Perdagangan Indonesia–Rusia Tembus Rp87,37 Triliun, Sawit dan Kopi Berpeluang Perluas Pasar

0
1792225458821-1

BOGOR — Indonesia dan Rusia menjajaki perluasan kerja sama ekonomi bilateral, mulai dari perdagangan dan investasi hingga industri strategis, seperti perkapalan, penerbangan, dan teknologi. Minyak kelapa sawit, kopi, serta kakao menjadi sejumlah komoditas Indonesia yang berpeluang memperluas akses pasar di Rusia dan kawasan Eurasia.

Pembahasan tersebut dilakukan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov di Bogor, Jumat (16/10/2026), sebagaimana dilaporkan Kompas.

Perdagangan Bilateral Tumbuh 21,6 Persen

Nilai perdagangan Indonesia dan Rusia pada 2025 mencapai Rp87,37 triliun. Angka tersebut meningkat 21,6 persen dibandingkan 2024, ketika total perdagangan kedua negara tercatat sebesar Rp71,86 triliun.

Perkembangan ini menunjukkan besarnya peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Sejumlah komoditas yang menjadi bagian penting perdagangan bilateral antara lain minyak kelapa sawit, kopi, kakao, produk pertanian, dan pupuk.

Bagi Indonesia, perluasan perdagangan dengan Rusia menjadi peluang untuk meningkatkan penetrasi produk nasional di pasar internasional sekaligus memperluas tujuan ekspor.

Sawit, Kopi, dan Kakao Berpeluang Menembus Pasar Eurasia

Salah satu agenda penting yang dibahas kedua negara adalah penyelesaian proses ratifikasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia dengan Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA).

Apabila perjanjian tersebut telah diratifikasi dan berlaku efektif sesuai ketentuannya, produk unggulan Indonesia berpotensi memperoleh akses pasar yang lebih luas di negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia atau EAEU.

Produk yang memiliki peluang antara lain minyak kelapa sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur. Perluasan akses pasar diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia serta membuka kesempatan baru bagi pelaku usaha nasional.

Meski demikian, peluang tersebut tetap bergantung pada ketentuan perdagangan yang berlaku, kebutuhan pasar, persyaratan produk, dan kemampuan eksportir Indonesia memenuhi standar negara tujuan.

Kerja Sama Industri Strategis Ikut Dibahas

Selain perdagangan komoditas, Indonesia dan Rusia turut menjajaki kerja sama di sejumlah sektor strategis, termasuk industri perkapalan, penerbangan, teknologi, pertanian, serta pengembangan rantai pasok.

Kerja sama tersebut berpotensi memperluas hubungan ekonomi dari perdagangan barang menuju pengembangan industri dan peningkatan kapasitas teknologi.

Pemerintah berharap proses ratifikasi I-EAEU FTA dapat diselesaikan sebelum akhir 2026. Dengan demikian, peluang perdagangan dan investasi yang muncul dari perjanjian tersebut dapat segera ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.

Memperkuat Posisi Produk Nasional

Perluasan kerja sama Indonesia–Rusia menjadi salah satu langkah untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral sekaligus membuka peluang lebih besar bagi produk nasional di pasar global.

Dengan nilai perdagangan yang mencapai Rp87,37 triliun pada 2025, peluang pengembangan pasar masih terbuka, terutama bagi komoditas unggulan seperti sawit, kopi, dan kakao.

Namun, peningkatan perdagangan tidak hanya bergantung pada terbukanya akses pasar. Kesiapan industri, kualitas produk, efisiensi logistik, kepastian regulasi, dan kemampuan memenuhi standar internasional juga menjadi faktor penting agar pelaku usaha Indonesia dapat memanfaatkan peluang tersebut secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *