Etika Dakwah Jadi Sorotan, Cholil Nafis Kritik Keras Ceramah Habib Alwi Assegaf
JAKARTA – Etika berdakwah dan kepantasan bercanda di forum keagamaan menjadi perbincangan publik setelah potongan video ceramah yang dikaitkan dengan Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf beredar di media sosial.
Perhatian masyarakat tertuju pada sejumlah pernyataan yang dinilai sebagian pihak kurang pantas, terutama ucapan yang menyangkut perempuan dan santriwati. Polemik tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M. Cholil Nafis.
Peristiwa ini kembali membuka pembahasan mengenai tanggung jawab seorang pendakwah dalam menjaga tutur kata, menghormati jamaah, dan menyampaikan pesan agama dengan penuh kebijaksanaan.
Potongan Ceramah Picu Perdebatan
Dalam rekaman yang beredar, Habib Alwi terdengar membicarakan tarif ceramah dengan menyebut nominal tertentu.
“Keluaran paling kecil dari kantong ane Rp75 juta,” demikian ucapan yang terdengar dalam potongan video tersebut.
Dalam rekaman yang sama, terdapat pula pernyataan mengenai santriwati yang dikaitkan dengan candaan tentang keinginan menjadikannya istri keempat.
Pernyataan lainnya menyangkut jamaah perempuan yang lebih tua dan perempuan yang lebih muda. Ucapan tersebut memunculkan kritik karena dinilai sebagian masyarakat membandingkan perempuan berdasarkan usia dengan cara yang berpotensi merendahkan martabat mereka.
Pada bagian lain, penceramah tersebut menyebut dirinya sedang bercanda.
Meski demikian, penjelasan bahwa suatu pernyataan dimaksudkan sebagai candaan tidak serta-merta mengakhiri perdebatan mengenai kepantasannya. Dalam forum keagamaan, humor tetap perlu mempertimbangkan konteks, posisi penceramah, serta penghormatan terhadap jamaah.
Perlu dicatat, penilaian terhadap keseluruhan ceramah sebaiknya mempertimbangkan rekaman utuh dan konteks penyampaiannya, bukan hanya potongan video yang beredar.
Cholil Nafis Sampaikan Kritik Tegas
Polemik tersebut turut mendapat perhatian KH M. Cholil Nafis, Wakil Ketua Umum MUI.
Melalui unggahan di akun X pribadinya yang disebut dipublikasikan pada 18 Oktober 2026, Cholil Nafis menyampaikan kritik terhadap ceramah yang menjadi perbincangan tersebut.
Ia menulis:
“Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya.”
Cholil Nafis juga menyampaikan kritik lebih lanjut mengenai kelayakan seseorang untuk berdakwah apabila cara penyampaiannya dinilai bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Dalam pernyataannya, ia mengatakan:
“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam.”
Pernyataan tersebut menunjukkan kerasnya kritik Cholil Nafis terhadap gaya ceramah yang dipersoalkan. Namun, untuk memastikan konteks dan keaslian kutipan, unggahan asli serta rekaman ceramah perlu diperiksa secara langsung.
Etika dan Adab Menjadi Bagian Penting Dakwah
Dakwah tidak hanya berkaitan dengan materi keagamaan yang disampaikan, tetapi juga cara seorang pendakwah berinteraksi dengan jamaah.
Humor dapat menjadi sarana untuk mencairkan suasana, membuat materi lebih mudah dipahami, dan membangun kedekatan dengan pendengar. Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan batas kesopanan dan penghormatan terhadap orang lain.
Ketika perempuan dijadikan objek candaan yang berkaitan dengan usia, penampilan, atau persoalan pribadi, masyarakat dapat mempertanyakan apakah humor tersebut sesuai dengan tanggung jawab moral seorang pendakwah.
Terlebih, forum keagamaan memiliki fungsi pendidikan dan pembinaan akhlak. Karena itu, pilihan kata dan sikap seorang penceramah menjadi bagian dari keteladanan yang diperhatikan jamaah.
Kritik terhadap perilaku tersebut juga perlu diarahkan pada ucapan, tindakan, dan konteks yang dapat diperiksa. Pendekatan ini penting agar perdebatan publik tidak berkembang menjadi penghinaan pribadi atau penilaian yang melampaui fakta.
Mimbar Agama dan Tanggung Jawab Moral
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa popularitas, status sosial, maupun latar belakang seseorang tidak menghilangkan tanggung jawab untuk menjaga etika ketika berbicara di hadapan publik.
Seorang pendakwah memiliki ruang untuk menyampaikan pesan dengan gaya yang khas, termasuk menggunakan humor. Namun, kebebasan tersebut tetap perlu diimbangi dengan kebijaksanaan, penghormatan terhadap jamaah, dan kesadaran atas dampak perkataan.
Pada akhirnya, dakwah bukan sekadar kemampuan menarik perhatian atau membuat jamaah tertawa. Dakwah juga merupakan upaya menyampaikan ilmu, membangun akhlak, dan mengajak manusia menuju kebaikan.
Mimbar agama semestinya menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keagamaan, menumbuhkan keteladanan, serta memuliakan sesama.
Sebab, pesan kebaikan akan lebih bermakna apabila disampaikan melalui cara yang baik, santun, dan tetap menjaga martabat setiap manusia.
