPLS Sekolah Rakyat Digelar Bertahap di 101 Titik, Bukan Tanda Ketidakpastian tapi Bentuk Tanggung Jawab
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 resmi dimulai pada 14 Juli 2026. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dalam empat gelombang di 101 titik di berbagai daerah sebagai upaya memastikan seluruh sarana dan prasarana siap digunakan sebelum kegiatan belajar dimulai.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pelaksanaan secara bertahap bukan mencerminkan ketidakpastian, melainkan bentuk tanggung jawab pemerintah untuk memastikan setiap siswa memperoleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak sejak hari pertama.
Menurut Gus Ipul, pemerintah tidak ingin peserta didik datang ke sekolah ketika fasilitas dasar seperti ruang belajar, asrama, sanitasi, air bersih, maupun listrik belum siap sepenuhnya. Oleh karena itu, pembukaan Sekolah Rakyat disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing lokasi.
Program MPLS tahun ini dilaksanakan di 101 Sekolah Rakyat dengan total 28.478 siswa baru. Gelombang pertama dimulai pada 14 Juli 2026 di 19 lokasi Sekolah Rakyat permanen. Gelombang kedua dijadwalkan pada 31 Juli 2026 di 63 lokasi, gelombang ketiga pada 15 Agustus 2026 di delapan Sekolah Rakyat rintisan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, sedangkan gelombang keempat berlangsung pada 31 Agustus 2026 di 11 lokasi lainnya.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, MPLS Sekolah Rakyat berlangsung selama 19 hari dan dibagi ke dalam beberapa fase. Seluruh kegiatan dirancang menggunakan pendekatan ramah anak tanpa perpeloncoan maupun bentuk kekerasan, dengan tujuan membantu siswa beradaptasi terhadap lingkungan belajar dan kehidupan berasrama.
Materi MPLS meliputi pengenalan lingkungan sekolah, pembentukan karakter, literasi dan numerasi, kesehatan, perlindungan anak, literasi digital, kedisiplinan, bela negara, serta edukasi pencegahan perundungan, penyalahgunaan narkotika, perjudian daring, dan berbagai perilaku berisiko lainnya.
Selain mengikuti kegiatan pengenalan sekolah, para siswa juga menjalani pemeriksaan kesehatan gratis, asesmen psikologis, pemetaan potensi diri, serta pembiasaan kehidupan berasrama. Pada lima hari pertama, kegiatan pembinaan kedisiplinan didampingi oleh Taruna TNI dan Polri sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pembentukan kemandirian.
Setelah menyelesaikan MPLS, seluruh peserta didik akan mengikuti program matrikulasi selama kurang lebih dua setengah bulan untuk menyamakan kompetensi dasar sebelum memasuki pembelajaran reguler. Program ini disiapkan mengingat sebagian besar peserta berasal dari keluarga prasejahtera berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), termasuk anak-anak yang pernah putus sekolah atau mengalami keterbatasan akses pendidikan.
Sekolah Rakyat juga menerapkan sistem multi-entry multi-exit, sehingga siswa dapat bergabung pada waktu yang berbeda sepanjang tahun ajaran sesuai kondisi masing-masing. Setiap peserta baru tetap akan mengikuti matrikulasi sebelum masuk ke kelas reguler.
Pelaksanaan MPLS secara bertahap menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, aman, dan berkualitas. Program Sekolah Rakyat diharapkan mampu memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
