Kopassus Operasikan Drone V-BAT Buatan AS, Kemampuan ISR Kini Makin Canggih

0
1790054818539-1

JAKARTA — Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat memiliki tambahan kemampuan pengintaian udara melalui penggunaan V-BAT, drone Vertical Take-Off and Landing (VTOL) buatan perusahaan teknologi pertahanan Amerika Serikat, Shield AI.

Keberadaan V-BAT di lingkungan Kopassus menjadi perhatian karena platform tersebut dirancang khusus untuk misi Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR) atau intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

Shield AI pada Januari 2025 secara terbuka menyebut bahwa Kopassus telah melakukan unilateral V-BAT operations, yang menunjukkan bahwa unit tersebut telah memiliki kemampuan mengoperasikan platform V-BAT secara mandiri. Pernyataan tersebut merupakan keterangan dari perusahaan pembuat, bukan rincian resmi pemerintah Indonesia mengenai jumlah unit atau nilai pengadaannya.

V-BAT memiliki karakteristik berbeda dari drone komersial berukuran kecil. Salah satu fitur utamanya adalah kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal. Konsep tersebut memungkinkan drone beroperasi tanpa membutuhkan landasan pacu konvensional.

Menurut spesifikasi resmi Shield AI, V-BAT memiliki bentang sayap sekitar 3,8 meter, bobot maksimum lepas landas 75 kilogram, kapasitas muatan hingga 18,1 kilogram, serta endurance lebih dari 12 jam dengan muatan EO/IR tertentu. Perusahaan juga mencantumkan sejumlah opsi payload dan perangkat misi, termasuk sensor elektro-optik/inframerah, synthetic aperture radar (SAR), SATCOM, serta sistem navigasi yang dirancang untuk menghadapi gangguan.

Kemampuan VTOL membuat V-BAT dapat digunakan dari area yang relatif terbatas. Shield AI menyebut sistem tersebut dapat diluncurkan dan dipulihkan dari lingkungan seperti kapal, area perkotaan, maupun lokasi dengan kondisi lapangan yang tidak mendukung penggunaan landasan konvensional.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan V-BAT menghadapi lingkungan dengan gangguan elektronik. Shield AI melaporkan bahwa platform tersebut telah diuji dalam kondisi peperangan elektronik dan mampu melanjutkan misi ketika menghadapi gangguan GPS maupun komunikasi. Dalam pengembangan otonominya, V-BAT juga dapat menggunakan teknologi Hivemind milik Shield AI.

Bagi satuan yang menjalankan operasi di medan yang beragam, karakteristik tersebut dapat memberikan fleksibilitas tambahan dalam memperoleh informasi dari udara. Drone dapat digunakan untuk mengumpulkan data pengamatan tanpa harus menempatkan personel secara langsung pada lokasi yang memiliki risiko tertentu.

V-BAT sendiri dikembangkan sebagai sistem UAS kelas militer untuk misi ISR. Shield AI menyebut platform ini telah digunakan dalam berbagai operasi dan oleh sejumlah pengguna internasional. Perusahaan juga mencatat kemampuan V-BAT untuk menjalankan misi ketika GPS dan komunikasi mengalami gangguan.

Soal biaya, angka sekitar US$1 juta per unit pernah digunakan dalam sejumlah laporan mengenai V-BAT. Namun angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai harga kontrak pengadaan Kopassus. Nilai sebuah paket pengadaan militer dapat berbeda karena dapat mencakup sensor, perangkat komunikasi, sistem kendali, pelatihan, suku cadang, pemeliharaan, serta dukungan operasional.

Karena itu, nilai pengadaan dan jumlah V-BAT yang digunakan Kopassus perlu dibedakan dari spesifikasi produk yang dipublikasikan oleh produsennya. Hingga kini, informasi terbuka yang dapat diverifikasi lebih kuat menunjukkan kemampuan platform dan pernyataan Shield AI mengenai pengoperasian oleh Kopassus, sementara rincian kontrak Indonesia tidak dipublikasikan secara terbuka dalam sumber yang ditemukan.

Penggunaan V-BAT juga mencerminkan perkembangan teknologi peperangan modern yang semakin mengandalkan sistem tanpa awak. Dalam misi ISR, drone dapat membantu memperluas kemampuan pengamatan, mempertahankan kesadaran situasional, serta mengirimkan informasi dari udara tanpa selalu mengandalkan pesawat berawak.

Bagi Kopassus, V-BAT menjadi salah satu tambahan kemampuan pengintaian udara yang menggabungkan VTOL, endurance panjang, payload modular, dan teknologi otonomi dalam satu platform.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa modernisasi kemampuan pasukan khusus tidak hanya berkaitan dengan persenjataan konvensional, tetapi juga dengan kemampuan memperoleh dan mengolah informasi secara cepat melalui sistem tanpa awak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *