Survei IPO Oktober 2026: Dedi Mulyadi Raih 33,7%, Ungguli Prabowo dan Anies dalam Simulasi Pilpres
SOROTAN PUBLIK — JAKARTA — Hasil survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) mengenai peta elektabilitas tokoh politik nasional menjadi perhatian menjelang Pemilihan Presiden 2029. Dalam simulasi terbuka atau top of mind, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperoleh angka elektabilitas 33,7 persen, diikuti Presiden Prabowo Subianto sebesar 14,5 persen dan Anies Baswedan sebesar 11,3 persen.
Hasil tersebut dilaporkan dalam survei IPO bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih, yang dipublikasikan pada Oktober 2026. Pengumpulan data dilakukan pada 12–20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari berbagai wilayah Indonesia. Penelitian menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen.
Dedi Mulyadi Memimpin dalam Simulasi Terbuka
Dalam simulasi spontan tersebut, Dedi Mulyadi atau KDM mencatat angka 33,7 persen. Prabowo Subianto berada di urutan berikutnya dengan 14,5 persen, sedangkan Anies Baswedan memperoleh 11,3 persen.
Tokoh lain yang disebut dalam hasil survei antara lain Agus Harimurti Yudhoyono dengan 4,3 persen dan Ganjar Pranowo sebesar 4,1 persen. Angka tersebut menggambarkan pilihan responden ketika survei dilakukan, bukan hasil pemungutan suara yang sebenarnya.
Keunggulan Dedi dalam simulasi ini menunjukkan bahwa namanya memperoleh dukungan spontan yang cukup besar di antara responden survei. Namun, hasil tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa ia pasti akan menang atau menjadi calon presiden pada Pemilu 2029.
Simulasi Tertutup Juga Mengukur Dukungan Tokoh
Laporan mengenai survei IPO yang sama menyebut Dedi Mulyadi memperoleh 32 persen dalam simulasi tertutup dengan daftar nama kandidat. Dalam simulasi tersebut, Prabowo mendapatkan 18,4 persen dan Anies Baswedan 12,6 persen. Perbedaan hasil antara simulasi terbuka dan tertutup perlu dipahami berdasarkan bentuk pertanyaan dan pilihan yang disediakan kepada responden.
Karena itu, angka elektabilitas perlu dibaca dengan memperhatikan metode survei, waktu pengumpulan data, karakteristik responden, dan pertanyaan yang digunakan. Hasil satu lembaga survei juga tidak otomatis mewakili keseluruhan dinamika politik nasional.
Gerindra Masih Memimpin Elektabilitas Partai
Dalam pengukuran elektabilitas partai politik oleh IPO pada periode yang sama, Partai Gerindra memperoleh 23,1 persen dan menempati posisi teratas. PDI Perjuangan berada di urutan berikutnya dengan 11,6 persen, disusul Partai Golkar sebesar 10,7 persen.
Temuan ini menarik karena Dedi Mulyadi merupakan kader Gerindra, sementara Prabowo Subianto adalah pendiri sekaligus tokoh utama partai tersebut. Meski demikian, angka elektabilitas tokoh dan partai merupakan dua indikator berbeda sehingga tidak bisa langsung disamakan.
Hasil Survei Bukan Penetapan Kandidat Pilpres 2029
Survei elektabilitas merupakan gambaran preferensi responden pada periode tertentu. Angkanya dapat berubah seiring perkembangan kebijakan pemerintah, situasi ekonomi, kinerja tokoh, dinamika partai, serta proses politik menjelang pemilihan.
Hasil survei juga tidak menetapkan siapa yang akan maju sebagai calon presiden. Pencalonan tetap bergantung pada proses politik dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Oleh sebab itu, hasil IPO Oktober 2026 sebaiknya dipahami sebagai salah satu potret opini publik pada saat survei dilakukan, bukan prediksi pasti hasil Pilpres 2029.
Publik dapat menilai temuan tersebut dengan membandingkannya terhadap survei lembaga lain, memeriksa metodologi penelitian, serta mengikuti perkembangan politik berikutnya secara kritis.
