40 Nilai Hasan al-Banna yang Saya Temukan pada Sosok Dedi Mulyadi

0
1786228045670

Oleh: Adrian | Perdana.Asia

Belakangan ini, setelah saya diminta mengikuti liqo di PKS, saya kembali membaca Himpunan Risalah karya Hasan al-Banna. Buku ini memang sangat dikenal dan banyak dibaca oleh kader-kader PKS. Bagi sebagian kalangan, karya tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam memahami pemikiran dan nilai-nilai perjuangan Hasan al-Banna.

Semakin saya membaca, semakin banyak hal yang menarik perhatian saya.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: jika Hasan al-Banna hidup di Indonesia hari ini, kira-kira beliau akan lebih tertarik kepada orang yang pandai berbicara tentang Islam atau kepada orang yang bekerja secara nyata untuk kemaslahatan masyarakat?

Pertanyaan itu tentu tidak berarti saya mengatakan Dedi Mulyadi adalah pengikut Ikhwanul Muslimin. Saya juga tidak berani menyimpulkan bahwa jika Hasan al-Banna masih hidup, beliau pasti akan mendukung Dedi Mulyadi. Hal-hal seperti itu berada di luar pengetahuan saya.

Yang ingin saya sampaikan jauh lebih sederhana.

Ada sejumlah nilai yang saya temukan dalam pemikiran Hasan al-Banna dan kemudian saya lihat tercermin dalam berbagai tindakan Dedi Mulyadi. Jumlahnya mungkin puluhan. Bahkan, jika dirinci, saya menemukan sekitar 40 nilai yang menurut saya menarik untuk didiskusikan.

Tulisan ini bukan upaya untuk menyamakan kedua tokoh tersebut. Ini adalah pembacaan pribadi saya terhadap nilai-nilai yang saya temukan dalam karya Hasan al-Banna dan tindakan Dedi Mulyadi.

Amal sebagai Bukti Nyata

Dalam Risalah Ta’lim, Hasan al-Banna menempatkan amal sebagai bagian penting dari proses perjuangan. Ilmu dan keikhlasan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi harus melahirkan tindakan nyata yang memberikan manfaat.

Di titik inilah saya melihat sesuatu yang menarik dari Dedi Mulyadi.

Kita sering melihat aktivitasnya turun langsung ke tengah masyarakat. Mulai dari membantu warga, memperhatikan anak yatim, membantu masyarakat yang sakit, membersihkan lingkungan, menata fasilitas pendidikan, hingga ikut menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Sebagian orang menyebut aktivitas tersebut sebagai konten.

Itu adalah penilaian masing-masing.

Namun saya justru ingin mengajukan pertanyaan lain: apakah sebuah perbuatan baik otomatis kehilangan nilainya hanya karena dilakukan di depan kamera?

Menurut saya, persoalan keikhlasan bukan sesuatu yang bisa kita putuskan dari luar.

Al-Qur’an sendiri memberikan ruang mengenai menampakkan maupun menyembunyikan sedekah. Dalam QS Al-Baqarah ayat 271 disebutkan bahwa menampakkan sedekah merupakan sesuatu yang baik, sementara menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan juga memiliki keutamaan.

Karena itu, saya merasa kita perlu berhati-hati ketika menilai niat seseorang.

Kamera mungkin dapat merekam tindakan seseorang, tetapi kamera tidak dapat merekam isi hatinya.

Soal keikhlasan, biarlah menjadi urusan manusia dengan Allah.

Tugas kita bukan membongkar isi hati orang lain, melainkan memastikan bahwa diri kita sendiri juga memiliki amal yang nyata.

Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

Hasan al-Banna juga menekankan pentingnya seorang Muslim menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Nilai tersebut menurut saya terlihat dalam berbagai aktivitas sosial Dedi Mulyadi.

Ia kerap turun langsung ketika menemukan masyarakat yang sedang menghadapi persoalan. Bagi sebagian orang, tindakan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi orang yang sedang berada dalam kesulitan, pertolongan kecil dapat memiliki arti yang sangat besar.

Saya teringat cerita mengenai seorang sopir truk yang mengalami masalah di perjalanan.

Di tengah banyak kendaraan yang melintas, pertolongan akhirnya datang dari Dedi Mulyadi.

Saya tidak bermaksud menjadikan satu kejadian sebagai ukuran mutlak seseorang. Namun cerita semacam itu menunjukkan satu hal yang sederhana: kepedulian terkadang justru terlihat ketika seseorang mau berhenti sementara orang lain memilih melanjutkan perjalanan.

Menjadi bermanfaat tidak selalu membutuhkan jabatan.

Kadang hanya membutuhkan kemauan untuk berhenti, melihat persoalan, lalu membantu.

Kekuasaan sebagai Amanah

Kemudian saya sampai pada pembahasan mengenai kepemimpinan.

Dalam pemikiran Hasan al-Banna, kekuasaan bukan sekadar fasilitas atau hak istimewa. Pemerintahan harus diarahkan untuk melayani masyarakat, menjaga keadilan, mengelola sumber daya secara bertanggung jawab, serta mendorong pembangunan yang memberikan manfaat bagi rakyat.

Di sinilah saya melihat kebijakan Dedi Mulyadi di Jawa Barat menarik untuk dicermati.

Kebijakan efisiensi anggaran, peninjauan terhadap pengeluaran yang dianggap tidak prioritas, serta berbagai keputusan untuk mengarahkan sumber daya pemerintah kepada pelayanan publik menunjukkan sebuah gagasan bahwa anggaran negara atau daerah semestinya kembali kepada kepentingan masyarakat.

Dedi Mulyadi juga beberapa kali menyampaikan sikap mengenai pembatasan atau pengurangan berbagai fasilitas yang melekat pada jabatan.

Tentu, setiap kebijakan pemerintah tetap layak dikritisi dan diuji secara objektif.

Tidak ada pemimpin yang kebijakannya harus diterima tanpa pertanyaan.

Namun dari sisi gagasan, saya melihat ada sesuatu yang menarik: bagaimana kekuasaan dipandang sebagai alat pelayanan, bukan semata-mata fasilitas bagi penguasa.

Perbedaan Tidak Harus Menjadi Permusuhan

Ada bagian lain dari pemikiran Hasan al-Banna yang menurut saya sangat relevan dengan kehidupan politik dan sosial hari ini.

Perbedaan dalam persoalan cabang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan dan memecah persaudaraan.

Bagi saya, ini penting.

Kita hidup di tengah masyarakat yang memiliki perbedaan pandangan politik, organisasi, mazhab, budaya, dan pilihan kepemimpinan.

Perbedaan tersebut merupakan kenyataan yang tidak mungkin dihapus.

Yang perlu dijaga adalah bagaimana perbedaan tidak berubah menjadi kebencian.

Dalam konteks Dedi Mulyadi, saya melihat sebagian masyarakat dapat menerima dan menyukai pendekatannya meskipun ia tidak selalu tampil dengan simbol-simbol keagamaan yang mencolok.

Mengapa?

Mungkin karena masyarakat memiliki ukuran sendiri.

Mereka melihat tindakan.

Mereka merasakan manfaat.

Mereka menilai cara seseorang memperlakukan orang lain.

Pada akhirnya, atribut memang dapat memberikan identitas. Tetapi perilaku memberikan kesan yang jauh lebih panjang.

Rakyat dapat melihat seseorang dari pakaian dan simbol yang dikenakannya, tetapi mereka juga dapat menilai seseorang dari apa yang dilakukan ketika berhadapan dengan penderitaan orang lain.

Dakwah Tidak Hanya Berbicara

Saya masih akan melanjutkan membaca Himpunan Risalah dan karya-karya Hasan al-Banna lainnya.

Masih banyak bagian yang menurut saya menarik untuk didiskusikan.

Semakin saya membaca, semakin saya memahami bahwa perjuangan yang dibicarakan Hasan al-Banna tidak hanya berkaitan dengan organisasi atau simbol.

Ada nilai tentang keikhlasan.

Ada amal.

Ada akhlak.

Ada pengorbanan.

Ada disiplin.

Ada persaudaraan.

Dan ada kebermanfaatan bagi umat.

Karena itu, saya mulai melihat bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam membawa nilai-nilai kebaikan tidak hanya terletak pada seberapa banyak ia berbicara tentang kebaikan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar kebaikan itu benar-benar dirasakan oleh manusia di sekitarnya?

Di sinilah saya menemukan sejumlah kemiripan nilai yang menurut saya menarik antara apa yang saya baca dari Hasan al-Banna dan apa yang saya lihat dalam tindakan Dedi Mulyadi.

Sekali lagi, ini bukan klaim bahwa Dedi Mulyadi adalah pengikut Hasan al-Banna.

Bukan pula klaim bahwa Hasan al-Banna pasti akan mendukung Dedi Mulyadi seandainya beliau hidup hari ini.

Ini hanyalah pembacaan saya terhadap nilai.

Dan justru karena itu, saya kira diskusi semacam ini penting.

Sebab terkadang kita terlalu sibuk menilai siapa yang paling benar dalam berbicara tentang kebaikan, sampai lupa melihat siapa yang sedang mengerjakan kebaikan.

Pada akhirnya, saya teringat sebuah kalimat sederhana: banyak orang mengaku mencintai Layla. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah Layla juga mencintainya?

Mungkin begitu pula dengan nilai-nilai yang kita klaim kita cintai.

Bukan hanya seberapa sering kita mengatakan mencintainya, tetapi seberapa jauh kita benar-benar menjalankannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *