Australia dan Indonesia Luncurkan Katalis 2.0 Senilai 40 Juta Dolar AS, Perkuat Investasi dan Hilirisasi Industri Strategis
JAKARTA – Indonesia dan Australia kembali memperkuat kemitraan strategis di bidang perdagangan dan investasi melalui peluncuran Katalis 2.0, sebuah program kolaborasi senilai lebih dari 40 juta dolar Amerika Serikat (AS) yang bertujuan mempercepat implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sekaligus membuka peluang investasi baru di berbagai sektor prioritas.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu dengan Assistant Minister for Immigration sekaligus Assistant Minister for Foreign Affairs and Trade Australia H.E. Matt Thistlethwaite MP di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral kedua negara, memperluas peluang investasi, serta mendorong kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha maupun masyarakat Indonesia dan Australia.
Program Katalis 2.0 merupakan kelanjutan dari keberhasilan Katalis 1.0 yang telah berjalan pada periode 2021–2025. Pendanaan lebih dari 40 juta dolar AS dari Pemerintah Australia diarahkan untuk memperkuat implementasi IA-CEPA melalui sinergi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga berbagai lembaga ekonomi.
Assistant Minister Matt Thistlethwaite menegaskan Indonesia merupakan salah satu mitra ekonomi terpenting Australia di kawasan Indo-Pasifik. Menurutnya, kedua negara memiliki kepentingan bersama untuk menciptakan lebih banyak peluang perdagangan, meningkatkan investasi, memperkuat ketahanan ekonomi, sekaligus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Program Katalis 2.0 mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari perdagangan barang dan jasa, investasi, pendidikan, kesehatan, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Selain memperluas akses pasar, program tersebut juga mendorong keterlibatan perempuan, pelaku usaha daerah, serta kelompok yang selama ini masih memiliki keterbatasan dalam mengakses peluang ekonomi internasional.
Keberhasilan fase pertama Katalis menjadi salah satu dasar dilanjutkannya program tersebut. Di antaranya adalah keberhasilan UMKM yang dikelola perempuan Indonesia menembus pasar cokelat Australia melalui ekspor kakao, serta peningkatan kompetensi tenaga perawat Indonesia yang memperoleh pelatihan untuk bekerja di sektor kesehatan Australia.
Di sektor investasi, kerja sama Indonesia dan Australia juga semakin diperkuat melalui komitmen perusahaan teknologi Pure Battery Technologies (PBT) yang akan membangun fasilitas Precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia dengan nilai investasi sekitar 350 juta dolar AS.
Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan rantai pasok industri kendaraan listrik nasional yang terintegrasi, mulai dari pengolahan nikel, produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), pCAM, katoda, hingga sel baterai.
Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menilai investasi tersebut akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat hilirisasi mineral kritis sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional. Menurutnya, pembangunan industri pCAM merupakan mata rantai penting dalam ekosistem baterai kendaraan listrik yang selama ini masih terbatas di Indonesia.
Pemerintah optimistis penguatan kerja sama melalui Katalis 2.0, implementasi IA-CEPA, serta masuknya investasi strategis di sektor hilirisasi akan semakin meningkatkan daya saing ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperluas transfer teknologi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi utama di kawasan Asia-Pasifik.
Kolaborasi yang semakin erat antara Indonesia dan Australia juga diharapkan mampu menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan saling menguntungkan bagi kedua negara dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
