Serangan Drone Ukraina ke Moskow Disusul Gempuran Rusia ke Sejumlah Wilayah Ukraina
KYIV — Eskalasi serangan jarak jauh antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat pada awal pekan ini. Setelah Ukraina melancarkan serangan drone dalam skala besar ke wilayah Rusia, termasuk Moskow, pasukan Rusia melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah wilayah Ukraina.
Serangan Ukraina pada Minggu, 20 September 2026, terjadi ketika Rusia memasuki hari terakhir pemungutan suara pemilihan parlemen. Pemerintah Rusia menyatakan lebih dari 1.600 drone Ukraina berhasil dicegat, termasuk sekitar 450 drone yang disebut mengarah ke Moskow. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada fasilitas kilang minyak Moskow dan bangunan tempat tinggal. Otoritas Rusia melaporkan tiga orang meninggal di wilayah Moskow.
Reuters melaporkan pada Senin bahwa operasi kilang minyak Moskow yang dikelola Gazprom Neft bahkan terhenti setelah kebakaran terjadi pada unit penyulingan utama akibat serangan drone. Menurut sumber industri yang dikutip Reuters, proses perbaikan dapat berlangsung beberapa pekan.
Serangan tersebut kemudian diikuti serangan Rusia terhadap sejumlah wilayah Ukraina. Associated Press melaporkan bahwa Rusia menyerang Zaporizhzhia dan sedikitnya sembilan wilayah Ukraina lainnya, dengan sasaran yang menurut Kementerian Pertahanan Rusia antara lain pusat logistik, gudang dan pelabuhan.
Kharkiv
Di wilayah Kharkiv, otoritas Ukraina melaporkan adanya serangan Rusia yang menghantam sejumlah permukiman. AP melaporkan sebuah drone Rusia menghantam sebuah rumah di wilayah tersebut dan menewaskan seorang perempuan berusia 45 tahun serta melukai serius anak laki-lakinya yang berusia 13 tahun.
Laporan tersebut menjadi bagian dari rangkaian serangan Rusia pada Senin yang menyasar berbagai wilayah Ukraina.
Zaporizhzhia
Di Zaporizhzhia, serangan drone Rusia dilaporkan merusak sejumlah fasilitas sipil, termasuk gedung apartemen, sebuah universitas dan pusat perbelanjaan. AP melaporkan lima orang mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.
Serangan itu terjadi sehari setelah Ukraina melancarkan operasi drone dalam jumlah besar terhadap wilayah Rusia.
Serangan terhadap Infrastruktur
Dalam beberapa bulan terakhir, infrastruktur energi dan fasilitas industri menjadi salah satu sasaran penting dalam serangkaian serangan kedua pihak.
Serangan Ukraina terhadap fasilitas penyulingan minyak Rusia telah berdampak terhadap sejumlah fasilitas pengolahan minyak. Reuters melaporkan bahwa serangan terhadap kilang Moskow pada 20 September membuat dua unit penyulingan utama mengalami kerusakan dan menghentikan pengolahan minyak mentah di fasilitas tersebut.
Di sisi lain, Rusia terus menggunakan kombinasi drone dan rudal dalam serangan ke wilayah Ukraina. Moskow menyatakan sebagian sasaran yang diserang berkaitan dengan logistik dan fasilitas militer, sementara otoritas Ukraina melaporkan kerusakan pada sejumlah fasilitas sipil.
Kedua pihak secara konsisten memberikan versi masing-masing mengenai sasaran dan tujuan operasi militer. Klaim mengenai sasaran tertentu, terutama ketika menyangkut fasilitas sipil atau muatan kapal, perlu dibedakan dari fakta yang telah diverifikasi secara independen.
Situasi Laut Hitam
Eskalasi juga berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Laut Hitam. Reuters melaporkan bahwa serangan terhadap aktivitas pelayaran dan infrastruktur kawasan tersebut telah mendorong peningkatan risiko bagi perusahaan pelayaran dan pasar asuransi maritim.
Dalam perkembangan lainnya, Rusia sebelumnya mengklaim telah menyerang kapal komersial yang disebut membawa pasokan militer. Klaim mengenai muatan dan rincian operasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen sehingga perlu diperlakukan sebagai klaim pihak Rusia.
Serangkaian serangan terbaru memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina terus berkembang menjadi konflik dengan penggunaan drone jarak jauh dalam skala besar. Sasaran tidak hanya berada di garis depan, tetapi juga mencakup fasilitas energi, industri, logistik, pelabuhan dan kawasan perkotaan.
Di tengah meningkatnya serangan tersebut, korban sipil dan kerusakan fasilitas terus dilaporkan. Perkembangan ini berlangsung ketika perhatian internasional juga tertuju pada upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Sejauh ini, serangan kedua pihak masih terus berlangsung dan masing-masing pemerintah memberikan klaim berbeda mengenai sasaran, kerusakan dan keberhasilan operasi. Karena itu, angka korban maupun klaim militer yang belum diverifikasi secara independen perlu diperlakukan dengan kehati-hatian.
