Said Didu Sebut “Kudeta Senyap” Prabowo Bisa Terjadi Oktober 2026, Singgung Aliansi SSB
JAKARTA — Pernyataan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu mengenai kemungkinan adanya “kudeta senyap” terhadap Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2026 kembali menjadi sorotan.
Pernyataan tersebut disampaikan Said Didu dalam wawancara bersama mantan Ketua KPK Abraham Samad di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up.
Said Didu menyebut skenario yang dimaksud bukan kudeta militer secara terbuka. Ia menggambarkannya sebagai gerakan politik yang berlangsung secara perlahan dan senyap untuk melemahkan pemerintahan Prabowo.
Namun, penting dicatat, pernyataan tersebut merupakan klaim dan analisis pribadi Said Didu. Hingga saat ini belum terdapat bukti independen yang mengonfirmasi adanya rencana pengambilalihan kekuasaan terhadap Presiden Prabowo pada Oktober 2026.
Singapura, Solo, Bandung Disebut sebagai “SSB”
Dalam wawancara tersebut, Said Didu juga menyebut istilah “Segitiga SSB” yang menurutnya merujuk pada Singapura, Solo, dan Bandung.
Ia mengklaim terdapat jaringan kepentingan politik dan ekonomi yang sedang membangun konsolidasi. Said bahkan menyebut adanya pertemuan yang menurut sumbernya berlangsung di Singapura.
Namun, ia tidak mengungkap identitas pihak yang disebut mengoordinasikan jaringan tersebut maupun memberikan bukti terbuka mengenai pertemuan yang diklaimnya.
Said Didu mengaitkan unsur Solo dengan kelompok yang diasosiasikannya dengan mantan Presiden Joko Widodo dan para pendukungnya. Sementara unsur Bandung disebut dalam konteks jejaring politik yang belum dijelaskan secara rinci.
Sebelumnya, Said juga menulis di media sosial bahwa telah terbentuk jaringan Solo-Bandung yang menurutnya diatur dari Singapura. Pernyataan tersebut kemudian memicu berbagai spekulasi politik di ruang publik.
Dikaitkan dengan Dinamika Prabowo-Jokowi
Said Didu menilai terdapat perubahan dalam hubungan politik antara Prabowo dan Jokowi.
Ia juga menyoroti ketidakjelasan konfigurasi politik menuju Pilpres 2029 serta posisi Gibran Rakabuming Raka dalam pemerintahan.
Dalam analisanya, Said menyebut terdapat kelompok yang menurutnya tidak sepenuhnya sejalan dengan agenda Prabowo. Ia bahkan menggunakan istilah “pembangkangan struktural” dan “sabotase struktural” terhadap sejumlah pihak di pemerintahan.
Said kemudian menyebut Oktober 2026 sebagai momentum yang menurutnya menjadi “ronde terakhir”.
Meski demikian, tidak ada informasi independen yang membuktikan bahwa dinamika politik tersebut merupakan bagian dari operasi kudeta atau rencana penggulingan presiden.
Dedi Mulyadi Bantah Terkait Jaringan SSB
Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ikut terseret dalam pembicaraan mengenai jaringan SSB karena unsur Bandung yang disebut Said Didu.
Dedi kemudian memberikan respons melalui media sosial. Alih-alih menanggapi dengan serius, ia justru memelesetkan istilah SSB menjadi “Sekolah Sepak Bola Bandung”.
“SSB: Sekolah Sepak Bola Bandung. Bukan SSB yang Bapak maksud yaitu Singapura, Solo, Bandung,” kata Dedi.
Dedi juga membantah memiliki keterkaitan dengan jaringan yang dimaksud Said Didu. Ia mengatakan tidak pernah ke Singapura dan meminta setiap analisis politik tetap memiliki dasar fakta serta argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Prediksi Besar, Bukti Masih Dipertanyakan
Pernyataan mengenai “kudeta senyap” tentu bukan isu kecil. Jika benar terjadi, dampaknya akan sangat besar terhadap stabilitas politik dan pemerintahan Indonesia.
Namun, sampai saat ini narasi tersebut masih berada pada level prediksi dan analisis Said Didu.
Belum ada bukti independen mengenai siapa pelakunya, bagaimana operasi tersebut akan dilakukan, maupun bukti konkret bahwa pengambilalihan kekuasaan sedang dipersiapkan untuk Oktober 2026.
Karena itu, publik perlu membedakan antara prediksi politik, dugaan adanya jaringan, dan fakta yang telah terverifikasi.
Yang jelas, pernyataan Said Didu telah memicu perdebatan baru mengenai arah politik nasional menjelang 2029 dan hubungan antara berbagai kelompok kekuatan politik di Indonesia.
Apakah Oktober 2026 benar-benar akan menjadi “ronde terakhir” seperti yang diprediksikan Said Didu?
Untuk saat ini, jawabannya masih berupa tanda tanya.
