Yai Said Aqil Siroj Masih Jadi Idola Banyak Nahdliyyin, Kursi Bisa Berganti tetapi Ketokohan Ulama Tak Otomatis Hilang
Jakarta — Pergantian jabatan dalam sebuah organisasi tidak selalu berarti berakhirnya pengaruh seorang tokoh. Dalam tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama (NU), kedudukan struktural dan ketokohan memiliki dimensi yang berbeda.
Hal itu pula yang membuat nama KH Said Aqil Siroj tetap menjadi perhatian sebagian warga nahdliyyin meskipun dinamika kepengurusan dan kontestasi organisasi terus mengalami perubahan.
Bagi para pendukung dan nahdliyyin yang masih menaruh hormat kepadanya, KH Said Aqil Siroj bukan sekadar sosok yang pernah berada di posisi strategis dalam struktur PBNU. Ia dipandang sebagai ulama yang memiliki perjalanan panjang dalam bidang keilmuan, dakwah, pemikiran Islam, dan pengabdian kepada NU.
Karena itu, berakhirnya sebuah periode kepengurusan tidak serta-merta menghapus hubungan antara seorang ulama dengan umat yang selama ini menghormati dan mengikuti pemikirannya.
Jabatan Bisa Berubah, Ketokohan Tidak Otomatis Berakhir
Dalam organisasi, jabatan memiliki masa dan mekanisme pergantian. Seseorang dapat menduduki posisi tertentu pada satu periode dan tidak lagi berada di posisi tersebut pada periode berikutnya.
Namun ketokohan seorang ulama tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan.
Ada proses panjang yang membentuknya: pendidikan, sanad keilmuan, dakwah, karya pemikiran, pengabdian, keteladanan, serta hubungan yang dibangun dengan umat selama bertahun-tahun.
Karena itu, mengukur pengaruh seorang kiai hanya berdasarkan apakah ia sedang memegang jabatan atau tidak akan memberikan gambaran yang terlalu sederhana mengenai tradisi keulamaan.
Seorang ulama dapat kehilangan jabatan struktural, tetapi tetap memiliki ruang besar dalam kehidupan umat.
Sebaliknya, seseorang dapat memperoleh jabatan tinggi tanpa otomatis memiliki kedalaman ketokohan yang sama.
Yai Said dan Jejak Panjang di NU
KH Said Aqil Siroj dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting NU. Ia pernah memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama dua periode.
Dalam perjalanan tersebut, pemikiran dan gagasannya mengenai Islam, kebangsaan, pesantren, pendidikan, serta kehidupan sosial menjadi bagian dari diskursus yang berkembang di lingkungan NU dan masyarakat Indonesia.
Jejak panjang tersebut membuat namanya tidak mudah dilepaskan hanya dari persoalan posisi struktural.
Bagi sebagian nahdliyyin, penghormatan kepada Yai Said tumbuh dari perjalanan tersebut.
Karena itu, ketika dinamika organisasi berubah, tidak mengherankan apabila masih terdapat warga yang tetap mendengarkan pandangan, mengikuti ceramah, membaca karya, maupun menjadikan beliau sebagai salah satu rujukan keagamaan dan kebangsaan.
NU Bukan Sekadar Persoalan Kursi
NU merupakan organisasi besar dengan sejarah panjang dan basis sosial yang sangat luas.
Di dalamnya terdapat struktur organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, ulama, kiai, santri, dan jutaan warga yang memiliki latar belakang serta pandangan beragam.
Karena itu, dinamika kepemimpinan merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi.
Namun, pergantian struktur tidak seharusnya membuat penghormatan kepada ulama dipahami semata-mata melalui hasil kontestasi.
Kemenangan dalam sebuah forum organisasi memberikan legitimasi struktural sesuai mekanisme yang berlaku.
Tetapi ketokohan memiliki sumber legitimasi yang berbeda: kepercayaan dan penghormatan umat yang dibangun dalam perjalanan panjang.
Di sinilah perbedaan antara jabatan dan ketokohan menjadi penting.
Kursi Bisa Berganti, Hubungan dengan Umat Tetap Ada
Pernyataan bahwa Yai Said masih menjadi idola banyak nahdliyyin tentu merupakan pandangan yang perlu ditempatkan sebagai aspirasi sebagian warga, bukan digeneralisasi sebagai suara seluruh warga NU.
NU memiliki spektrum pandangan yang luas.
Ada yang mendukung tokoh tertentu, ada yang memilih tokoh lain, dan ada pula yang tidak ingin terlibat dalam kontestasi kepemimpinan.
Namun satu hal yang dapat dipahami: ketokohan tidak otomatis berakhir hanya karena jabatan berakhir.
Pengaruh seorang ulama dapat tetap hidup melalui pengajian, karya, pendidikan, pesantren, gagasan, murid, dan hubungan sosial yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Ketokohan Diuji oleh Waktu
Pada akhirnya, waktu menjadi salah satu ukuran paling jujur bagi sebuah ketokohan.
Jabatan dapat memberikan kekuasaan dalam periode tertentu.
Tetapi setelah jabatan berakhir, yang tersisa adalah jejak pengabdian.
Apakah gagasannya masih dibicarakan?
Apakah karya-karyanya masih dibaca?
Apakah nasihatnya masih didengar?
Apakah umat masih menghormatinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat siapa yang sedang duduk di sebuah kursi organisasi.
Karena itu, tidak perlu tergesa-gesa menyatakan seorang tokoh telah selesai hanya karena tidak lagi berada dalam posisi struktural tertentu.
Sejarah pengabdian seorang ulama tidak otomatis berakhir ketika masa jabatan berakhir.
Yai Said Tetap Memiliki Ruang dalam Perjalanan NU
KH Said Aqil Siroj boleh saja tidak lagi memegang jabatan tertentu.
Namun bagi warga nahdliyyin yang masih mencintai, menghormati, dan menjadikan pemikirannya sebagai rujukan, posisi beliau sebagai tokoh tetap memiliki arti.
Inilah perbedaan antara jabatan dan ketokohan.
Jabatan memiliki periode.
Ketokohan dibangun oleh perjalanan.
Jabatan dapat diberikan melalui mekanisme organisasi.
Tetapi kecintaan umat tidak dapat diperintahkan melalui keputusan struktural.
Pada akhirnya, NU bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi.
NU juga tentang para ulama yang telah memberikan waktu, ilmu, gagasan, dan pengabdian kepada umat.
Dan selama masih ada nahdliyyin yang mendengar dawuh, membaca karya, mengikuti pemikiran, serta memberikan penghormatan kepada Yai Said Aqil Siroj, maka jejak ketokohannya jelas belum selesai.
Kursi bisa ditinggalkan. Struktur bisa berubah. Periode bisa berakhir. Tetapi penghormatan umat kepada seorang ulama dibangun oleh perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sebuah masa jabatan.
