Undang Aktivis Antikorupsi, Dedi Mulyadi Disebut Sedang Lakukan “Bunuh Diri Politik”

0
1788393649296

BANDUNG — Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang disebut mengundang Botok dan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu mendapat sorotan dari aktivis asal Cirebon, Heru Cirebon.

Heru menilai langkah tersebut berpotensi menjadi “bunuh diri politik” bagi Dedi Mulyadi, terutama jika dikaitkan dengan perjalanan karier politiknya menuju Pemilu 2029.

Menurut Heru, Dedi Mulyadi merupakan salah satu figur politik yang memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas tinggi. Namun, menurut pandangannya, modal politik tersebut harus diikuti dengan keberanian dalam menghadapi berbagai persoalan publik, termasuk isu pemberantasan korupsi.

“ Saya sangat yakin bahwa hari ini KDM sedang mengalami kiamat dan mengubur dirinya dalam-dalam dalam kegiatan politik yang saya kategorikan sebagai politik membinasakan dirinya,” ujar Heru.

Heru Kritik Penggunaan Isu Antikorupsi

Heru juga menyoroti isu pemberantasan korupsi, termasuk seruan untuk menangkap koruptor kelas kakap dan penerapan hukuman berat bagi pelaku korupsi.

Ia mempertanyakan apabila isu antikorupsi dan hukuman terhadap koruptor justru digunakan untuk kepentingan yang dinilainya sangat sempit, terutama kepentingan elektoral dan politik.

Menurut Heru, keberanian dalam pemberantasan korupsi seharusnya ditunjukkan melalui sikap dan tindakan yang konsisten, bukan semata-mata melalui komunikasi politik.

“Pemberantasan korupsi, dan tangkap koruptor kelas kakap, hukuman mati buat koruptor, tetapi justru dibelokkan untuk kepentingan sangat sempit sekali, kepentingan elektoral, kepentingan politik,” katanya.

Heru Sebut Isu Antikorupsi Bisa Jadi Bumerang

Heru kembali menegaskan bahwa penggunaan isu antikorupsi dalam komunikasi politik, tanpa keberanian menghadapi persoalan-persoalan besar, menurutnya justru dapat menjadi bumerang bagi seorang politisi.

Ia menilai momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap agenda pemberantasan korupsi dan kepentingan masyarakat.

“Ini kesempatan Dedi Mulyadi yang terakhir kalinya dalam karir politiknya memanfaatkan aktivis kemanusiaan, antikorupsi, hukuman mati bagi koruptor untuk kepentingan pribadinya,” pungkas Heru.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan kritik politik Heru Cirebon terhadap langkah Dedi Mulyadi. Adapun penilaian mengenai motif politik maupun dampaknya terhadap perjalanan politik Dedi Mulyadi merupakan bagian dari perspektif Heru dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kepentingan politik tertentu.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat tanggapan Dedi Mulyadi dalam materi yang menjadi dasar pemberitaan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *