STRATEGI DAKWAH TIDAK BISA DISAMAKAN: MASYARAKAT MODERN BUTUH FONDASI KEBENARAN, MASYARAKAT TRADISIONAL BUTUH LITERASI TAUHID
Memahami Karakter Masyarakat dalam Berdakwah: Membangun Fondasi Iman dan Meluruskan Keyakinan
Dalam menyampaikan dakwah Islam, pendekatan terhadap masyarakat tidak selalu bisa disamakan. Setiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, pola pikir, tradisi, serta persoalan keyakinan yang berbeda.
Karena itu, strategi dakwah perlu mempertimbangkan karakteristik masyarakat yang menjadi sasaran penyampaian pesan keislaman.
Pemikiran tersebut disampaikan Najih Ibn Abdil Hameed dalam sebuah tulisan bertanggal Ahad, 31 Mei 2026. Ia menyoroti dua kelompok masyarakat dengan tantangan dakwah yang berbeda, yakni masyarakat modern yang terbiasa menggunakan pendekatan rasional dan masyarakat tradisional yang masih kuat dipengaruhi kepercayaan mistis.
Masyarakat Modern: Memulai Dakwah dari Fondasi Kebenaran
Masyarakat modern yang terbiasa berpikir kritis dan mengandalkan pendekatan ilmiah umumnya membutuhkan argumentasi yang sistematis ketika berhadapan dengan persoalan agama.
Dalam kelompok ini, pendekatan dakwah yang hanya mencocokkan ayat Al-Qur’an dengan penemuan sains terkadang tidak cukup meyakinkan. Bahkan, apabila dilakukan tanpa dasar metodologi yang kuat, pendekatan tersebut dapat dianggap sebagai upaya mencocok-cocokkan teks agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Menurut Najih, pembahasan sebaiknya dimulai dari fondasi yang lebih mendasar, yakni sejarah kenabian Muhammad SAW, keberadaan beliau sebagai tokoh sejarah, autentisitas Al-Qur’an, serta transmisi hadis melalui jalur periwayatan.
Pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana memastikan bahwa Al-Qur’an benar-benar berasal dari wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dan bukan hasil rekayasa generasi setelahnya?
Di sinilah pentingnya mempelajari sejarah, ilmu hadis, sanad, matan, serta metode verifikasi sumber-sumber keislaman.
Tradisi keilmuan Islam memiliki perangkat untuk menilai kredibilitas perawi dan kekuatan suatu riwayat. Dalam hadis mutawatir, banyaknya jalur periwayatan menjadi salah satu unsur penting dalam menilai keabsahan berita yang disampaikan.
Apabila fondasi kerasulan dan autentisitas sumber ajaran Islam telah dipahami, pembahasan mengenai mukjizat Nabi Muhammad SAW dapat dilanjutkan sebagai bagian dari argumentasi keimanan.
Dengan demikian, dakwah tidak terjebak dalam perdebatan tanpa ujung mengenai persoalan cabang sebelum persoalan mendasarnya dipahami.
Masyarakat Tradisional: Memperkuat Nalar Kritis dan Kemurnian Tauhid
Berbeda dengan masyarakat modern, sebagian masyarakat tradisional memiliki kedekatan dengan cerita mistis, mitos leluhur, praktik klenik, perdukunan, serta berbagai kepercayaan turun-temurun.
Dalam lingkungan seperti ini, persoalan dakwah justru sering kali bukan terletak pada sulitnya menerima keberadaan hal-hal gaib.
Sebaliknya, tantangan utamanya adalah membangun kemampuan untuk membedakan antara ajaran agama yang benar dengan cerita mistis, mitos, dan praktik yang tidak memiliki dasar keagamaan.
Islam mengajarkan bahwa perkara gaib merupakan bagian dari keimanan. Namun, kepercayaan terhadap hal gaib tidak berarti seseorang boleh menerima setiap cerita tanpa melakukan pemeriksaan.
Tidak semua orang yang mengaku memiliki kesaktian mempunyai kemampuan khusus. Tidak semua cerita tentang karamah dapat dibenarkan. Tidak semua perkataan seseorang yang dianggap tokoh agama otomatis merupakan kebenaran.
Karena itu, umat Islam perlu memahami tauhid, memperkuat literasi keagamaan, dan membiasakan diri memeriksa sumber informasi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya melakukan verifikasi sebelum menerima dan menyebarkan informasi.
Prinsip ini juga sejalan dengan tradisi ilmu hadis yang sangat memperhatikan kredibilitas perawi, kesinambungan sanad, serta kualitas isi riwayat.
Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua cerita turun-temurun merupakan ajaran Islam. Kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid harus ditinggalkan, sekalipun telah lama berkembang dalam lingkungan sosial dan budaya.
Dakwah Harus Menyentuh Akar Persoalan
Dua pendekatan tersebut memberikan pelajaran bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya materi agama yang disampaikan, tetapi juga oleh kemampuan memahami persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
Kepada masyarakat yang skeptis terhadap agama, dakwah perlu menghadirkan argumentasi sejarah, epistemologi, dan autentisitas sumber ajaran Islam.
Sementara kepada masyarakat yang mudah mempercayai cerita mistis, dakwah perlu memperkuat nalar kritis, pemahaman tauhid, dan kemampuan membedakan ajaran agama dari kepercayaan yang tidak memiliki landasan.
Pada akhirnya, Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya menerima setiap informasi tanpa pemeriksaan. Islam mengajarkan keimanan sekaligus tanggung jawab dalam menggunakan akal.
Al-Qur’an mengajak manusia berpikir, merenung, memeriksa kebenaran, dan tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
Dakwah yang baik bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan membimbing manusia memahami kebenaran berdasarkan ilmu, keyakinan, dan petunjuk Allah SWT.
Sebagaimana pesan utama tulisan Najih Ibn Abdil Hameed, yang perlu dibenahi bukan hanya persoalan-persoalan cabang, melainkan fondasi berpikir dan keyakinan masyarakat.
Sebab, ketika fondasi telah kuat, seseorang akan memiliki pegangan untuk menghadapi berbagai persoalan keagamaan tanpa mudah terombang-ambing oleh keraguan maupun cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
