Video Pohon Terakhir di Hutan Merauke Ditebang Ekskavator, Kuskus di Dahan Jadi Sorotan

0
1786229518678-1

MERAUKE — Sebuah video yang kembali ramai diperbincangkan di media sosial sejak awal Agustus 2026 menampilkan detik-detik sebuah pohon di kawasan hutan yang telah terbuka di Merauke, Papua Selatan, ditumbangkan menggunakan alat berat. Rekaman tersebut menjadi sorotan karena sejumlah kuskus terlihat masih bertahan di dahan pohon sebelum pohon roboh.

Video yang kembali beredar pada Agustus 2026 itu sebenarnya telah diunggah di media sosial sejak Mei 2026. Dalam rekaman, alat berat jenis ekskavator terlihat merobohkan pohon di tengah kawasan yang tampak telah mengalami pembukaan lahan.

Sejumlah unggahan mengaitkan lokasi kejadian dengan pembukaan lahan untuk proyek cetak sawah di Merauke. Namun, informasi mengenai lokasi persis, status perizinan pembukaan lahan, serta kronologi lengkap kejadian belum dapat dipastikan secara independen berdasarkan rekaman yang beredar.

Kuskus Terlihat Bertahan di Atas Pohon

Bagian yang paling menyita perhatian dalam video adalah keberadaan sejumlah kuskus yang terlihat berpegangan pada dahan pohon ketika alat berat melakukan penebangan.

Dalam narasi yang menyertai salah satu unggahan, pemilik akun menyebut sempat berupaya mencari dan memindahkan satwa tersebut setelah pohon tumbang. Namun, menurut narasi tersebut, satwa tidak ditemukan.

Hingga kini belum terdapat informasi resmi yang dapat memastikan kondisi satwa setelah pohon tersebut roboh.

Karena itu, klaim bahwa kuskus dalam video tersebut pasti mati atau mengalami kondisi tertentu perlu dihindari sampai terdapat keterangan dari pihak yang memiliki kewenangan atau hasil pemeriksaan lapangan.

Identitas Spesies Belum Dipastikan

Identitas pasti kuskus yang terlihat dalam rekaman juga belum dapat dipastikan hanya berdasarkan video yang beredar.

Sejumlah unggahan di media sosial menyebut satwa tersebut sebagai kuskus Waigeo (Spilocuscus papuensis). Namun, penyebutan tersebut perlu diverifikasi secara ilmiah.

Kuskus Waigeo merupakan satwa yang memiliki persebaran alami di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Sementara itu, lokasi yang disebut dalam video berada di Merauke, Papua Selatan, sehingga identifikasi tersebut tidak dapat langsung dianggap benar tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Karena terdapat berbagai jenis kuskus di Papua dan wilayah sekitarnya, identifikasi spesies idealnya dilakukan berdasarkan ciri morfologi yang memadai atau pemeriksaan oleh ahli satwa liar.

Pembukaan Hutan dan Ancaman bagi Satwa

Terlepas dari identitas spesies dalam video, keberadaan satwa liar yang masih berada di dalam pohon ketika proses pembukaan lahan berlangsung kembali memperlihatkan tantangan dalam pengelolaan habitat satwa di tengah perubahan penggunaan lahan.

Pembukaan hutan dapat menghilangkan tempat berlindung dan sumber makanan satwa. Satwa yang kehilangan habitat juga berpotensi mengalami stres, berpindah ke kawasan lain, atau mendekati permukiman manusia untuk mencari makanan.

Situasi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

Karena itu, proses pembukaan lahan di kawasan yang menjadi habitat satwa perlu mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberadaan satwa sebelum kegiatan dilakukan.

Status Satwa dan Proses Evakuasi Jadi Perhatian

Kuskus termasuk kelompok satwa yang mendapatkan perlindungan berdasarkan ketentuan konservasi yang berlaku di Indonesia. Namun, status perlindungan setiap spesies perlu dipastikan berdasarkan identifikasi jenisnya.

Video tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai prosedur penyelamatan satwa sebelum pembukaan lahan dilakukan.

Jika keberadaan satwa liar telah diketahui di area yang akan dibuka, langkah mitigasi seperti survei satwa, penyelamatan, pemindahan ke habitat yang sesuai, dan pengawasan ekologis menjadi penting untuk mencegah korban satwa.

Namun, sampai saat ini belum terdapat keterangan resmi mengenai apakah proses identifikasi atau evakuasi satwa telah dilakukan sebelum pohon dalam video ditebang.

Menunggu Klarifikasi Otoritas

Hingga informasi ini disusun, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan secara lengkap kronologi kejadian, lokasi persis pengambilan video, status kegiatan pembukaan lahan, maupun kondisi kuskus setelah pohon tempat mereka berlindung ditumbangkan.

Keterangan dari otoritas konservasi dan pihak terkait diperlukan untuk memastikan fakta di lapangan serta menghindari kesimpulan berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial.

Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pembukaan lahan perlu berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati.

Verifikasi lapangan, pengawasan lingkungan, serta langkah penyelamatan satwa sebelum pembukaan habitat menjadi bagian penting agar pembangunan tidak menimbulkan dampak yang tidak perlu terhadap satwa liar.

Publik juga diimbau untuk tidak menyebarkan informasi mengenai identitas spesies, lokasi, ataupun kondisi satwa sebagai fakta pasti sebelum mendapatkan verifikasi dari sumber yang berwenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *