Uang Sitaan Korupsi Bantu Danai MBG, LaNyalla: Keadilan Substantif yang Konkret

0
1778211282155-1

SOROTAN PUBLIK – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyatakan dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang merencanakan penggunaan dana sitaan hasil kejahatan korupsi untuk membantu pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penguatan Koperasi Desa Merah Putih.

Menurut LaNyalla, kebijakan tersebut secara prinsip mencerminkan keadilan substantif, karena mengembalikan nilai ekonomi yang sebelumnya dirampas oleh praktik korupsi untuk kembali kepada rakyat dalam bentuk manfaat langsung.
“Saya mendukung. Selain untuk mengurangi beban APBN, pada hakikatnya ini adalah mengembalikan uang rakyat kepada pemilik sahnya, yaitu rakyat itu sendiri melalui program yang secara langsung juga diterima oleh rakyat,” ujar LaNyalla di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

LaNyalla juga mengutip kajian yang dilakukan KADIN Indonesia, yang menyebut bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berkembang menjadi salah satu intervensi publik terbesar dalam sejarah ekonomi Indonesia modern.
Ia menjelaskan, sekitar Rp900 miliar uang yang berputar setiap hari dalam jaringan dapur MBG menciptakan sirkulasi ekonomi berbasis komunitas yang sangat luas dan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi rakyat.
“Ini menjadi salah satu mekanisme sirkulasi uang berbasis komunitas terbesar yang pernah dibangun negara ini,” tegasnya.

Lebih lanjut, LaNyalla menyoroti hasil kajian BPS yang menunjukkan bahwa pada tahun 2025, injeksi anggaran sebesar Rp43,28 triliun mampu menghasilkan dampak output ekonomi hingga Rp294,08 triliun, atau dengan rasio pengganda (multiplier effect) sekitar 1:7.
Menurutnya, angka tersebut membuktikan bahwa MBG bukan sekadar program konsumtif, melainkan instrumen penggerak ekonomi yang signifikan.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya penguatan rantai pasok bahan baku agar program ini berkelanjutan. Ia menolak ketergantungan pada impor, khususnya untuk komoditas seperti susu sapi.
“Pasokan susu sapi kita untuk kebutuhan MBG masih jauh dari cukup. Ini harus dipikirkan. Peternak skala kecil harus dibesarkan,” ujarnya.

LaNyalla menekankan bahwa Koperasi Desa Merah Putih harus berfungsi sebagai off-taker bagi petani, peternak, dan pekebun kecil di desa-desa, sehingga tercipta rantai pasok lokal yang kuat dan berkelanjutan.
“Jangan sekadar menjadi mini market baru yang hanya menjual produk industri besar. Koperasi desa harus menjadi penguat ekonomi rakyat, bukan perpanjangan tangan distribusi korporasi besar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *