Tiga Ulama Besar NU yang Jadi Sorotan Jelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas
Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sejumlah ulama dan tokoh senior NU kembali menjadi perhatian publik. Di antara nama yang banyak dikenal di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., dan KH. Afifuddin Muhajir.
Ketiganya memiliki latar belakang keilmuan dan perjalanan pengabdian yang berbeda, tetapi sama-sama dikenal dalam lingkungan keulamaan dan tradisi pendidikan Islam Nahdlatul Ulama.
KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
KH. Abdullah Kafabihi Mahrus atau yang akrab disapa Kiai Kafa merupakan salah satu ulama sepuh yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Lirboyo merupakan salah satu pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi pendidikan Islam dan kajian keilmuan keagamaan. Kehadiran Kiai Kafa dalam lingkungan pesantren menempatkannya sebagai salah satu figur yang dihormati di kalangan santri dan masyarakat.
Tradisi pesantren yang kuat menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama, termasuk dalam menjaga kesinambungan keilmuan ulama dari generasi ke generasi.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj merupakan ulama yang dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama dua periode, yakni 2010 hingga 2021.
Dalam perjalanan dakwah dan pemikirannya, Said Aqil dikenal aktif menyuarakan gagasan Islam yang moderat serta memperkenalkan konsep Islam Nusantara.
Pengalamannya memimpin PBNU menjadikan Said Aqil sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan organisasi pada era sebelumnya.
KH. Afifuddin Muhajir
KH. Afifuddin Muhajir dikenal sebagai ulama yang memiliki kepakaran dalam bidang fikih dan ushul fikih.
Fikih merupakan bidang keilmuan yang membahas hukum-hukum Islam, sementara ushul fikih membahas metodologi atau kaidah dalam menggali dan menetapkan hukum Islam.
KH. Afifuddin Muhajir juga dikenal dalam struktur keulamaan NU dan memiliki perhatian besar terhadap pengembangan kajian hukum Islam. Keilmuan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam tradisi intelektual pesantren dan Nahdlatul Ulama.
Menjaga Tradisi Keilmuan NU
Kemunculan kembali nama-nama ulama senior dalam pembahasan menjelang Muktamar NU menjadi pengingat bahwa perjalanan organisasi tidak terlepas dari tradisi keilmuan pesantren dan peran para ulama.
Muktamar bukan hanya menjadi forum organisasi, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan NU serta menentukan arah pengabdian organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Dengan tradisi pesantren, keilmuan Islam, dan semangat khidmah yang menjadi bagian dari identitas NU, Muktamar ke-35 diharapkan dapat memperkuat persatuan serta membawa organisasi semakin memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
